Stasiun Cirebon tampak lengang, mungkin ini efek dari berdesakan di dalam kereta, semua tempat jadi terasa lapang. Waktu masih menunjukkan pukul 03.30 pagi, seandainya ada kereta ekonomi Bandung-Semarang pasti ga akan repot begini. “Kang ke terminal ga?” aku merasa harus bertanya kepada seorang kenek karena aku baru pertama kalinya ke Semarang dan menginjak Cirebon (pagi hari pula). “Wah jam segini blom ada kang, naik becak aja” belum lama selesai ia berbicara datanglah seorang pria tua yang menawari becak yang tanpa pikir panjang langsung kunaiki.
Baru berjalan beberapa saat tiba-tiba aku teringat akan tulisan Pidi baiq, akhirnya kusuruh ia berhenti. “Bapak yang didepan aja pak, biar saya yang Goes” ucapku. Kerutan buingung tampak di salah satu garis di wajahnya. Kerutan tersebut nampak jelas walaupun banyak kerutan lain yang menghiasi wajah tuanya. “Udah adek di depan aja” jawab pria tua tersebut. “kalau bapak gak mau saya ga jadi naik dech, bapak tinggal tunjukin arahnya ja pak” ancamku dengan cepat. Akhirnya setelah beberapa lama berfikir iapun menyetujui usulanku.
Cirebon pagi hari tampak begitu lengang, belum ada motor ataupun angkot yang beroperasi, hanya ‘krincing-krincing’ bunyi becak yang sesekali terdengar di telinga. Bahkan suara ayam jagopun tidak terdengar, mungkin karena baru saja hujan berhenti, sehingga keheningan masih menyelimuti. Perjalanan kami berlangsung cukup singkat, tak banyak yang bisa kita obrolkan selain keadaan keluarga dan sekelumit cerita kehidupan lainnya. “Dah sampai dek, ini terminalnya, kalau ke Bandung tinggal tunggu bis di sini” sahut pria tua itu sambil berdiri dari kursi penumpang. “Oh..sepuluhribu Pak” sahutku sambil mengulurkan tangan meminta uang. Wajah bingung kembali terlihat dari pria tua yang telah menginjak usia lima puluhan itu. “hehe..Nggak ko pak cuma bercanda, ini ongkosnya, terima kasih ya pak” ucapku sambil berjalan meninggalkan wajah bingung itu memudar perlahan. “hatur nuhun dek” ucap
pria tua itu dari kejauhan, dari wajahnya kulihat ada satu guratan senyum walaupun tersamarkan oleh guratan usianya. Azan subuh pun kemudian memisahkan kami dalam balutan keteangan pagi. Ya Allah, begitu banyak hambamu yang menerima beban lebih berat dariku dan mereka tidak mengeluh kepadaMU. Maafkan hambaMu yang seringkali mengeluh dan kurang bersyukur kepadaMu.

























panjanggg tulisannya.. ga ada gambarnya… :p
mana tulisan ‘TA’ nya??? hayoh! sini..! heheh…
Ni tak kasi gambarnya mbak..
ndak tau ni..kmaren2 lg kalut..ga ada ide…
buntu abis..
mohon doanya saja..
cOz lg butuh banyak2 doa…
memang setiap perjalanan selalu meninggalkan kesan sendiri-sendiri yang berbeda-beda ya….semoga selalu bisa mengambil ibrah dari setiap perjalanan…
dasr lu, orang tua di kerjain.
tapi, Q salut sama lu, sangat dermawan banget..