Masih sama seperti dulu, tahun lalu tepatnya. Ku pandangi langit di penghujung tahun 2008 dari balkon lantai 4 sebuah asrama tua. Menatap tiap sudut kota Bandung yang penuh dengan kerlipan lampu berwarna cerah dari tiap jengkal jalanan kotanya. “Duoor…!!” sebuah kembang api pertama meletus indah dari kejauhan, teramat indah hingga tak hiraukan ribuan anak jalanan yang masih terlantar di negerinya. “Duaarrr…!!” semburat cahaya hijau disusul bunyi dentuman yang terlihat angkuh memenuhi angkasa, sangatlah angkuh sehingga tak meninggalkan kesan apapun kepada lebih dari 30an juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan.
“Duaarr…!!!” letusan merah kembali muncul, di iringi dengan satu, dua, tiga dan letusan dan puluhan cahaya lainnya bergantian seakan lupa bahwa lebih dari 10 juta anak negeri putus sekolah, 10 juta angkatan kerja menganggur, semburan lumpur masih tak terhenti, 18 ribu orang terjangkit kolera di Zimbabwe, 370 terbantai di Gaza, dan banyak hal lainnya.
Kembang api dan sekitarnya
Januari 1, 2009 oleh sandibayuperwira

























ya,angkuh nya manusia…
malam pergantian tahun tak kan bermakna apa-apa selain orang2 yang menyadari bahwa d kala itu makin berkurang kesempatan untuk hidup d dunia…
Let’s make this year more useful for ourselfs and the others arround us…
saya telah menemukan satu lagi kawan yang masih perduli dengan keadaan rakyat, dimana jika kita tahu kebenaran dan kenyatan hidup yang harus diperjuangakan untuk menjadi benar! kita telah melihat dan mendengar maka kita pun sudah tak bisa lagi berpaling, tak bisa lagi menutup mata dan telinga bahkan jeritan hati ini pun mecoba untu keluar menjadi teriakan yang membangkitkan kesadaran !
kemiskinan memang merajai negara kita keangkuhan dan kesemena-menaan menari diatas perihnya perut yang kelaparan, kaki yang pecah karena panas bumi dan bahu yang terus membungkuk karena beban hidup yang terus meningkat…tapi siapa yang peduli…semua orang ingin tertawa lantang semua orang ingin menatap gemerlapnya dunia…tanpa sadar dibawah kaki mereka ada puluhan juta jiwa yang menanti sekilas senyuman ikhlas memohon iba dan berharap penerangan.
sementara yang berkuasa merayakan kemenangan bersaing menutupi kesalahan, dibawah kelopak mata kita ada yang kehilangan segalanya keluarga harta dan tempat tinggal.mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan warna kulit yang semakin gelap, mata cekung, kulit menipis, isak tangispun sudah tiada guna lagi dan DIA masih bisa tertawa dengan bahagia memandang indahnya dunia yang sekarang berada digenggamannya,sejuta impianpun akan segera diraihnya…sekali lagi yang lain hanya bisa memandang dari bawah dengan mata cekung dan lebam oleh air mata.