Matahari belum lama meninggi, namun sudah cukup untuk hangatkan ibu kota Jawa Barat ini. Mahasiswa-mahasiswi sudah hiruk pikuk dalam aktivitasnya masing-masing, meraih mimpi-mimpi yang di canangkan kian tinggi untuk negeri. Semua cita-cita rasanya bisa dicapai di sini. Tak ada yang yang mustahil. Mulai dari Presiden RI, pengusaha, sampai dengan politisi sepertinya cukup dekat jika diraih melewati bangku universitas. Namun agaknya cita-cita tersebut tidak bisa dimiliki oleh semua anak negeri.
Reza dan Rahmat adalah contoh kecil dari ketidakmerataan kesempatan pendidikan di Indonesia. Kakak beradik yang masing-masing menginjak kelas 3 dan 4 SD itu harus meninggalkan pendidikannya di sekolah dasar karena ketidakmampuan ekonomi orang tua mereka untuk menanggung biaya pendidikan. Tiap paginya mereka harus berkeliling sambil memanggul karung bekas untuk diisi dengan pelbagai barang rongsokan seperti plastic, kardus, dan besi-besian. Jangankan untuk membiayai kebutuhan pendidikan seperti buku, tas, dll, untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari saja keluarga mereka harus mencukupkan diri dengan ± Rp. 50.000/3 hari, itupun jika hasil rongsokan yang didapat cukup banyak. Mungkin sekarang beban pembiayaan pendidikan telah sedikit terobati dengan adanya bantuan operasional sekolah (BOS), namun pada kenyataannya biaya pendidikan masih cukup besar untuk sebagian kalangan seperti keluarga Reza dan Rahmat. Ditambah lagi program SSN (Sekolah Berstandar Nasional) yang mewajibkan setiap kelas untuk hanya menampung kurang dari 30 siswa seolah membenturkan antara kesempatan dengan kualitas pendidikan. Pilihan lain untuk mendapatkan pendidikan tentunya beralih ke sekolah swasta yang cukup murah, namun tetap saja dibandingkan sekolah negeri biaya di sekolah swasta cukup untuk membuat keluarga mereka mengencangkan ikat pinggangnya.
Tentunya dengan banyaknya hambatan dalam pemerataan kesempatan pendidikan di negeri ini tidak boleh membuat kita surut untuk memperbaikinya. Pendidikan di Indonesia membutuhkan peran aktif masyarakat yang sadar dan peduli akan pentingnya pendidikan untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan dan kuantitas kesempatan pendidikan. Karna dengan menjunjung tinggi pendidikan berarti kita telah menjadi air dalam gelombang perubahan Indonesia menjadi lebih baik.
Kini Reza dan Rahmat telah melanjutkan pendidikannya di bangku Sekolah Dasar Al-Falah Bandung atas bantuan dari Program Anak Bangsa. Semoga kedepannya semakin banyak masyarakat yang turut andil dalam membantu anak-anak negeri untuk mewujudkan cita-citanya.

Tersenyumlah adik-adikku…
Harapan itu masih ada…

























lama ga’ mampir ke blog ini..(maklum skrg jarang nge-net..sekalinya nge-net cuma bentar bgt..)
apa kabar Pak? banyak perkembangan niy..
naaah, gitu dong…sesekali mencermati pendidikan di negara kita..pusying yak??
(batin saya: uuhhh,,Rasulullah dulu lebih berat Neng!!!)
eh, gmn kbr laundry teh? kereng eung… bisaan cari kesempatan..
oiya, I’ll do my homework from u as soon as possible!! insyaAllah…wait for the new news..ok?hee..
Iya euy..
lieur jg ternyata sistem pendidikan di negeri kita nih..
1 sekolah ja ternyata ad yg sampe cm kepseknya doang yg PNS, sisanya honorer..
padahal mereka udah entah berapa taun mengabdi di sana….