Bis Bandung-Cirebon mulai melaju dengan kecepatan sedang menembus jalan lantaran banyak kendaraan lain yang semakin padat mengisi jalan-jalan menuju kota Bandung. Sepeda hitamku pun bergoyang harmonik di dalam Bis, menari-nari beraturan mengikuti kelokan jalan raya yang dilaluinya, tampak berusaha menikmati perjalanan yang akan dilaluinya. Aku tentunya tak ingin kalah, kucoba untuk sedikit demi sedikit meredupkan cahaya mata, agar cepat terlempar menuju dunia mimpi sambil menikmati pemandangan dari kaca belakang.
“Duk..” kepalaku terbentur kaca bis, menyadarkanku dari kantuk yang baru hinggap. Kucoba lihat sekitarku, pemandangan ruko-ruko pinggiran Bandung trelah berubah total, menjelma menjadi jurang yang dalam di kanan dan tebing tinggi di kiri. Bis tak terlihat menurunkan lajunya, malah terasa tambah laju dan bergoyang di kelokan-kelokan. Jalan Cadas Pangeran tampak begitu kokoh berdiri di atas batuan gunung. Jalan sepanjang 3 km ini hanyalah bagian kecil dari 1000 km megaproyek Anyer-Panarukan milik Daendels, namun memakan korban hampir setengah (lebih dari 5000 jiwa) dari korban kerja rodi. Bis masih meliuk liuk dengan tajam di selingi dengan rem mendadak karena di balik tikungan ternyata ada bis lain yang juga melaju dengan kecepatan tinggi menyalip kendaraan di depannya. Para penumpang tampak waspada, tak ingin memalingkan sedetikpun pandangannya dari depan jalan. Beberapa bahkan ada yang hampir berteriak jika tidak segera menutup mulutnya dengan tangan. Sepertinya supir bis Bandung-Cirebon nantinya banyak yang akan masuk surga, bagaimana tidak, setiap melewati kawasan Cadas Pangeran mereka membuat sebagian penumpangnya ingat akan mati dan berdoa kepada Allah.
Cirebon tampak begitu terik, matahari sudah hampir tergelincir dari titik puncaknya meninggalkan embun pagi yang telah lama menguap. Bersatu di angkasa menjadi segerombolan awan yang berarak mengisi sudut, sudut bumi. Kukayuh sepedaku menuju ke selatan kota Cirebon. Ternyata tak sulit untuk menemukan arah arah jalan menuju kuningan, aku hanya melaju lurus dan mengikuti papan penunjuk arah berwarna hijau di pinggir jalan maka dengan kurang lebih 30 menit saja kita telah berada di jalur –Cirebon-Kuningan. Pemandangan di awal lajur ini cukup indah, sisi kiri dan kanan jalan hanyalah hamparan hijau yang cukup asri, hanya saja entah kenapa jalur yang kulewati dari tadi terus mendaki tanpa satupun jalan datar, apalagi jalan menurun.
Dua jam lebih sudah aku mengayuh, tubuhku sudah basah akan keringat. Siang seakan tak mau sedikit berkompromi, matahari terasa tambah terik dan gerombolan awan tak ada yang mau menghalangi cahayanya sejenak untukku. Karena merasa letih, akhirnya kuputuskan untuk sejenak beristirahat di bawah pohon rindang di sisi kiri jalan. Kedua kaki kuluruskan sambil menenggak air mineral dari botol 1,5 l. Mataku liar, menatap sisi lain jalan raya. Menerawang jauh. Menatap hijau pekarangan padi, dan tebu yang terlihat terkotak-kotak bergantian mengisi hamparan hijau di depan mata. Tubuhku terasa lemas, seakan tidak ingin lagi melanjutkan perjalanan. Beginilah manusia, seringkali berapi-api menentukan tujuan, namun saat menemui rintangan di tengah perjalanan kadang menyesal telah memilih. Tapi bagiku saat telah menetapkan arah tujuan, saat telah memilih sesuatu yang diyakini, maka tak ada alasan untuk kembali. Apapun alasannya tetap tak ada alasan untuk kembali.
Setelah lelah sedikit terobati oleh pemandangan sekitar, perjalanan akhirnya dilanjutkan kembali. Apalagi ditambah tenaga yang baru didapat saat beristirahat di pesantren Al-Muttaqin, rasanya perjalanan 24 jam bisa diarungi tanpa henti (asalkan tidak ada dakian.haha..). Perkebunan tebu dan sawah masih terus bergantian mengisi sisi kiri kanan jalan meski jalan menurun belum juga tampak, awan kelabu tipis mulai bergerak menghalangi matahari yang menunjukkan pertanda hujan akan segera turun sedikit member keringanan. Lelah yang mulai timbul tenggelam kuobati dengan menenteng sepeda sambil menyampaikan senyum ke penduduk sekitar.
Alhamdulillah kini pemukiman penduduk mulai terlihat ramai, akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya ke salah seorang ibu yang kebetulan sedang menyendiri di depan rumahnya. “Bu Punten, kalo ke Jalaksana masih jauh gak ya?” tanyaku sambil menyunggingkan senyuman ke arahnya. Dengan tatapan yang antusias wanita paruh baya tersebut menunjukkan arahnya “Oh ke sana aja dek luruss, masih jauuuh ko”. Waduh celaka pikirku. Orang sunda itu sulit dipercaya jika ditanya soal jarak. Saat mereka bilang dekat saja itu berarti masih jauh, apa lagi mereka bilang jauh plus di tambah 3 harokat di huruf “u”. Dengan sedikit agak menyesal karena telah bertanya ku kayuh kembali roda sepeda melewati jalan yang masih juga mendaki. Sempat terpikir untuk menitipkan sepeda ke DPC PKS setempat (karna di pinggir jalan) lantas melanjutkan dengan kendaraan umum, namun segera kusingkirkan pikiran itu dan kembali mengarungi jalan penuh dakian ini.
Pukul 16.30 akhirnya sampailah aku didepan gerbang pesantren Husnul Khotimah. Disambut dengan 2 orang satpam yang Nampak sedang sibuk melayani absen siswanya. Sambil terengah-engah lantaran mengarungi dakian akupun meminta izin untuk duduk terlebih dahulu sambil kembali mengambilb air dari botol mineral 1,5 l ku. “Pak saya mau daftar buat jadi santri masih bias ya pak?”, tanyaku sablil mengatur pola nafas yang mulai kembali berirama. “wah jam segini mah udah tutup dek, besok pagi ja balik lagi, emang dari mana..?” jawab salah seorang satpam bertubuh tegap. Tanpa pikir panjang akupun tersenyum sambil sedikit tercengang saat mendengar kata kembali “lagi besok”. Dengan sedikit kecewa akupun menjawab “dari Bandung pak”. Serentak kedua satpam itu tersenyum menahan tawa sambil melirik ke arah sepedaku. Namun akhirnya dengan sedikit diplomasi akhirnya aku diantarkan menuju kantor pendaftaran dan diperbolehkan untuk mendaftar meskipun sebenarnya pendaftaran telah tutup semenjak pukul 15.00. “Makasih ya Pak” ucapku sambil mengayuh sepeda kembali untuk pulang
























