Langit bak menunduk di hadapan bukit-bukit yang disapu awan tipis, matahari mulai kehilangan cahayanya dan hanya menyisakan spectrum jingga yang mengisi kelabunya langit sore di Jalaksana-Kuningan. Jari-jari sepeda terus berputar dengan laju meski tanpa kayuhan, mengarungi jalan yang awalnya dilalui dengan perlahan. Melihat jalan yang mulai jarang dilalui kendaraan, kulepaskan pegangan kemudi sepeda dan membuka lebar kedua tanganku sambil merasakan angin yang perlahan mulai terasa dingin memasuki bulu romaku. Bulan tampak indah meskipun hanya sebagian, elok memendarkan sinarnya dari balik kelabunya awan. Sesekali kupejamkan mata sejenak sambil meresapi indahnya masih diberi kesempatan untuk melalui semua ini dan “tes”. Sebulir air jatuh dari langit disusul dengan ribuan lainnya yang perlahan jatuh membasahi bumi dan wajahku. Dan akhirnya rintik gerimis, putaran roda, dan cahaya bulan, menyatu bersama senyuman seorang pria yang melaju kencang di atas sepeda hitam mencoba untuk terus mencari pelajaran dari sebuah perjalanan.

























ea..ea..
bikin novel aj san, berbakat tuh.. hehehe…
dalam perjalanan memang selalu ada hal menyenangkan, yang bisa diambil hikmahnya,,,namun, cukuplah kematian yang menjadi nasihat atas segalanya,,,,
@ Yudi
Penelitian ja belom kelar bro..ntar lah kalo dah kelar..hehe
@ Imas
Makasih atas nasihatnya…