Kali ini saya ingin bercerita tentang salah satu pekerjaan yang cukup saya dambakan saat ini. Pekerjaan ini bukanlah sebuah harga mati untuk saya, namun hanya sebagai motivasi untuk mempersiapkan diri setelah lulus dari ITB. Mungkin akan terdengar aneh saat seorang sarjana Teknik Kimia memasuki sebuah wilayah yang erat kaitannya dalam bidang hukum dan penegakan disiplin. Namun saya rasa itu tak akan menjadi soal, toh sampai sekarang saya merasa bahwa dunia teknik kimia masih mempunyai cukup banyak lahan untuk dikorupsi oleh kelompok/orang yang tidak bertanggung jawab terutama dalam hal proyek pembangunan ataupun pengembangan suatu industri. Sementara itu penegak hukum yang ada sekarang cukup banyak tidak mengerti tentang dunia keteknik kimiaan dan seluk beluk kesempatan penyelewengannya.
Banyak hal yang membuat saya tertarik ke dalam dunia penegakan hukum ini. Salah satunya adalah karena saya cukup senang melihat orang lain merasa gelisah, apalagi yang merasa gelisah tersebut adalah orang jahat. Dengan menjadi seorang anggota KPK saya ingin mencegah para koruptor untuk berbuat dosa (Korupsi termasuk dosa kan), apa lagi dosa tersebut berimbas terhadap orang banyak. Korupsi di negeri kita ini agaknya telah menjadi duri dalam daging yang telah dibungkus rapi dengan kulit sehingga dari luar terlihat cukup apik namun di dalamnya masih banyak kecurangan-kecurangan yang terjadi. Bahkan bibit-bibit korupsi sudah mulai menancapkan akarnya sejak kita kecil sehingga setelah kita dewasa terkadang korupsi telah menjadi sebuah hal yang biasa. “Hukuman terberat dari sebuah dosa adalah tidak merasa berdosa” kata-kata itulah yang sempat saya baca dari sebuah artikel dalam buku ‘Jalan cinta Para Pejuang’. Mudah-mudahan dengan menjadi seorang anggota KPK saya dapat meringankan hukuman bagi para koruptor dengan memberikan rasa was-was dan berdosa saat melakukan korupsi dan membuat jera saat tertangkap oleh kami. Dengan begitu semoga saya tidak menjadi orang yang merugi karna tidak menasihati sesama (QS 103 :1-3).
Untuk menjadi seorang pemberantas korupsi tentunya tidak cukup dengan masuk KPK lantas kita bisa dengan mudah memberantas korupsi. Pemberantasan korupsi haruslah dimulai dari saat ini dan dari diri kita sendiri. Jika sekarang saja kita tidak bisa memberantas sifat korup dalam diri kita mana mungkin nantinya kita bias memberantasnya. Kebiasaan itu telah saya mulai dari hal-hal kecil di sekitar saya. Saya sudah tidak pernah mencontek saat ujian sejak kelas 2 SMA, selain itu selama saya kuliah saya tidak pernah ‘titip absen’ ataupun mau untuk ‘dititipkan absen’. Kebiasaan mencontek waktu ujian saya hapuskan dengan duduk paling depan pada waktu ujian sehingga tidak ada kesempatan sama sekali untuk mencontek. Selain itu saya juga memiliki paradigma ‘dari pada titip absen, lebih baik tidak lulus mata kuliah itu’ namun tentu saja alangkah lebih baiknya jika lulus dengan nilai memuaskan dengan tidak mencontek dan tidak titip absen.
Tentunya dengan menghilangkan sikap korup dalam diri kita belumlah cukup untuk memberantas korupsi. Dibutuhkan pengetahuan tentang akutansi, keuangan, hukum, dan trik-trik kejahatan korupsi. Alhamdulillah untuk masalah pengetahuan tentang akutansi telah saya dapatkan saat saya berada di biro toko Asrama Bumi Ganesha ITB. meskipun untuk istilah-istilah ekonomi masih banyak yang tidak saya ketahui namun itu bisa didekati dengan konsep neraca massa dan energi yang telah saya dapatkan pada tahun ke-2 di teknik kimia ITB. Untuk masalah hukum saya telah belajar cukup banyak sebagai anggota legislatif di lingkungan KM ITB sebagai seorang anggota Kongres KM ITB dan Senator HIMATEK. Selain itu pergaulan saya yang luwes juga membuat saya berkawan dengan teman-teman yang ‘mampu’ berbuat curang dengan mulus alias tidak terendus oleh aparat seperti tim sukses Capres yang mencari celah hukum untuk mengangkat calonnya ataupun calo SPMB yang berhasil mengecoh banyak orang. Dengan mengetahui berbagai cara dan motiv dalam melakukan kejahatan tentunya dengan begitu saya dapat dengan mudah membaca cara-cara yang dilakukan seseorang untuk melakukan penyelewengan. Oh iya satu lagi daya tawar saya adalah saya tidak bisa bermain golf, jadi tidak perlu takut akan terkena skandal dengan seorang caddy.hehe…
Dalam menegakkan kebenaran tentunya tidaklah mungkin bagi saya untuk melakukannya seorang diri. Butuh seorang pendamping yang mampu meneguhkan hati saat ancaman-ancaman penguasa berusaha menutupi kejahatannya, serta butuh seseorang yang mau bersusah payah saat godaan gemerlap dunia ditawarkan untuk mengganti keadilan. Seseorang tersebut bernama “Istri Shalehah”(Istighfar San, ngomongiin KPK tp ujung2nya beginian, tp gpp ini penting ko). Mungkin nanti di criteria calon pasangan bisa di tambahkan kalimat “Anti korupsi” di samping kriteria-kriteria lainnya.
Akhir kata sya ingin meminta doa dari para pembaca agar apa yang saya cita-citakan dapat berguna bagi Agama, bangsa, dan umat. Untuk membuka jalan tersebut saya menerima masukan, saran, dan informasi tentang perekrutan KPK.


























http://117745eva.wordpress.com/2009/05/15/yang-tersisa/
klik itu dan kamu akan temui juga komunitas yang “Anti Korupsi”. Keren ya Bapak-bapak kita di dewan..
BTW, ada lagi kepanjangan lain dari KPK: Kompenten, Profesional, Kontributif. masih jadi Sekjend BKKMTKI? nah, harus punya KPK juga tu..
Heum.. akhirnya ada juga posting yang ga apatis..
Stuju san.. Dan yang terpenting jangan jadi apatis karena idealisme..
Ide harus diperjuangkan, tapi kebenaranlah yang harus diikuti.. Jangan karena ide pribadi banyak kebenaran yang tertutupi dan tidak diakui (ciri – ciri orang apatis)
Dah banyak rekan2 kita yang menjadi apatis karena berusaha idealis.. Bahkan di BG sendiri..
Smangat bos..!!
@ Imas
mantaph lah..
@ Farid
Emang tulisan mane bro yg apatis..?
ntar dikabarin ya
dsini suka mampir kok orang KPK
@ Icha
waaah makasih banyak icha..mau donk di tanya2in k mreka..
Wah. Sungguh mulia cita-cita itu. Tuhan mendengarnya.
TOLONG DONG…CARIKAN INFO BAGAIMANA CARANYA MENJADI ANGGOTA KPK,