Adalah “Universitas Brawijaya”, sebuah tempat yang telah saya tuju semenjak menginjak bangku SLTA. Bahkan sampai lulus dari SMAN 1 Serang pun saya masih menginginkan berkuliah di sana. Bukan dengan tanpa alasan tentunya, selain memang berniat untuk kembali ke tanah kelahiran, saya juga tidak merasa mampu meraih ITB, UI ataupun UGM yang merupakan tempat bagi siswa-siswi terbaik. Selain itu biaya yang dikeluarkan untuk berkuliah di 3 universitas tersebut bisa dibilang mustahil untuk dapat dipasok sampai akhir. Jadi, tentulah PMDK Teknik Mesin Brawijawa adalah pilihan rasional.
Ternyata manusia memang hanya bisa berencana. Teknik Mesin Unbraw tidak saya dapatkan, mungkin karena memang nilai kimia di raport saya pernah mencapai nilai yang cukup fantastis, yaitu 5. Jadi tentu wajar jika Bapak-bapak di Brawijaya tidak menerima saya.
Berawal dari kepanikan tidak diterima di universitas manapun, akhirnya saya mulai belajar dengan sungguh2 dan mengikuti intensif di Nurul Fikri untuk memantapkan kompetensi saya. Berhubung kocek yang saya miliki tak begitu banyak maka sayapun harus memutar otak untuk menutupi kekurangannya. Alhamdulilah mungkin memang sudah jalannya, seorang kawan memberikan saya formulir SPMB dengan harga murah, sehingga uang sisanya dapat saya pergunakan untuk menutupi biaya di NF. Semoga Allah membalas kebaikanmu kawan.
Teknik Kimia, sebuah jurusan yang bahkan tak saya mengerti sebelumnya. Seorang kawan menyarankan untuk mengambilnya karna melihat ketertarikanku pada kimia dan fisika. Tak tanggung-tanggung, Teknik Kimia ITB. Bukan lainnya. Sungguh aku sangat berbahagia setelah mendapat ilmu di dalamnya. Semoga Allah merahmati beliau.
“Man Jadda wa Jada”. Dulu bahkan aku tak mengerti apa arti kalimat ini. Namun Allah membuatku mengerti, Dia tak menunjukkan kekuasaanNya hingga aku mengerti dan memahami apa arti kata tersebut. Sungguh, Dia mengajarkan kepadaku dengan begitu baik, dengan metode yang tak akan pernah dilupakan oleh seorang pelupa sepertiku.
Diterima di ITB bukanlah akhir dari perjuangan. Karna biaya hidup di bandung tentulah membutuhkan biaya yg tidak sedikit. Ditambah tiap semester harus membayar uang kuliah yang lebih tinggi dibanding UI ataupun UGM (meskipun begitu biaya masuk ITB lebih murah hanya 800rb di awal masuk). Tapi Alhamdulillah sekali lagi, saya mendapatkan beasiswa dari program TPSDP sebesar 1,5jt, sehingga uang semester menjadi lancer. Selain itu saya juga bersyukur karena dapat memasuki Asrama Bumi Ganesha yang pada waktu itu hanya berbiaya Rp. 64.000/bulan. Bukankah rejeki itu memang dating dari arah yang tidak kita sangka..?
“Nikmat Allah manakah yang kamu dustakan..?”


















selamet datang deh di lingkungan teknik kimia.. wahahahha…
salam…
Halo,
Salam kenal. Kami menemukan blog kamu ini, setelah menelusuri tautan, dari salah seorang sahabat blogger. Kebetulan, kami memang ingin menyapa mahasiswa dan alumni ITB, yang biasa berbagi rasa dan ilmu di media daring ( blog) maya.
Kami dari masukitb.com, ingin mengajak blogger yang sedang atau pernah menjadi warga Kampus Ganesha, untuk membagi pengalamannya, bisa berupa artikel teks, foto, bahkan video, seputar kehidupannya, selama belajar di Kampus Ganesha.
Masukitb.com adalah tampilan kehidupan Kampus Ganesha ITB, wadah bertanya, berdiskusi, dan berinteraksi, antara para mahasiswa atau alumni ITB, dengan para pelajar SMU dari seluruh Indonesia, yang berminat menjadi bagian dari komunitas ITB. Kami memahami, bahwa banyak sekali yang berminat menjadi warga kampus Ganesha, dan semoga media maya ini, bisa mengurangi kasus salah jurusan, serta membuat siswa SMU lebih mempersiapkan diri, dengan segala dinamika pembelajaran, di Kampus Ganesha.
Terima kasih banyak, atas kesediaan Kamu untuk berbagi dengan para pelajar SMU se-Indonesia, semoga kebaikannya bisa bermanfaat untuk semua.
Divisi Teknologi Informasi
Layanan Produksi Multimedia (LPM USDI)
Jl. Ganesha No. 10, TVST Building
Bandung 40132, Indonesia
Phone : +62 22 4254012
@ nino
selamat keluar maksudnya..hehe..
@ masuk itb
yap2 baru saja bergabung..