Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2008

BOLANG

Kontras. Mungkin hanya kata itu yang dapat menggambarkan kehidupan anak-anak dewasa ini. Pagi ini saat matahari belum sempurna di hadapan mata, televisi menangkap sinyal dari sebuah stasiun TV yang menyiarkan program berjudul “BOLANG”. Bukan nama sepasang calon Presiden-Wakil MWA yang sekarang sedang berkampanye di Pemilu KM-ITB tentunya, namun acara ini (Bocah Petualang) adalah acara yang banyak menceritakan kehidupan anak-anak yang tinggal di sisi jauh Indonesia. Dari wajah-wajah mereka aku dapat melihat guratan senyum tanpa goresan luka pendewasaan yang terlalu dini. Dari wajah mereka aku melihat detik-detik kenangan masa lalu anak kecil 10-15 tahun yang lalu yang mungkin agak sulit ditemukan oleh anak-anak pada masa sekarang ini. Masa-masa itu meninggalkan kenangan kebahagiaan yang tak terlupakan. Masa-masa itu, dimana permainan dilakukan atas dasar persahabatan dan bukannya permainan elektronik yang mengkungkung anak untuk tinggal di rumah terus-menerus seperti sekarang. Masa-masa itu, dimana kita masih dapat mendengar lagu “Lir-ilir” ataupun “di obok-obok” (Joshua) dari anak-anak sekitar dan bukannya “Kucing garong” ataupun “jablai” yang sering didengungkan oleh anak zaman sekarang. Berbeda sekali bukan? seberbeda tayangan-tayangan televisi dahulu yang banyak menggambarkan semangat persaudaraan dan pembelajaran dengan siaran eksploitasi anak, gosip, horor, dan sinetron yang mengeksploitasi kecantikan remaja yang dewasa ini sering dipertontonkan di layar kaca ataupun layar lebar. Salah siapa? anak-anak itu? orang tua mereka? stasiun TV? ataukah Pemerintahan? Ah..rasanya tak perlu aku menyalahkan orang lain. Mungkin itu juga merupakan kesalahanku yang ‘hanya’ merindu masa itu.

Read Full Post »

Ibarat Kehidupan

Kehidupan manusia itu bagai titik-titik kecil. Kau bayangkan sebuah kolam luas. Kolam itu tenang,saking tenangnya terlihat bak kaca. Tiba-tiba hujan deras turun. Kau bayangkan ada, berjuta bulir air hujan yang jatuh di atas air kolam, membuat riak. juataan rintik air yang terus menerus berdatangan, membentuk riak, kecil-kecil memenuhi seluruh permukaan kolam. Begitulah kehidupan, bagai sebuah kolam raksasa. Dan manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus, membuat riak. Riak itu adalah gambaran kehidupannya. Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam menit sekian, detik sekian? Ada jutaan bulir air hujan lain, bahkan dalam sekejap riak yang ditimbulkan tetes hujan barusan sudah hilang, terlupakan, tak tercatat dalam sejarah.

Siapa yang peduli dengan anak manusia yang lahir tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian, jam sekian, menit sekian, detik sekian? Ada milyaran manusia, bahkan dalam sekejap, nama, wajah, dan apakan darinya segera lenyap dari muka bumi! ada seribu kelahiran dalam setiap detik, siapa yang peduli dengan kau?

Kalau Kau memandangnya dari segi positif, maka kau akan mengerti ada yang peduli atas bermilyar-milyar bulir air yang membuat riak terseut. Peduli atas riak-riak yang kau timbulkan di atas kolam, sekecil atau sekejap apapun riak itu.

Dan saat kau menyadari ada yang peduli, maka kau akan selalu memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil. Sekecil apapun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab- akibat.

Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan. tak ada yang bisa mengubahnya, kecuali satu! yaitu kebaikan. kebaikan bisa mengubah takdir. Nanti kau akan mengerti betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah menrubah siklus sebab akibat milikmu. Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja.

Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu, seseorang yang tau bahwa kebaikan bisa merubah siklusnya, makan dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik. Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain, tapi dia tetap mengisinya sebaik mungkin.

Kecil-besarnya nilai sebuah perbuatan, langit yang menentukan, kecil-besar pengaruhnya bagi orang, lsngit juga yang menentukan. bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia.

(diambil dari buku “Rembulan Tenggelam di Wajah-Mu”)

Read Full Post »

Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki banyak pertanyaan dalam hidupnya. Pertanyaan itu nantinya yang akan dijawab dalam perjalanan hidupnya, entah itu di awal, tengah ataupun akhir kehidupannya. Setiap orang pasti memiliki kesempatan untuk menerima jawabannya. Entah itu dari buku-buku. Dari penjelasan orang sekitarnya. Dari apa yang terukir di langit. Dari apa yang tergurat di bumi, atau dari apa saja. Namun tidak semuanya mengerti, tidak semua ‘mau’ memahami, dan tidak semuanya peduli. Rehan, seorang anak yatim piatu yang mengalami asam manisnya hidup dan pahit getirnya perjuangan, sehingga mengantarkannya menuju puncak kesuksesannya di waktu yang sangat muda. Dalam menempuh langkah demi langkah perjalanan hidupnya Rehan dihadapkan kepada pertanyaan besar yang tak kunjung jua terjawab oleh waktu yang ia lalui. Lima pertanyaan besar dalam hidupnya. Lima pertanyaan yang ditujukan untuk langit.

Mengapa ia harus di tempatkan di panti asuhan menyebalkan itu?

Apakah dunia ini adil?

mengapa langit tega mengambil istrinya? padahal sebelumnya 2 anaknya juga di ambil

Mengapa setelah ia mendapatkan `semua` yang ada hanyalah kehampaan?

Mengapa Tuhan memberikan sakit yang bertubi-tubi kepadanya, bukannya langsung menjemput nyawanya?

Rehan diberikan kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya di akhir kehidupannya. Ia mendapatkan jawabannya dari bangsal rumah sakit dengan berbagai peralatan medis dan belalai yang melilit tubuh kekarnya. Bukan ia yang menjawab sendiri kelima pertanyaan itu, bukan pula orang-orang dekatnya yang tau setiap detail kehidupannya. namun ia mendapat jawabannya dari orang yang sama sekali tidak ia kenal. Orang berwajah menyenangkan itu memberikan semua pertanyaan besar kehidupan Rehan. Melalui slide-slide kehidupan Rehan yang mampu ia putar kembali dan menyaksikannya dari sudut lain.

Read Full Post »

What money can buy ?

A bed but not a sleep

Computer but not a brain

Food but not a appetite

Finery but not a beauty

A house but not a home

Medicine but not a health

luxuries but not culture

Amusement but not happines

Acquaitance but not a friend

sex but not love

Read Full Post »

Lelaki Hitam Bertudung Hitam

‘Tes…’ setetes air jatuh dari langit kota Bandung yang semakin dingin
terasa. Disusul ribuan lainnya yang semakin membuat kelam suasana penantian malam. Hujan dan senja. Selalu saja menggambarkan sebuah kesedihan, kehilangan, perpisahan, dan harapan akan keindahan yang akan muncul semuanya terlewati.

Seorang lelaki berdiri di depan pelataran sebuah gedung segi 6, para mahasiswa biasa menyebutnya ‘gedung TVST’. Lelaki itu melihat jauh menembus rintik-rintik air yang jatuh di hadapannya. Mendengarkan riak-riak bernada datar yang tak jua mereda sejak tadi. Angin bertiup perlahan, mengoyak helai demi helai rambut ikalnya yang semakin panjang tak terurus. Sesaat ia terlihat melemparkan senyum ke arah daun yang jatuh perlahan, sedikit terhuyung ke kanan lalu berputar ke kiri, lantas beberapa saat kemudian jatuh menghujam tanah yang memisahkan ia dari dahan kuat yang telah lama menggenggam erat tangan kecilnya. Mungkin ia tak pernah mendengar kalimat “Sedia payung sebelum hujan”, sehingga ia harus terus berdiam diri sambil sesekali melihat detak jarum jam di tangan kirinya yang telah berputar beberapa puluh kali.

Lelaki itu mengambil sebuah jaket hitam dari dalam tasnya. Tampaknya waktu telah berhasil mengalahkan kesabarannya untuk terus menunggu awan hitam berlalu dari atas kota itu. Tanpa banyak pertimbangan lagi ia rapatkan jaket hitamnya dan sesaat kemudian mengeluarkan tudung hitam dari balik kerah jaketnya untuk menutupi kepalanya agar tidak terserang hujan. Perlahan ia langkahkan kakinya yang telah cukup lama terhenti, menerobos tetesan demi tetesan air yang enggan menyepi, mendengarkan melodi indah senandung hujan yang menghantam tudung hitamnya, merasakan kembali dinginnya Bandung yang menembus hingga ke dalam kulitnya.

Lelaki hitam bertudung hitam. Mendekap erat jaket hitamnya yang mempunyai dua garis putih di lengan kanannya. Melamun jauh masuk ke dalam pikirannya. Coba tepiskan kenyataan dinginnya temperatur kota Bandung yang di perparah dengan tetesan air yang begitu semangatnya berlomba menyentuh tanah Paris van java.

Langkah demi langkah dilalui, meninggalkan jejak-jejak sepatu di belakangnya. Sesekali terlihat langkah yang agak jauh waktu ia meloncat menghindari genangan air. Namun, nampaknya percuma, toh kalaupun terhindar air tetap akan masuk dari bawah sol sepatu tuanya yang sudah berlubang.

Lelaki itu diam. hening terus bersamanya selama perjalanan pulang. Kedua tangannya menelusup jauh ke saku jaket himpunannya, coba hindarkan telapak tangannya dari air yang tiada henti menetes dari kelabunya langit sore itu.

“Wuzzss…!!! Sebuah mobil melaju kencang di sebelah kirinya. Meninggalkan semburat lumpur di celananya. “Phuh..” Ia hanya menghela nafas panjang, coba meneruskan lamunannya tentang masa kecilnya. Ya. Lelaki itu sedang teringat masa kecilnya. Saat hujan 11 tahun lalu. Ia teringat waktu menenteng payung besar bermotif pelangi, menunggu penumpang di pinggir jalan sambil bermain air bersama kawan-kawannya. Dengan ceria Ia berteriak “mas ojek payung mas” sambil berebut mengerumuni angkot M.20 jurusan Ps. Minggu – Jagakarsa yang hendak menurunkan penumpang. Tak banyak yang ia harapkan saat itu, ia hanya berharap hujan turun semakin deras dan tak akan berhenti. Berharap banyak orang yang bermurah hati dengan memberikan lebih dari Rp. 500 satu kali antar.

“AU..!”Lelaki itu terpeleset plastik yang membuyarkan lamunan masa kecilnya. Entah siapa yang telah membuang kantong plastik di tengah jalan itu, “jika para penduduknya seperti ini tentu pantas jika bandung dijuluki kota sampah” gumamnya dalam hati.

Lelaki hitam bertudung hitam. Mencoba kembali untuk diam. Menerawang jauh lagi ke dalam masa lalunya. Saat ia berumur 8 tahun keluar rumah tiap malam minggu menuju layar tancap di lapangan yang berbeda tiap minggunya. Ya. Saat itu ia pergi ke layar tancap. Ia berangkat dengan berbekal gulungan koran di tangan kanannya, mencoba menawarkan lembaran-lembaran koran untuk alas menonton kepada muda-mudi yang tengah asik menonton layar tancap sambil menggenggam popcorn di tangan kirinya. Bahkan pernah suatu ketika ia tertidur di lapangan dan tiba-tiba saat pagi menjelang ia telah berada di rumah. ”Semalam papa yang angkat kamu dari lapangan” Kata ibunya, tanpa berpikir panjang ia langsung mengecek saku dan merengek ke ibunya karena hasil jualannya berkurang Rp. 300.

Lelaki itu tersenyum dalam ramainya gemericik hujan. Menyadari celana hitamnya telah basah sampai lutut. Masih mencoba menyelam jauh ke dalam masa lalunya. Masa-masa kecil yang entah kenapa sangat ingin ia kenang hingga saat ini.

Saat itu 6 tahun yang lalu. Waktu ia bekerja di sebuah pabrik tahu milik ayahnya, membantu membuka kain dari cetakan tahu putih. Dengan upah yang lumayan untuk tambahan uang jajan ia bekerja tiap hari mulai dari pukul 14.00-17.00.Kadang kali ia tertidur pada bak tahu berwarna biru karna lelahnya selepas pulang sekolah. Pekerjaan itu tak berlangsung lama. Pabrik itu perlahan mengalami kerugian karena banyaknya pelanggan yang berhutang sehingga akhirnya terpaksa harus gulung tikar. Lelaki kecil itupun beralih ke usaha lain yang dimiliki oleh pamannya. Jadwalnya bertambah padat. Ia menjaga selepas pulang sekolah sampai pukul 9 malam. Sejak saat itu malam demi malam ia habiskan dengan mengerjakan PR sambil menunggu di depan komputer operator WARTEL. Kadang kala ada pelanggan yang harus membangunkannya karena ia tertidur karena menunggu pelanggan itu yang sanggup menelpon dengan durasi lebih dari 1 jam.

Tersungging lagi sebuah senyuman di bibir lelaki hitam itu. Kali ini jaketnya sudah tidak sanggup lagi menahan rembesan air yang sejak semula memaksa masuk melewati jaket hitam itu. Hawa dingin pun tak mampu terelakkan lagi. Ia mencoba sekali lagi mengingat masa lalunya. Masa-masa lalu yang ingin selalu ia ingat. Saat-saat harus pergi ke pasar Parung pukul 3 pagi memanggul belanjaan ibunya untuk dijual di warung sayur miliknya, saat-saat menolak minuman keras dari teman-temannya, saat menolak butiran yang belakangan ini ia tahu bahwa itu adalah narkoba, saat diledek teman2nya karena tidak mau merokok, saat harus berangkat sekolah pukul 5.20 tiap harinya, saat sebilah golok mencoba menyabet kawannya yang berjarak hanya 1 meter darinya, saat melihat dari balik jendela ada segerombol lelaki setengah baya mencoba memasuki rumahnya dengan mencongkel kaca, saat melihat tukang ojek yang kepalanya berlumuran darah karena dirampok serta saat-saat lainnya yang tak mampu ia lupakan meskipun ia sangat pelupa.

Lelaki hitam itu mulai menggigil kedinginan. Hujan telah benar-benar mengalahkannya. Ia terus merenung menyesali apa yang telah ia lakukan di sini. Di tempat yang mungkin sangat diidam-idamkan oleh puluhan ribu pemuda lainnya. Tempat yang ‘katanya’ institusi terbaik di negerinya. Tempat yang seharusnya bisa menjadi awal untuk memperbaiki keadaan keluarganya. Ia teringat orang tuanya yang melonjak girang saat menerima transkrip kemajuan studinya di tahun pertama yang menorehkan angka 3,5. Kini ?bahkan angka itu tak pernah melebihi 2 di dua semester berikutnya.

Malam datang tanpa terlebih dulu memperlihatkan senja yang merah merona. Bintangpun seolah disembunyikan dari pandangan manusia. Hanya langit kelabu yang perlahan menghitam menyertai perjalanan sang waktu.

Lelaki kelu bermata sayu

Menangisi bayangan semu masa lalu

Berharap semua kelabu itu

Terhapus oleh waktu

Lelaki hitam bertudung hitam

Menatap sebuah masa depan

Yang temaram

Kelam

Terbenam oleh semua keragu-raguan

Lelaki kelu bermata sayu

mencoba buang semua masa lalu itu

berharap esok mentari kan bersinar

hangatkan semangatnya yang tlah membeku

berharap akan ada keadaan yang lebih baik dari dahulu

Read Full Post »

Wanita dan `Ayat-ayat cinta`

Wanita adalah makhluk yang begitu rumit. Kompleksitas labirin pikiran mererka tampaknya begitu sulit untuk dibaca oleh para lelaki manapun. Mungkin hal inilah yang menyebabkan banyak sekali para pujangga yang mencoba mendalami pola pikiran para wanita. Namun tidak semua pujangga dengan mudah menggambarkan perilaku dan pola pikir dari wanita. Penulis sekondang Andrea Hirata saja tampaknya mengalami kesulitan saat menyelesaikan buku terakhir dari tetralogi laskar pelanginya yang berjudul “Maryamah Karpov” yang sampai saat ini belum terbit di dunia perbukuan.

Senada dengan apa yang dialami oleh Andrea Hirata, seorang Dosen Sejarah Diplomasi Prof. M. Idris Adrianata pun mengungkapkan kerumitan pikiran katanya dalam kalimat “If a diplomat says yes, it means maybe. If a diplomat says maybe, it means no. A diplomat never says no. But if a woman says no, it means maybe. If a woman says maybe, it means yes. A woman never says yes.”

Karena aku adalah seorang lelaki, maka akupun mengalami kebingungan yang sama dengan kebanyakan lelaki lain yang ada di dunia. Tapi tampaknya aku menangkap beberapa hal mendasar yang ada pada diri wanita dari sebuah novel karangan Habiburrahman El Shirazi. Hal tersebut muncul secara tersirat dari ketiga tokoh yang memiliki karakter berbeda yang ada dalam novel Ayat-ayat Cinta. Marilah kita lihat satu persatu ketiga tokoh tersebut.

Noura. Dalam novel itu Noura dikisahkan sebagai seorang gadis Mesir yang mengalami banyak penyiksaan dari keluarganya sampai ke titik nadir kesedihanya Noura berkata “Malam itu aku mengira akan menjadi gelandangan dan tidak memiliki siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris mengetuk pintu neraka dan menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada kuat lagi menahan derita.” Pada titik nadir itu datanglah seorang pemuda yang memberikan pertolongan. Mungkin pemuda itu menira hal tersebut sudah selayaknya untuk diberikan. Tapi karena orang lain tak pernah melakukannya maka iapun bertutur “Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian tiada memiliki siapa-siapa selain Allah di dalam dada, kaulah orang yang pertamadatang memberikan rasa simpati dan kasih sayangmu. Aku tahu kau telah menitikan air mata untukku, ketika orang-orang tidak menitikkan air mata untukku”. Nah lho. Inilah sifat dari wanita yang bisa kita lihat dari Noura. Wanita akan dengan mudah untuk jatuh hati pada seorang laki-laki saat menemukan seorang lelaki yang memiliki perlakuan berbeda terhadapnya. Saat hatinya telah terukir satu nama maka sangat sulitlah untuk menghapus nama tersebut. Sifat ini seperti tertera pada surat Noura “Dalam hatiku, keinginanku saat ini adalah aku ingin halal bagimu. Islam memang telah menghapus perbudakan, tapi demi rasa cintaku padamu yang tiada terkira dalam dada, aku ingin menjadi budakmu. Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka airmatanya, kau helai rambutnya, dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih dari itu.” Dari sini terlihat bahwa saat seorang wanita jatuh cinta, maka ia dapat memberikan segalanya (tapi ga semua wanita lho), mungkin karena sifat inilah yang menyebabkan banyaknya perzinahan (atau yang mendekatinya) atas nama cinta.

Maria. Menurut Fahri Maria adalah seorang wanita kristen koptik yang aneh. Ia belajar banyak tentang keislaman dibanding dengan wanita-wanita islam mesir kebanyakan, tapi ia juga tak pernah absen untuk berangkat ke gereja. “Aku bukanlah gadis yang mudah tertkesan pada seorang pemuda. Tapi entah kenapa aku merasa sangat terkesan dengan sikap-sikapnya. Dan entah kenapa hatiku mulai condong kepadanya. Hatiku selalu bergetar mendengar namanya” hal itulah yang ia tuliskan dalam diarynya. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan yang tak begitu jauh dari apa yang dialami oleh Noura. Kebanyakan wanita memang lebih melihat lelaki dari sikap-sikap yang mereka tunjukkan kepada wanita. Maka dari itu kita mungkin tak begitu heran saat banyak melihat seorang wanita cantik menikah dengan laki-laki yang kelihatannya biasa-biasa saja. Satu sifat lagi yang mungkin dimiliki oleh sebagian besar wanita adalah sifat tertutup. Maria menuliskan hal ini dalam kalimat “Fahri, aku benar-benar tertawan olehmu. Tapi apakah kau tahu apa yang terjadi pada diriku? Apakah kau tahu aku mencintaimu? Aku malu untuk mengungkapkan semua ini padamu. Dan ketika kau kuajak dansa tidak mau itu tidak membuatku kecewa tapi malah sebaliknya membuat aku merasa sangat bangga mencintai lelaki yang kuat menjaga prinsip dan kesucian diri seperti dirimu.” Bahkan rasa cinta yang berlabihan juga ia miliki, hal tersebut terungkap dalam kalimat “Aku sangat mencintainya seperti seorang penyembah mencintai yang disembahnya. Memang memendam rasa cinta sangat menyiksa tapi sangat mengasyikkan.” Untuk para lelaki, hati-hatilah saat berucap adn bersikap. Karena itu bisa jadi membuat hati seorang wanita mengalami goncangan yang sangat dasyat, bahkan saat kita menjaganya (sikap) pun tetap bisa menjadi badai yang begitu besar di hati mereka.

Nurul. Seorang aktivis da`wah yang sama-sama merantau ke negeri Mesir. Dalam aktivitasnya bertemulah ia dengan seorang ikhwan yang mengagumkan yaitu Fahri. Mungkin benar juga kata pepatah jawa “Witing tresno jalaran sako kulino” tumbuhnya cinta karena terbiasa. Jadi, seorang wanita juga cukup mudah terserang virus merah jambu lantaran interaksi yang cukup lama dengan lelaki. Dalam mengungkapkan cintanya, Nurul tak memiliki perbedaan yang jauh dengan Maria. Ia lebih memilih untuk menyembunyikan perasaannya kepada Fahri. Setelah perasaan itu tak terbendung lagi ia kemudian meminta kerabatnya untuk menyampaikan perasaannya itu kepada Fahri. Mungkin sifat Nurul ini bisa kita sederhanakan menjadi “Nembak duluan”. Salahkah? Tentu saja tidak, toh Khadijah juga mengajukan dirinya kepada Rasulullah saw.

Mungkin sifat-sifat ini belum juga mampu mendeskripsikan kompleksitas dari pola pikir para wanita karena sangaat beragamnya keadaan dan kasus yang dialami oleh tiap wanita. Namun setidaknya sifat-sifat tersebut sedikit banyak mampu memberikan gambaran bagi kita para lelaki terhadap pola pikir kaum hawa.

Read Full Post »