Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2008

Pemuda memang memberikan sejarah yang panjang bagi perjalanan kehidupan bangsa Indonesia. mulai dari pembentukan organisasi “Boedi Oetomo” pada 20 Mei 1908 yang hingga sekarang diperingati sebagai hari kebangkitan nasional sampai pada 12 Mei 1998 yang telah membawa negeri Indonesia menuju era baru yang disebut sebagai era reformasi. Di tengah perjalanan pergerakan pemuda tersebut banyak hal yang telah tercatat dengan pena emas sejarah Indonesia. Pada awal 1908 keadaan bangsa sangat buruk dan selalu dianggap rendah oleh bangsa lain. Perilaku para pejabat pribumi yang biasa disebut pangreh praja kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan selalu berpihak kepada penjajah (Belanda) . Dilatari oleh keadaan tersebut maka Pada 20 Mei 1908 didirikanlah sebuah organisasi yang bernama “Boedi Oetomo” oleh beberapa orang pemuda yang bernama Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Berdirinya Budi Utomo inilah yang nantinya akan menjadi awal gerakan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Dua puluh tahun berlalu sejak didirikannya Boedi Oetomo tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, diadakan kongres pemuda II yang menghasilkan sumpah yang begitu kita kenal sampai saat ini yaitu “sumpah pemuda”. Sumpah yang mengajak seluruh pemuda untuk bersatu dalam tanah air, bahasa, dan berbangsa satu inipun akhirnya turut serta berperan membawa negeri ini menjadi negara yang merdeka di tangan pemuda yang bernama Soekarno yang menjadi proklamator di usianya yang telah memasuki kepala 4.

Kemerdekaan, kata soekarno, adalah jembatan emas yang akan mengantarkan rakyat kepada masyarakat adil dan makmur “gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja”. Namun apa boleh dikata, 20 tahun sejak dibacakannya naskah proklamasi di Jl. Pegangsaan Timur 56 itu masyarakat yang adil dan makmur tak kunjung jua tercapai, yang ada malahan inflasi yang naik secara eksponensial menembus orde ratusan persen disertai harga-harga sembako yang kian melejit tidak terjangkau oleh kalangan bawah. Berawal dari keterpurukan yang ada pada saat itu muncullah gerakan pemuda angkatan `65 yang membawa idealisme baru tentang bangsa ini melalui “Tritura”. Lembaran baru sebuah negeri kembali dibuka dengan sebuah era yang disebut sebagai “Orde Baru” dibawah pimpinan Soeharto.

Di bawah kepemimpinan Bapak Pembangunan ini Indonesia berubah menjadi negeri yang ‘aman dalam tekanan’. Ruang demokrasi yang ditutup disertai pembodohan dan pemiskinan masal berjalan selama 32 tahun lamanya. Pada masa ini hubungan Indonesia dengan negeri-negeri kapitalis berlangsung dengan asas “saling percaya”. Negeri kapitalis ‘dipercaya’ untuk mengeruk seluruh kekayaan alam negeri ini dan Indonesia ‘dipercaya’ memegang uang pinjaman dari negeri dan organisasi kapitalis. Hasilnya cukup ‘memuaskan’, Indonesia sebagai penghasil 25% timah, 7,2 % emas, dan 5,7% nikel dunia, hanya mendapatkan cipratan keuntungan kekayaan alam dan banjiran hutang. Bahkan pada tahun 1997 terjadi kesenjangan yang begitu besar, cadangan devisa Indonesia hanya mencapai 16,587 milyar dollar AS, sedangkan total kewajiban sebesar 39,197 milyar dollar AS. `Kegemilangan` orde baru ini akhirnya ditutup dengan pertumbuhan ekonomi sebesar -4% (pada April 1998 ) serta krisis multidimensi. Prestasi terbesar orde baru ini langsung saja disambut oleh pemuda di seluruh tanah air dengan demonstrasi besar-besaran dan menuntut untuk diadakannya “reformasi” yang turut mengakhiri masa kepemimpinan presiden RI ke-2.

Reformasi yang banyak didengungkan oleh para pemuda agaknya belum menyentuh seluruh lini pemerintahan hingga kini. Pemerintahan yang baru hanya sekedar berganti kepala tanpa berganti kebobrokan yang ada di dalamnya pemerataan ekonomi, pendidikan, dan kedudukan dalam hukum masih kalah jauh dibandingkan tingkat pemerataan korupsi yang awalnya berpusat di keluarga Cendana dan kroni dekatnya menjadi ke seluruh ‘cendana-cendana’ daerah. Pengerukan kekayaan alam oleh asing tetap saja dominan terjadi. Dalam sektor migas misalnya, dari 137 perusahaan migas yang ada di Indonesia hanya 20 yang merupakan perusahaan nasional. Meskipun pemasukan sektor migas mencapai 70-80 trilyun rupiah, namun itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan keuntungan sebesar 170 trilyun rupiah/tahun yang diraih exxon ke depannya di blok Cepu saja (detik.com 28 July 2006). Bahkan yang lebih hebatnya lagi UU PMA memberi izin hak guna usaha selama 95 tahun bagi para PMA, sebuah angka yang jauh lebih tinggi dari pada angka harapan hidup rata-rata manusia di Indonesia (70 tahun).

Kini 100 tahun telah berlalu sejak cita-cita kebangkitan nasional dimulai lewat Boedi Oetomo. Keadaan Negeri yang disebut-sebut sebagai ‘zamrud khatulistiwa’ ini kian carut marut. Anak-anak negeri bertelanjang kaki mencari bongkahan emas negeri untuk diserahkan kepada perusahaan asing demi sesuap nasi. Pembodohan moral mewarnai televisi dan layar lebar negeri. Program WAJAR (wajib belajar) semakin hari rasanya berubah menjadi WAYAR (wajib membayar) akibat tingginya biaya pendidikan. Para pejabat berebut momen untuk mencari popularitas dengan ‘membuat album lagu’, menonton AAC, dan yang lebih parahnya lagi sampai ‘kencan’ dengan pemain dangdut. Para artis yang merasa lahan kerjanya diambilpun tak mau kalah dengan mencoba muncul dalam kancah dunia perpolitikan. Melihat keadaan seperti ini sepertinya tak banyak pemuda yang tergerak hatinya untuk memperbaiki keadaan bangsanya. Para pemuda sepertinya sedang memperebutkan sekoin perak dalam istana yang terbuat dari emas dengan memperebutkan gaji besar di perusahaan asing yang mengeruk kekayaan rumahnya sendiri. Pemikiran yang banyak berkembang hanya berpusat pada diri tanpa peduli pada negeri, sehingga membuat gerakan yang ada hanya bersifat parsial.

Jika keadaan ini berjalan terus menerus bukan tidak mungkin 10 tahun lagi Indonesia akan menjadi negeri yang sempurna dikuasai oleh asing dan hanya mampu menjadi kuli di rumah sendiri. Negeri ini akan seperti pengemis yang tidak sadar bahwa mangkuk yang ia gunakan terbuat dari emas. Agar semua itu tidak terjadi maka negeri ini harus benar-benar bangkit melalui pemudanya. Bukan sebagai pemuda Jawa, Sumatra, Kalimantan, Papua, ataupun Sulawesi, tapi bangkit sebagai pemuda Indonesia. Seluruh pemuda tanah air haruslah bersatu dengan memindahkan kerangka berfikir yang berpusat pada diri menjadi berpusat pada negeri, agar negeri ini menjadi negeri yang sejahtera sesuai dengan kekayaan yang terkandung di dalamnya, agar negeri ini menjadi negeri yang besar sebesar jiwanya, serta agar negeri ini menjadi negeri yang maju beriringan dengan ketakwaannya kepada Tuhan YME. Bukankah Indonesia yang turut membantu melunasi hutang Belanda saat ia kalah pada perang dunia kedua?Bukankah Indonesia yang mempunyai garis pantai terpanjang di dunia?Bukankah Indonesia yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah dibandingkan negeri lain?bukankah Indonesia yang menjadi juara dunia saat Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) berhasil menjuarai International Physics Olympiad 2006 (IPhO 2006) di Singapura?Lantas tunggu apa lagi?.

“Bangkitlah negeriku

harapan itu masih ada

berjuanglah bangsaku

jalan itu masih terbentang”

(Shoutul Harokah)

Ditulis oleh :


Sandi Bayu Perwira

Sekretaris Jendral Badan Koordinasi Kegiatan

Mahasiswa Teknik Kimia Indonesia

Read Full Post »

Kebangkitan Nasional

Selamat pagi negeriku
100 tahun yang lalu kita bangkit
80 tahun yang lalu kita bersatu
63 tahun yang lalu kita merdeka
10 tahun yang lalu kita buat perubahan
kini apa yang kita lakukan?
Menanti keterpurukan lantas berjuang?
ataukah menyerah dalam keputusasaan?
Kita harus bangkit kawan…
kita harus bersatu,
kita harus merdeka,
dan kita harus buat perubahan SEKARANG…
Karna tak ada lagi hari esok jika kita tidak berjuang hari ini..

Selamat Hari Kebangkitan..
Semoga tak ada lagi keterpurukan…

“Bangkitlah negeriku
Harapan itu masih ada
berjuanglah bangsaku
jalan itu masih terbentang”
(Shoutul Harokah)

Read Full Post »

Gadis Berkerudung Biru Muda

Langit mengabu. Meninggalkan biru yang sejak pagi terlukis indah di atas sana. Menutupi senja jinga yang mungkin terulang seperti hari kemarin. Akhir-akhir ini hariku tak jauh berbeda seperti yang lalu. Berangkat kuliah, rapat, pulang, tidur. Hari inipun sepertinya tak akan jauh berbeda seperti kemarin kecuali langit yang berubah menjadi abu-abu.

Akupun mengisi slot lingkaran yang masih kosong, mencoba memahami tiap kata yang terlontar dari tiap orang yang hadir pada rapat ini. Belum sempat memahami alur yang telah berjalan, tiba-tiba mataku terhenti pada seseorang yang baru saja memasuki ruangan. Subhanallah. Apakah saat ini aku sedang bermimpi atau mungkin senja yang gelap telah membuat pandanganku kabur? dia seperti seorang bidadari yang turun bersamaan dengan rintikan hujan di luar sana.

Astaghfirullahaladzim…Kucoba tarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan jantungku yang sejak tadi berdetak dengan frekuensi lebih tinggi dari biasanya. Maha suci Allah yang telah menciptakan gadis yang begitu elok seperti yang ada di hadapanku. Begitu sempurna. Wajahnya begitu bersinar seolah-olah guratan kesedihan tak pernah muncul dalam perjalanan hidupnya. Selintas kulihat ia tersenyum ramah. Senyum yang dapat melelehkan hati lelaki manapun di dunia ini.

Ya Allah. Jagalah mata dan hati ini dari apa yang tidak halal bagi hambamu. Sungguh aku tak akan sanggup jika harus memandangi gadis yang ada di hadapanku ini.

Aku coba untuk mengalihkan pandangan ke arah rapat yang semenjak tadi aku tinggalkan. Entah apa yang telah di bahas dari tadi, aku benar-benar sempurna meninggalkannya.

******

“Maaf saya terlambat” ujar seorang gadis berkerudung biru muda. Astaghfirullahaladzim. Itu adalah bidadari yang mengganggu pikiranku beberapa hari ini. Sungguh aku tak percaya apa yang aku alami sekarang. Aku duduk satu lingkaran dengannya. Sebuah hal yang kurasa tidak baik untuk mata, hati, dan pikiranku. “Perkenalkan nama saya ***N dari jurusan X”. Ya Allah. Akhirnya aku tahu namanya dari suara lembut yang diiringi senyumannya.

Akupun lebih banyak menundukkan kepalaku agar tidak melihatnya. Namun entah kenapa rasanya mata ini tak mau menurut, sesekali ia mencoba mencuri sudut pandang ke arahnya. Dan “Arrrggh” mataku tertangkap basah oleh mata elangnya. “Mau dikemanakan mukaku ini?” batinku.

*****

Yah beginilah nasib seorang pemuda yang masih membujang. Sangat sulit sekali untuk menjaga mata yang kian liar melihat apa yang tidak halal baginya. Solusinya?

“Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kalian telah bermampu ba`ah, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mamupu, hendaklah ia berpuasa, sesungguhnya puasa itu benteng baginya” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Ya Allah. Keluarkanlah cintaku terhadap duniaMU dari hatiku, agar aku mampu mencintaiMu dengan sepenuh hatiku melebihi cintaku kepada ciptaanMu.

Read Full Post »