Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2008

SEBUAH PERJALANAN (Part 1)

Lolongan kereta telah menyatu dengan dernyit rel baja. Perlahan meninggalkan mentari yang masih belum sempurna meninggi. Cahaya bintang fajar telah pergi, menandakan bahwa sebuah perjalanan panjang telah melangkah bersama pagi. Arti. Aku kembali. Kembali mencari `sesuatu` yang telah lama lari.

Kiaracondong telah lama pergi, tinggal penjual asongan yang silih bergati, melewati gerbong Pasundan tanpa henti sambil menyanyikan lagu perjuangan yang berbeda-beda. Apapun bisa di jual di sini. Gerbong kereta tua ini. Mulai dari makanan seperti nasi bungkus, minuman botol, bahkan ada juga yang menjual do`a. Dengan berbekal satu-dua koin rupiah maka kita akan mendapatkan do`a langsung setelah transaksi dilakukan.

“Ngiiiit…”. Laju kereta terhenti lagi. Kali ini lokomotif telah sempurna meninggalkan Jawa Barat. Tak terasa ternyata aku telah tertidur selama 4 jam tanpa mimpi, tanpa kasur, tanpa bantal, tanpa berbaring, dan tanpa do`a. Rasanya badan ini terasa pegal sekali, mungkin ini akibat siklus harianku yang tak lagi menentu. Tiap malam begadang sampai subuh dan paginya berangkat lagi dan berulang mulai dari UAS sampai sekarang. Sepertinya nanti aku butuh seorang pendamping yang berprofesi sebagai dokter untuk menetralisir efek kebiasaan masa mudaku ini di masa tua nanti. (haha..becanda deng..tapi beneran jg gpp). Tapi rasanya mustahil, karna sampai sekarang tak ada satupun calon dokter yang akrab denganku. (haha…)

Hijau menghampar di kiri dan kananku. Menyiratkan subur dan makmurnya negeriku. Namun agaknya kemakmuran tersebut tidak berjalan beriringan dengan kemakmuran penanam dan rakyat yang hidup di atas tanah tersebut. Beberapa pertanyaan klasik timbul di benakku. Mengapa tanah yang subur ini tidak membawa kemakmuran bagi penghuninya?mengapa alam yang kaya tidak mampu membawa rakyatnya menjadi kaya?dan beberapa pertanyaan lain yang sudah berulang kali muncul. Tapi akhirnya aku sadar bahwa yang penting itu bagaimana kita menjawabnya bukan seberapa banyak kita mempertanyakannya. Kereta terhenti lagi di sebuah stasiun di Jawa Tengah. Akupun berlari ke toilet untuk berwudhu karna waktu zuhur telah datang. Tiba-tiba lonceng kereta berbunyi dan kereta perlahan meninggalkan stasiun. Akupun segera berlari mengejar kereta yang beranjak pergi. “Hup” dengan satu loncatan akhirnya aku berhasil memasuki pintu kereta yang beberapa detik kemudian kembali melaju dengan cepat.

“Dek jadi turun di mana?” sapa seorang Bapak teman ngobrolku sejak berangkat.

“kalau di ‘Sepanjang’ berhenti saya turun di sana Pak. Tapi kalau tidak berhenti ya berarti saya turun bareng Bapak di ‘Wonokromo”.

“Itu sebentar lagi sampai ‘sepanjang’, kayaknya berhenti” lanjut Bapak yagn memiliki dua anak tersebut.

Sesaat kemudian keretapun berhenti di st.Sepanjang Surabaya.

“saya duluan ya Pak!” seuntas senyum kulontarkan bersama kata-kata tersebut.

“Hati-hati dek” ujar Bapak itu sambil melambaikan tangannya ke arahku.

(Tips aman di kereta Api : Kenali sebanyak mungkin orang yang duduk di sekitarmu, SKSD aja. Dengan mengenal orang-orang yang ada di sana dan orang-orang di sana mengenalmu maka dengan sendirinya mereka akan turut menjagamu)

***

KM Labobar merapat diam di depanku. Berdiri dengan angkuhnya di atas hamparan karpet cair yang bergelombang tenang. Satu anak tangga kunaiki dengan do`a, disusul anak tangga lain yang mengantarkanku perlahan ke dalam kapal. Ketenangan yang terlihat dari luar ternyata tidak menggambarkan apa yang terjadi di dalam. Hiruk pikuk calo tempat tidur bersaing alot dengan pedagang saongan yang berteriak “kopi-kopi”, “rokok-rokok”, “pop mie” dll. Karna ini pengalaman pertamaku naik kapal akupun bertanya dimana kelas ekonomi dan bodohnya ternyata aku bertanya ke orang yang salah (calo). Jadilah aku mangsa empuk dari sistem transportasi masal yang kurang baik ini.

Sesampainyua di kapal akupun berkenalan dengan orang yang berada di kanan dan kiri tempat tidurku. Di sebelah kiriku ternyata adalah para perantau yang akan bekerja di sebuah perusahaan timah di makassar. Dia berangkat bersama 15 orang lainnya dari Surabaya, Malang, Lumajang, dan Lamongan dengan bantuan seorang mandor berumur setengah baya. Karena seringnya aku berinteraksi dengan orang-orang ini jadilah aku seperti orang ke 17 yang ingin merantau ke Makassar.

KM Labobar perlahan menjauh dari tambatan. Meninggalkan sudut kota pahlawan menuju ujung kota lain di seberang sana. Riak ombak terbelah sudut haluan kapal yang melaju cepat di atas lautan dalam. Cepat, namun tersamarkan. Dalam, namun ditenangkan.

Beberapa jam telah berlalu sejak kapal mulai berlayar tanpa layar (karna ini kapal mesin). Kurasa aku mulai dikenal dan mengenal orang yang ada di dek tempatku berada dan rasanya aku bisa mempercayai mereka. Akupun meninggalkan dek menuju buritan kapal. Subhanallah. Kanan-kiriku hanya ada laut diiringi soundtrack deru mesin dan riak air yang terbelah laju kapal. Sayang langit sedikit mendung, namun lama kelamaan bulan sabit rasanya mulai bisa menggantikan bintang yang tertutup awan. Setelah mencari tempat yang bagus untu menyendiri akhirnya akupun duduk menghadap ke laut. Terasa ketenangan mengalir di sekujur tubuhku waktu memandang jauh ke ujung lautan sana. Entah menghadap ke mana, entah ada apa, entah ada siapa. Perlahaan kubuka dan kubacakan kalimat-kalimatNya dan akupun terlarut dalam syahdunya suasana malam dan desir angin yang mengiris hati. (Ada beberapa rasa yang sulit dingkapkan dengan kata-kata, jadi silakan dirasakan sendiri ya..)

***

Pukul 18.00 keesokan harinya kapal sampai di Pelabuhan Makassar. Akupun turun dan mencari tempat untuk kemudian dijemput oleh kawan dari daerah 5 yang khawatir karena dari siang tidak sampai-sampai. (Harusnya kapal datang pukul 15.00)

Read Full Post »