Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2008

Tetap Yakin

Di suatu tempat,
Entah dimana,
Di dunia seseorang menunggumu,
Berdoa seperti doa yang biasa engkau ucapkan sehabis sholat.

Pada suatu saat,
Entah apabila,
Di dunia seseorang merindukanmu,
Berjaga-jaga seperti malam-malammu yang berlalu sangat lambat.

Seseorang menunggu,
Merindu,
Berjaga dan berdoa di suatu tempat,
Pada setiap,
Seperti engkau,
Selalu……

(puisi Ajip Rosidi, “Ular dan kabut”, 1972)

Read Full Post »

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga

Ternyata obrolan kita tentang cinta belum selesai. Saya telah menyatakan sebelumnya betapa penting peranan kata itu dalam mengekspresikan kata cinta. Tapi itu bukan satu-satunya bentuk ekspresi cinta.

Cinta merupakan sebentuk emosi manusiawi. Karena itu ia bersifat fluktuatif naik turun mengikuti semua anasir di dalam dan di luar di diri manusia yang mempengaruhinya. Itulah sebabnya saya juga mengatakan, mempertahankan dan merawat rasa cinta sesungguhnya jauh lebih sulit dari sekedar menumbuhkannya. Jadi obrolan kita belum selesai. Walaupun begitu, saya juga tidak merasakan adanya urgensi utk menjawab pertanyaan ini : apa itu cinta ?

Itu terlalu filosofis. Saya lebih suka menjawab pertanyaan ini : bagaimana seharusnya anda mencintai ? pertanyaan ini melekat erat dalam kehidupan individu kita.

Cinta itu bunga; bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita. Taman itu adalah kebenaran. Apa yg dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan, dan memekarkan bunga-bunga adalah air dan matahari. Air dan matahari adalah kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberinya gelora kehidupan. Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yg bergulir secara sadar di atas latar wadah perasaan kita.

Maka begitulah seharusnya anda mencintai; menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini : menghidupkan. Anda mungkin dekat dengan peristiwa ini ; bagaimana istri anda melahirkan seorang bayi, lalu merawatnya, dan menumbuhkannya, mengembangkannya serta menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan.

Bila anda ingin mencintai dengan kuat, maka anda harus mampu memperhatikan dengan baik, menerimanya apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin, kemudian merawatnya..menjaganya dengan sabar. Itulah rangkaian kerja besar para pecinta; pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.

Apakah anda telah mengenal isteri anda dengan seksama? Apakah anda mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya? Apakah anda mengenal kecenderungan-kecenderungannya? Apakah anda mengenal pola-pola ungkapannya; melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata, melalui gerak motorik refleksinya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya?

Apakah anda dapat merasakan getaran jiwanya, saat ia suka dan saat ia benci, saat ia takut dan begitu membutuhkan perlindungan? Apakah anda dapat melihat gelombang-gelombang mimpi-mimpinya,harapan-harapannya?

Sekarang perhatikanlah bagaimana tingkat pengenalan Rosululloh saw terhadap istrinya, Aisyah. Suatu waktu beliau berkata, ” Wahai Aisyah, aku tahu kapan saatnya kamu ridha dan kapan saatnya kamu marah padaku. Jika kamu ridha, maka kamu akan memanggilku dengan sebutan : Ya Rosulullah ! tapi jika kamu marah padaku, kamu akan memanggilku dengan sebutan ” Ya Muhammad”. Apakah beda antara Rosululloh dan Muhammad kalau toh obyeknya itu-itu saja ? Tapi Aisyah telah memberikan pemaknaan khusus ketika ia menggunakan kata yang satu pada situasi jiwa yang lain.

Pengenalan yang baik harus disertai penerimaan yang utuh. Anda harus mampu menerimanya apa adanya. Apa yang sering menghambat dlm proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau “obsesi” yang berlebihan terhadap fisik.

Anda tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika anda dapat menerima apa adanya. Dan ini tidak selalu berarti bahwa anda menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangan bukanlah kondisi akhir kepribadiannya, dan selalu ada peluang
untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya.

Apakah yg ia harap dari bayi kecil itu ketika ia merawatnya, menjaganya, dan menumbuhkannya? Apakah ia yakin bahwa kelak anak itu akan membalas kebaikannya? Tidak. Semua yg ada dlm jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang utk berubah dan berkembang.

Dan karenanya ia menyimpan harapan besar dlm hatinya bahwa kelak hari-hari jugalah yg akan menjadikan segalanya lebih baik. Penerimaan positif itulah yang mengantar kita pada kerja mencintai selanjutnya ; pengembangan.

Pada mulanya seorang wanita adalah kuncup yg tertutup. Ketika ia memasuki rumah anda, memasuki wilayah kekuasaan anda, menjadi istri anda, menjadi ibu anak-anak anda; Andalah yg bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniup nya perlahan, agar ia mekar menjadi bunga. Andalah yg harus menyirami bunga
itu dengan air kebaikan, membuka semua pintu hati anda baginya, agar ia dapat menikmati cahaya matahari yg akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bunga-bunga cinta bersemi.

Dan ungkapan “Aku Cinta Kamu” boleh jadi akan kehilangan makna ketika ia dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik dan mengembangkan. Apa yg harus anda berikan kepada istri anda adalah peluang utk berkembang, keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa superioritas anda terganggu. Ini tidak berarti anda harus memberi semua yang ia senangi, tapi berikanlah apa yg ia butuhkan.

Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dlm keseimbangan. Dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi. Itulah sebabnya terkadang anda perlu memotong sejumlah yg sudah kepanjangan agar tetap terlihat serasi dan harmoni.
Hidup adalah simponi yg kita mainkan dengan indah.

Maka, duduklah sejenak bersama dengan istri anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri : Apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama dengan anda?

Mungkinkah suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya :

DAN NAFAS CINTANYA MENIUP KUNCUPKU…

MAKA IA MEKAR MENJADI BUNGA…

Oleh : Anis Mata

Read Full Post »

Aku Benci Ayah (Belom selesai)

Langit cerah berawan, tenang, putih, bergelombang bak ombak yang perlahan menyusuri birunya samudra di langit biru. Anak-anak tertawa riang, menyambut hari libur yang akan segera datang. Sekolah yang biasanya penuh dengan siswa-siswi kini juga diperpadat dengan kedatangan orang tua siswa. Wajar saja, hari ini adalah pembagian raport, tiap siswa ayng ada di SDN 1 Cempedak-Jagakarsa datang dengan menggandeng serta salah satu atau bahkan kedua orang tuanya. Semuanya terlihat bahagia bisa berkumpul dengan keluarganya di hari pembagian raport. Aku duduk sendiri di deretan bangku kelas paling akhir, menunggu siapa yang nantinya akan datang mengambil raportku. “Ibunya mana dek” tanya salah seorang Ibu yang ada di sebelahku dan akupun langsung menjawab dengan kalimat andalanku “gak tau”. Setengah siswa kelas III B telah menerima raport mereka lalu pergi tanpa mempedulikan yang ada di belakangnya. Namaku telah disebut dari tadi, namun karena orang tuaku belum datang, maka raport belum bisa di ambil. Aku masih duduk di kursi belakang kelas sambil memandangi pintu yang menganga hampa. Tiba-tiba datanglah seseorang yang pastinya kukenal, ia adalah ‘Cak Di’, supir catering yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Sepertinya ialah yang akanmengambil raportku. “Mama gak ke sini?” pertanyaan yang seharusnya tak perlu aku lontarkan. Karena dari tiap cawu yang telah kulalui tak pernah sekalipun orang tuaku datang untuk mengambil raportku, kalau bukan Cak Di ya mungkin tetangga di sebelah kontrakan. Namun setidaknya itu lebih baik dari pada pertanyaan “Papa gak ke sini?”, ngobrol saja tidak pernah, apalagi daang mengambil raportku. Sedih?. Untuk apa. Toh hal ini sudah terjadi setahun tiga kali. Lagipula 9 cawu yang telah aku lalui tak pernah sekalipun rangking 10 besar tertulis di raportku, jadi wajar saja jika mereka tidak mau datang mengambilnya.

Sepulangnya di rumah ada Ayah dan Ibuku. Seperti biasa, kuganti baju seragamku dan langsung pergi ke luar. Aku tak banyak menghabiskan waktu di rumah. Biasanya selepas sekolah aku makan dan langsung bermain, mencuri ikan di kolam dengan alibi memancing di sungai sebelahnya, ataupun nongkrong sambil menghisap rokok di belakang rumah kosong. Terkadang jika hujan tak juga datang dan aku tak dapat mencari uang dari mengojek payung, maka aku membawa serta beberapa batang rokok milik ayahku. Setelah matahari hampir pergi barulah aku pulang dan mandi untuk kemudian malamnya pergi ke rumah tetangga untuk menonton TV. Dimarahi? Tentu saja. Untuk itulah aku selalu tidur sebelum ayah pulang dan bangun setelah ia berangkat. Aku harus selalu menghindarinya, karena sepertinya tak ada hal lain yang mampu ia lakukan selain marah jika bertemu diriku.

Aku lebih bahagia hidup di luar rumah.

Naik kelas IV SD, kami sekeluarga pindah ke rumah yang relatif lebih besar dari sebelumnya, sebuah rumah tipe 36/60 di daerah pinggiran kota Bogor. Rutinitasku tidak berubah, lebih banyak berada di luar rumah. Namun tak ada lagi rokok dan pencurian ikan. Sang pengambil raportkupun tidak berubah, Cak Di di selingi oleh beberapa orang tetangga sebelah rumah yang anaknya berada satu sekolah denganku. Namun keajaiban tiba-tiba terjadi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku memperoleh ranking 5 di kelas. Mungkin ini akibat imbas dari kecintaanku terhadap sesuatu bernama ‘matematika’ yang mulai tumbuh sejak berhasil memecahkan tantangan guru. Namun bukan pujian atau pergantian pengambil raport yang aku dapatkan, malahan kepintaranku kini dijadikan bahan amarah. “Percuma pinter tapi blablabla…”. Akupun semakin tertekan saat meraih juara kelas di saat SLTP. Saat itu aku mulai berfikir “untuk apa jadi yang terbaik?toh tak ada bedanya. Tak ada hadiah, tak ada kebanggaan, bahkan malah dijadikan bahan cemoohan ayah.”
“Ya Allah. Aku hanya melakukan apa yang aku anggap baik. Namun kenapa semua orang rasanya memusuhiku?salahkah aku?”
Aku mulai menenggelamkan diriku dalam aktifitas-aktifitas yang menjauhkanku dari rumah. Main ding dong di terminal Depok, nongkrong di Stasiun, menyewa PS, namun alhamdulillah masih ada kegiatan yang positif yaitu beramin sepak bola. Ayahku tetap seperti biasa, selalu marah saat aku pulang terlalu sore, main PS di rental, dan bahkan marah saat aku menonton sepak bola melalui layar kaca. Akupun bertindak sebagaimana biasanya, menunduk dalam-dalam dan diam sejuta bahasa sambil mendengarkan sejuta kata larangan yang terlontar dari lidahnya. Pernah suatu ketika aku pulang saat azan magribhberkumandang. Sesampainya di depan rumah aku tak diperkenankan untuk masuk ke dalam. Pintu dikunci rapat-rapat. Menyerah? Bukan aku jika mudah menyerah. Akupun melakukan tindakan yang termasuk dalam larangan ayahku. Pergi ke rental PS. Setelah puas bermain akupun langsung pulang. “PLAAAKKK..!!!” tamparan pertama dalam hidupku mendarat di pipi kananku. Tangan yang seharusnya menyayangiku itu membuat bara panas dalam hatiku. Hari demi hari kulalui dengan harapan dapat lari dari rumah ini. Namun saat keinginan itu memuncak dalam kepalaku tiba-tiba pikiran positif datang dan membuyarkan keinginan itu. Aku ingin selalu melihat kebaikan, aku ingin melihat cahaya terang meskipun bulan hanya sebagian, aku ingin melihat taburan bintang meskipun benderang purnama menutupi sinarnya.
“Ya Allah. Aku hanya ingin tersenyum di semua rasa yang membuatku sedih, kalah, dan terluka.”

“Sandi Bayu Perwira” namaku disebut dari depan panggung. Hari ini adalah perpisahan di SLTPku. Banyak sekali orang tua siswa yang hadir dalam acara ini. Orangtuaku? Seperti biasa, sepertinya tidak akan datang. Akupun meyegerakan diri untuk naik ke atas panggung. Tiga besar NEM se-SLTP aku dapatkan. Di atas panggung kucoba menatap sekeliling dengan liar untuk mencari sosok orang tuaku. Namun percuma, toh memang dari dulu mereka tidak pernah mempedulikan aku.

Proyek ayahku kolaps. Meninggalkan gunungan hutang yang tak mampu di bayar. Rumah, mobil, dan segala yang dimiliki di jual untuk menutupi semua hutang. Itupun masih kurang. Akhirnya kami sekeluarga pindahke daerah paling ujung dari kab.Serang. Karena kesulitan untuk kembali mencari kerja, ayahku beralih profesi menjad tukang ojeg. Ibuku berjualan sayuran di rumah yang berarti aku harus juga bangun pukul 02.00 pagi untuk pergi membantunya ke pasar. Komunikasi antara aku dan ayahku masih berjalan 1 arah dan aku masih sering dimarahi tanpa alasan yang jelas. Rasanya kesabaranku mulai habis. Akhirnya aku luapkan kemarahan itu dalam lukisan nilai merah di raportu. Nilai 5 untuk mata pelajaran Kimia di kelas 1 SMA ku. Karena ulahku itu aku malah dimarahi besar-besaran. “Phuh, dapet nilai bagus salah, nilai jelek juga salah” batinku dalam hati.

Beberapa bulan kemudian akhirnya ayah mendapatkan pekerjaan di bilangan Jakarta. Mobil ‘Carry’ kantor menjadi tunggangannya untuk pergi-pulang Jakarta setiap hari. Sepulangnya dari kerja ia selalu membawa oleh-oleh untuk adik-adikku, ibuku, dan keperluan rumah, tak ada untukku. Pada saat akhir pekanpun ia selalu mengajak sekeluarga pergi jalan-jalan, namun masih tetap tanpaku. Bahkan saat hari raya datang dan seluruh keluarga adri nenekku berkumpul di rumah nenek, aku malah diperintahkan untuk membersihkan gudang. Hari itu ternyata mereka semua pergi ke Anyer meninggalkanku seorang diri. Awalnya aku hanya berbaring di kamar dan merenung tanpa suara, namun karena rasanya dada ini sakit sekali saat diam akhirnya akupun mulai membersihkan gudang sambil menahan sakit. Rasanya sakit hati ini telah mencekat nafas hingga tenggorokan.

“Ya Allah. Aku hanya ingin tersenyum dalam segelap apapun suasana hatiku, aku tak ingin terlihat kalah meskipun rasanya kesabaran ini mulai goyah.”

Masa SMA berakhir tanpa prestasi yang membanggakan. Untungnya aku masih diberi kesempatan untuk memasuki salah satu institut terbaik yang ada di Bandung, jadi setidaknya masih ada yang bisa dibanggakan saat melepas ‘putih abu-abu’. Ayahku mengantarkanku untuk mendaftar ulang di bandung.; Di sepanjang jalan akhirnya ia mulai membuka komunikasi 2 arah. Tapi apa boleh buat, mungkin karena kebiasaan akhirnya aku hanya banyak diam dan mendengarkan.

Setelah kurang lebih 1 tahun menuntut ilmu di Bandung aku mulai merasakan nikmatnya jauh dari rumah. Kalau lapar tinggal makan dan kalau ngantuk tinggal tidur, tak ada yang marah dan tak ada larangan. Delapan Mei 2006. Sebuah kotak coklat dari bapak pengantar pos mengubah paradigmaku. Untuk pertama kalinya sepanjang usiaku aku merasakan mempunyai sebuah keluarga, rindu akan rumah, dan menangis karena bahagia karena orangtuaku mengucapkan ‘Selamat ulang Tahun’ untuk pertama kalinya sejak 19 tahun yang lalu. Pembicaraan 2 arah antara ayah dan aku mulai berlangsung secara efektif. Ia mulai bertanya kabar kuliahku, masalah-masalahku, pacarku yang sampai sekarang tak kumiliki dan akhirnya menyerah dan mulai bertanya tentang kriteria istri.

Read Full Post »

Antara Kuliah, Maisya, dan Aisyah

Kuliah, Maisya, dan aisyah, ketiga hal itulah yang sepertinya akhir-akhir ini banyak dibicarakan oleh mahasiswa yang sedang mengalami masa-masa puber atau kalau boleh meminjam katanya the Kiky mah “Ababil” atau ABG labil. Mahasiswa yang belum menyelesaikan ketiga urusan di atas agaknya kerap dihantui akan pilihan-pilihan yang kadang sulit untuk ditentukan karena menyangkut dengan masa depan mereka. Bayangkan saja, tanpa maisya rasanya kuliah merasa tertekan tiap bulannya karna masih harus meminta kepada orang tua. Kendati ada beberapa orang tua yang cukup paham saat diberi “sinyal” kekurangan, namun tetap saja rasanya malu saat 4 tahun (yang 4 mah) di bangku perkuliahan tidak bisa meringankan beban mereka. Tanpa maisya seorang mahasiswa juga rasanya sulit untuk melanjutkan hidup mencari Aisyah. Keluarga kan bukan hanya butuh cinta, tapi juga butuh makan. Nah..Untuk mencari maisya itu bisa dipermudah (relatif) saat kita mempunyai gelar selepas kuliah. Hasil yang didapatkanpun ‘umumnya’ lebih besar dibandingkan bekerja setelah lulus SLTA. Selain itu maisya juga bisa diperlancar dengan adanya Aisyah.

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Dan yang lebih anehnya lagi, dengan adanya Aisyah kuliah juga bisa lebih ada yang menyemangati. Meskipun kayaknya mah makin repot aja karna belum tentu si Aisyahnya bisa menyemangati terus. Nah lho… Jika dihubung-hubungkan antara ketiga faktor tersebut maka akan terbentuklah segitiga yang terus berputar. Karna penulis orang teknik, maka dibuatlah sebuah model untuk menggambarkan siklus ketiganya,

Read Full Post »