Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2008

Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan.

Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan, itu kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, Itupun adalah kesempatan.

Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, Itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu dan tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik, Datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan. Berbicara tentang pasangan jiwa, ada suatu kutipan dari film yang mungkin sangat tepat: “Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil” .

Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang Yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak…

Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita, adalah pilihan yang harus kita lakukan.

Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.

Diambil dari :http://istrishalihah.blogspot.com

Read Full Post »

Pertama kalinya di Indonesia bahkan mungkin diseantero dunia islam, kini telah berdiri pesantren waria yang pesertanya khusus waria tetapi juga menerima peserta dari kaum Gay dan lesbi. Jumlah jamaahnya memang belum banyak, namun mereka terlihat amat serius mendalami agama Islam. Kerinduan pada Tuhan, ternyata melanda kaum waria, gay dan lesbi.

Di saat bulan puasa ramadhan kemarin, Ayat-ayat suci merdu bergema dilantunkan seorang ustadz, diikuti sekitar 20-an jamaah. Para jamaah ada yang mengenakan sarung, ada pula yang memakai mukena. Mereka bersama-sama mengagungkan asma Allah di bulan Ramadhan ini. Ketika adzan magrib bergema, mereka sesaat makan-minuman ringan untuk berbuka puasa lalu dilanjutkan dengan salat Maghrib bersama.

Kegiatan bernapaskan keagamaan terus bergulir di rumah yang berlokasi di Kampung Notoyudan, Gedong Tengen, Yogyakarta. Para jemaah menimba ilmu agama dari para ustadz. Sebagian menginap untuk melanjutkan pelajaran. Aktivitas terus berlanjut, mulai dari berzikir, lalu salat tahajut setelah sejenak tidur. Menjelang salat Subuh, mereka juga terus belajar doa-doa.

Yang membedakan dengan pengajian lain, pesertanya bukan pria ataupun wanita, melainkan waria. Mereka bergabung dalam Pondok Pesantren Senin-Kamis, khusus waria. “Meski waria, kami tetap ingin dekat dengan Allah. Teman-teman waria di sini rindu menyapa Allah,” ujar Mariyani (48), sang pendiri sambil menyebut nama-nama rekannya yang sebagian berasal dari luar kota.

Ada Lili dari Jakarta, Tutik dan Ari dari Padang dan Batusangkar (Sumbar), atau Yessy dari Medan. “Sungguh kawan-kawan itu juga ingin beribadah seperti layaknya kaum muslim,” kata Mariyani yang jujur mengaku dirinya waria.

Ziarah makam

Menurut Mariyani, kerinduannya pada Allah sudah terjadi 10 tahun silam. Waktu itu ia bergabung dengan kelompok pengajian Mujahadah Al Fatah asuhan KH Hamroeli Harun MSc. “Dari sekian banyak jemaah Pak Kiai, hanya saya yang waria. Meski begitu, Pak Kiai berkenan merangkul dan membimbing saya. Bahagia sekali saya bisa belajar agama dari beliau. Saya bisa bersujud di hadapan Allah,” kata Mariyani dengan wajah berbinar.
Mariyani yang pernah tiga tahun jadi Ketua Waria Yogyakarta ini semakin aktif dalam kegiatan religius.

Saat gempa melanda Yogya, ia mengajak para waria se-DIY mengadakan doa bersama. “Bencana, kan, datang dari Allah. Makanya kita semua harus ingat Allah. Nah, kami sekitar seratusan waria, berdoa mohon diberi ampunan. Selain dari Yogya, banyak kawan waria dari luar kota datang,” kisahnya.

Sampai akhirnya dua tahun silam, waria yang membuka salon ini mengadakan pengajian khusus waria tiap Rabu Pon. Beberapa waria tertarik bergabung. Bahkan, ibu-ibu di lingkungan rumah kontrakannya juga terlibat. “Senang sekali ada kiai yang merangkul kami. Teman-teman waria diajari salat, mengaji, juga bacaan doa sehari-hari. Yang lebih membahagiakan, kegiatan saya mendapat dukungan masyarakat.”

Langkah cerdas dilakukan Mariyani untuk menyentuh hati rekan-rekannya. “Saya ajak kawan-kawan berziarah ke makam waria yang sudah meninggal. Ada yang meninggal terserempet kereta waktu bekerja, ada yang sakit, dan seterusnya. Rata-rata tak pernah didoakan keluarganya. Nah, saat di makam, kawan-kawan jadi paham, suatu saat pasti akan bernasib seperti mereka. Tak sedikit kawan-kawan yang menitikkan airmata. Muncul kesadaran untuk dekat dengan Allah. Pelan-pelan ada yang bergabung dengan pengajian saya,” kata Mariyani.

Begitulah, kegiatan Rabu Pon terus berlanjut. Nah, menjelang Ramadhan, Mariyani ingin kawan-kawannya lebih intensif lagi mengagungkan asma Allah. Dua bulan silam, berkat dukungan KH Hamroeli, ia mendirikan Pondok Pesantren Senin-Kamis, khusus waria. Ia hanya memberitahu kawan-kawannya, “Tanpa paksaan. Para waria memang tidak bisa dipaksa. Dia datang ke mari kalau hatinya sendiri yang menggerakkan. Alhamdulillah, tanggapan teman-teman memang bagus. Mereka saya cakup semua. Mulai dari waria pengamen, salon, sampai yang masih keluar malam. Ada 20-30 orang,” papar Mariyani.

Boleh pakai sarung atau mukena

Meski namanya Ponpes Senin-Kamis, kegiatan sudah dimulai sehari sebelumnya dan mulai berlangsung sekitar jam 16.00. Dibimbing para ustaz, mereka belajar membaca Al Quran. ”Malamnya, kami wirid, lalu baca doa kesehatan, mohon rezeki, sampai tahajud. Tidur sebentar, disambung lagi salat fajar jam 03.30, kemudian salat subuh,” kata Mariyani yang mendapat bimbingan dari sekitar 20 ustaz secara bergantian.

Menurut Mariyani, banyak rekannya yang semula tidak paham sembahyang. “Pak ustaz dengan sabar mengajari. Mulai dari wudu sampai bacaan-bacaan doa. Sekarang ada teman yang sudah pintar adzan, lho,” ujar Mariyani yang mengadopsi seorang anak ini. Semua itulah yang membuatnya bertekad meneruskan kegiatannya, tidak hanya pas Ramadhan.
“Saya baru berhenti kalau Allah memanggil saya. Senang sekali Pak Kiai dan para ustaz terus mendukung. Inilah yang bisa saya lakukan semampu saya. Kepada kawan-kawan, saya tidak minta apa-apa. Soal dana, s
aya sendiri yang coba mengatasinya. Syukurlah, ada saja yang bersedia menyumbang,” kata Mariyani yang penghasilannya ditopang dari membuka salon.

Untuk teman-temannya, Mariyani menyediakan sarung dan mukena untuk sembahyang. “Terserah kawan-kawan mau pakai apa. Sarung silakan, mau pakai mukena juga boleh. Yang penting kami bisa sembahyang. Soal diterima atau tidak, hanya Allah yang mengetahui,” katanya mantap.

Ada yang kontra dengan kegiatan pesantren waria ini karena dianggap menodai agama karena menjalankan ibadah dengan tidak semestinya. Ini karena Islam membedakan tata cara ibadah bagi pria dan wanita dan sudah menjadi ketentuan baku dari ALLah serta ALLah tidak pernah salah dalam mencipta mahluknya.

Berbeda dengan pendapat tersebut, Ketua MUI yogyakarta jauh lebih bijak dalam menyikapi pesantren waria ini. Menurut beliau kegiatan pesantren waria ini positif adanya. Setidaknya ada niat baik yang tumbuh dari para waria untuk mendekatkan diri pada ALLAH SWT.

Ada tanggapan..??

diambil dari http://bilah9.blogspot.com/2008/10/pesantren-waria.html

Read Full Post »

Allahu Akbar

Allahu Akbar

Allahu Akbar

Laa Ilaa HaillAllah HuAllahu Akbar

Allahu Akbar Walilla hilham…

Suara takbir menggema dari corong-corong masjid dan mushala, tak ketinggalan segerombolan anak-anak membawa obor berkeliling untuk memberi tahu bahwa senja telah berlalu. Ramadhan telah berganti menjadi Syawal, anak-anak terlihat senang dengan baju baru mereka, orang tua juga terlihat senang dengan liburan dan THR mereka. Namun entah kenapa rasanya ada kerinduan yang tertahan di dalam dada ini, padahal baru beberapa jam berpisah dengan Ramadhan tapi rasanya ingin sekali bertemu dengan Ramadhan berikutnya.

Setelah terhenyak beberapa saat akhirnya aku sadar bahwa rindu tidak bisa mengalahkan waktu. Serindu apapun aku kepadanya, jika waktu belum mengizinkan untuk bertemu maka aku hanya bisa menunggu dan berdoa kepada Penguasa Waktu “Ya Allah. Pertemukan aku dengannya di pertemuan berikutnya, dan jagalah aku agar selalu merindukanMu dan RamadhanMu”.

Tugas berikutnya adalah bagaimana cara mempertahankan amalan yang meningkat drastis pada waktu Ramadhan agar tidak menurun secara eksponensial pada bulan-bulan berikutnya. Jawabannya mungkin hanya ada satu, yaitu me-Ramadhankan Syawal, Dzulqa`dah, Dzulhijjah, Muharam dst. Dengan menginternalisasikan spirit Ramadhan ke dalam 11 bulan lainnya maka kita akan terus berusaha untuk meningkatkan amalan-amalan harian yang berhasil di capai di bulan Ramadhan. Dengan begitu maka Ramadhan berikutnya kita tidak akan mengulang dari tingkat yang sama dengan ramadhan sebelumnya. Bukankah ada yang bilang bahwa jika hari ini lebih baik dari hari kemarin maka kita adalah orang yang beruntung, jika hari ini sama dengan hari kemarin maka sesungguhnya kita merugi, dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin berarti kita termasuk orang yang celaka. Jadi ya tergantung apakah kita ingin menjadi orang beruntung, merugi, atau celaka. TIdak usah muluk-muluk, coba digenapkan lagi tilawahnya, shalat jamaahnya di perbanyak, Lail n Dhuhanya dipersering, shaumnya rutinkan, serta ucapan, mata, dan hatinya lebih di jaga. Insya Allah kalaupun tidak dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya kita tidak akan merugi.

Semoga kita menjadi orang yang beruntung.

[Sedang menasehati diri sendiri….]

Read Full Post »

Walau Habis Terang

Ku terbiasa tersenyum tenang
walau aargh…
hatiku menangis

Kaulah cerita
tertulis dengan pasti
selamanya dalam pikiranku

Uuhh.. Selamanya…

Peluk tubuhku untuk sejenak
Dan biarkan kita memudar dengan pasti
Biarkan semua seperti seharusnya
Takkan pernah menjadi milikku

Lupakan semua
tinggalkan ini
Ku kan tenang
dan kau kan pergi

Berjalanlah walau habis terang
Ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu

Di antara beribu lainnya
kau tetap..
kau tetap..
kau tetap..

benderang..
Aaa…

Peterpan

Read Full Post »