Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2008

Dari Satu jadi Empat

Alhamdulillah terhitung sejak 27 November 2008 pukul 08.00 karyawan yang kami punya bertambah dari satu menjadi empat orang. Senang rasanya bisa ikut mengurangi angka pengangguran di Jawa barat, yah itung-itung bantuin Pak Heriyawan dalam hal menambah lapangan pekerjaan. Meskipun usaha ini belum untung begitu besar tapi gapapa yang penting sudah ada yang bisa merasakan manfaatnya untuk kesejahteraan keluarganya, walaupun saya sendiri belum bisa merasakan labanya. Insya Allah kedepannya ingin banyak menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Senang rasanya saat melihat sinar dibalik wajah yang tersenyum riang karena mendapatkan pekerjaan (meskipun gajinya belum besar). Mohon doanya saja semoga kedepannya bisa lancar dan membuat semakin banyak orang yang tersenyum karena tidak lagi menganggur.

Ayoo…

semangaattt bung..

masih banyak yang harus dilakukan…

[melihat senyum di wajah orang lain itu lebih indah dibandingkan senyum di wajah sendiri]

Read Full Post »

Sakit Gigi lebih sakit dari sakit hati

deni-triwardana-hati-kotorsakitgigi1Yupz…memang seperti itulah kenyataannya. Sakit gigi memang lebih membuat kita gila dibandingkan sakit hati. Kalau sakit hati, kita bisa melampiaskannya pada yang ada di sekitar kita. Bisa ngudek-ngudek aquarium, bisa mukul-mukul bantal, ato bisa makan sampe kekenyangan. Kalau sakit gigi? mau nonjok-nonjok susah. Pokoke susah mau ngapa-ngapain jg. Kalo sakit hati masih bisa tidur, kalo sakit gigi mah boro-boro bisa tidur merem ja susah. Di tambah lagi kalo sakit gigi tu kita akan selalu merasa kelaparan, karena sangat sulit sekali banget (lebay ya?) untuk mengunyah, jadi walopun sangat laper tapi tetep ja susah bwt makan. ngabisin setengah bungkus nasi goreng ja bisalebih dari 30 menit. Tapi gimana jadinya ya kalo pas lagi sakit hati ehh sakit gigi juga. Semoga tidak pernah terjadi pada diriku.

Read Full Post »

Biarkan Dia Pergi

gothic-fairy-12Biarkan dia pergi

Ia punya mimpi yang harus di raih

Dia miliki cita yang harus di kejar

Dan kau tak ada dalam salah satu rencananya

Namamu tak ada dalam daftar mimpinya

Jangan kau ganggu ia dengan rasamu

Jangan bebani ia dengan harapanmu

Biarkan bidadari itu pergi1

Terbanglah wahai bidadari

Jangan pernah kau tanyakan arti

Karna aku kan buatnya sembunyi

jauh dalam hati hingga ia mati

Datanglah wahai sepi

Kosongkan isi hati ini

[Sandi 100% udah sembuh]

Read Full Post »

Hidup Adalah pilihan

persimpangan

Hidup seringkali meminta kita memilih

membuat pilihan memang sulit

tapi akan lebih sulit menjalankannya

dan yang paling sulit adalah mempertanggungjawabkan pilihan itu

Namunpada akhirnya kita harus memilih, menjalankan, dan bertanggungjawab

Bertakwalah,

Insya Allah memilih yang satu bukan berarti mengorbankan yang lainnya

tapi membiarkan Allah merancang takdir yang lebih baik

Semuanya hanya soal waktu

(Ini adalah sms yang dikirimkan oleh seorang saudaraku 5 November 2008 pukul 09.20. Saat itu banyak hal yang teraduk liar di kepala ini. Terbenturkan oleh banyak sekali masalah yang menggunakan pilihan sebagai salah satu solusinya. Alhamdulillah cukup menenangkan. Terima kasih Saudaraku :))

Read Full Post »

Perjalanan Lagi (bag.2)

Stasiun Cirebon tampak lengang, mungkin ini efek dari berdesakan di dalam kereta, semua tempat jadi terasa lapang. Waktu masih menunjukkan pukul 03.30 pagi, seandainya ada kereta ekonomi Bandung-Semarang pasti ga akan repot begini. “Kang ke terminal ga?” aku merasa harus bertanya kepada seorang kenek karena aku baru pertama kalinya ke Semarang dan menginjak Cirebon (pagi hari pula). “Wah jam segini blom ada kang, naik becak aja” belum lama selesai ia berbicara datanglah seorang pria tua yang menawari becak yang tanpa pikir panjang langsung kunaiki.

Baru berjalan beberapa saat tiba-tiba aku teringat akan tulisan Pidi baiq, akhirnya kusuruh ia berhenti. “Bapak yang didepan aja pak, biar saya yang Goes” ucapku. Kerutan buingung tampak di salah satu garis di wajahnya. Kerutan tersebut nampak jelas walaupun banyak kerutan lain yang menghiasi wajah tuanya.  “Udah adek di depan aja” jawab pria tua tersebut. “kalau bapak gak mau saya ga jadi naik dech, bapak tinggal tunjukin arahnya ja pak” ancamku dengan cepat. Akhirnya setelah beberapa lama berfikir iapun menyetujui usulanku.

Cirebon pagi hari tampak begitu lengang, belum ada motor ataupun angkot yang beroperasi, hanya ‘krincing-krincing’ bunyi becak yang sesekali terdengar di telinga. Bahkan suara ayam jagopun tidak terdengar, mungkin karena baru saja hujan berhenti, sehingga keheningan masih menyelimuti. Perjalanan kami berlangsung cukup singkat, tak banyak yang bisa kita obrolkan selain keadaan keluarga dan sekelumit cerita kehidupan lainnya. “Dah sampai dek, ini terminalnya, kalau ke Bandung tinggal tunggu bis di sini” sahut pria tua itu sambil berdiri dari kursi penumpang. “Oh..sepuluhribu Pak” sahutku sambil mengulurkan tangan meminta uang. Wajah bingung kembali terlihat dari pria tua yang telah menginjak usia lima puluhan itu. “hehe..Nggak ko pak cuma bercanda, ini ongkosnya, terima kasih ya pak” ucapku sambil berjalan meninggalkan wajah bingung itu memudar perlahan. “hatur nuhun dek” ucap tobatpria tua itu dari kejauhan, dari wajahnya kulihat ada satu guratan senyum walaupun tersamarkan oleh guratan usianya. Azan subuh pun kemudian memisahkan kami dalam balutan keteangan pagi. Ya Allah, begitu banyak hambamu yang menerima beban lebih berat dariku dan mereka tidak mengeluh kepadaMU. Maafkan hambaMu yang seringkali mengeluh dan kurang bersyukur kepadaMu.

Read Full Post »

Perjalanan Lagi (Bag 1)

Waktu telah menunjukkan pukul 09.30 pagi. ‘Kali banteng’ tampak ramai di hari minggu. Bus kota penuh dengan penumpang yang berdiri, motor-motor berseliweran tak kenal henti. “Simpang lima Mas?” ujar seorang berumur separuh baya yang kutahu ia adalah kenek Bus Kota semarang. “Lg nunggu kawan Mas.” Ujarku sambil tersenyum kepadanya, lumayan lah sedekah pagi-pagi batinku dalam hati. Pagi itu Semarang terasa sangat sejuk, awan mendung menyelimuti seluruh kota tanpa nenitikkan setetes hujan.

Namanya Aan PD Pubkom BKKMTKI Daerah 3. Ialah yang kemuidian menjemputku untuk bertransit ke kostannya untuk bersiap-siap mengisi materi BKKMTKI di UNDIP. “An, ko jalanannya nanjak terus ya?UNDIP tu ada di atas ya?” tanyaku sambil memperhatikan sekitar dari atas motor. “Iya Mas, jadi UNDIP tu ada 2, nah yang Tekim itu ada di atas, anak-anak biasa nyebutnya ‘Tembalang’, coba deh liat ke sana” ujarnya sambil menunjuk ke arah kiri motor yang ia kendarai. Subhanallah, di bawah sana terlihat gedung-gedung yang menghiasi kota Semarang, di ujungnya pun terlihat samar batas antara daratan jawa dan lautan.

Setelah istirahat beberapa saat kamipun (Aan, Kiki, dan Saya) bersiap-siap untuk menuju UNDIP. “Mas ntar di UNDIP tu LDO-nya formal banget lho” Aan berkata santai sambil merapikan baju kotak-kotaknya. “Masa An?” jawabku dengan cepat dan kaget, bukannya asing dengan hal seperti itu, namun hari itu aku mengenakkan sendal (bukan sendal jepit) dan celana jeans sedangkan mereka mengenakan celana bahan. Akhirnya akupun meminjam sepatu Aan lengkap dengan kaus kakinya. Untuk urusan celana biarlah tetap begini dan bajuku tidak kumasukkan ke dalam celana.

Materi yang kuisi di UNDIP tidaklah lama, kurang lebih 40 menit plus tanya jawab. Sisanya kupergunakan untuk ngobrol bersama Pras (Kahim HMTK UNDIP), Kiki (PP RISTEK), Ragil ,dan Aan. Tak ada yang aneh di sana seain acungan tangn yang bersahutan saat sesi tanya jawab berlangsung. Akupun tersenyum karenan ternyata itu hukumnya wajib bagi peserta LDO (haha..).

hujanMalam itu akhirnya langit tak kuasa membendung mendung yang sedari pagi mewarnai kota. Gerimispun datang disertai sesekali hujan deras. Akupun harus ke Stasiun diiringi hujan yang mengiringi motor kami. Kubuka kaca helmku dan melentangkan kedua tanganku di atas motor sambil terpejam. Kudengarkan selisik suara hujan yang menetes kencang di wajahku (ini mah gara2 kecepatan motor). “Kenapa Mas?” tanya Aan yang kujawab dengan cepat “I Love Rain” Aan hanya tersenyum sesaat.

kereta-api2Kereta harusnya berangkat pukul 21.30, namun maklumlah di Indonesia ia baru tiba pukul 22.30, tapi lumayanlah dapat mengobrol banyak dengan seseorang lelaki paruh baya yang membagi pengalaman-pengalamannya kepadaku. Kereta penuh sesak, bukan hanya tak dapat kursi, bahkan di lorong dekat WC yang biasanya sering kutempati untuk merenungpun sudah penuh sesak. Akhirnya aku berdiri di tengah gerbong kereta yang masih mungki bisa menyisipkan tubuhku untuk berdiri di sana. Ngantuk menyerangku, pasti ini gara-gara belakangan ini aku tak bisa tidur. Tapi kenapa sekarang, saat tubuh ini bahkan tak bisa duduk nyaman sekalipun, akupun berdiri sambil tidur (atau tidur sambul berdiri?).

Read Full Post »