Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2008

Melepasmu (Drive)

Tak mungkin menyalahkan waktu
Tak mungkin menyalahkan keadaan
Kau datang di saat ku membutuhkanmu
Dari masalah hidupku bersamanya
Semakin ku menyayangimu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama
Suatu saat nanti kau kan dapatkan
Seorang yang akan dampingi hidupmu
Biarkan ini menjadi kenangan
Dua hati yang tak pernah menyatu
Maafkan aku yang membiarkanmu
Masuk ke dalam hidupku […]

Read Full Post »

Cintaku untukMu

Ya Rabb..Aku bukanlah orang yang kuat untuk memikul beban tatkala matahari dan rembulan di kanan dan kiriku. Aku belumlah bisa seperti Ali yang meletakkan dunia di tangannya dan bukannya di hatinya. Namun aku ingin sekali meletakkan cintaku untukMu di atas cintaku terhadap makhlukMu.

Ya Rabb…mengapa cintaku belum bisa sepenuhnya mencintaiMu?mungkin aku lalai menjaga hatiku, mungkin aku lalai menjaga pikiran beserta pandanganku, mungkin aku lalai menjaga imanku. Namun jangan sampai kelengahanku membuat hatiku berpaling dariMu.

Andai matahari di tangan kananku tak kan sanggup mengubah yakinku
Terpatri dan tak kan terbeli dalam lubuk hati
Bilakah rembulan di tangan kiriku, tak kan sanggup mengganti imanku
Jiwa dan raga ini apapun adanya
Andaikan seribu siksaan terus melambai-lambaikan derita yang mendalam
Seujung rambutpun aku tak kan bimbang
Jalan ini yang kutempuh
Bilakah ajal kan menjelang jemput rindu-rindu syahid yang penuh kenikmatan
Cintaku hanya untukMu
Tetapkan muslimku selalu

(Harris Syafik : Keimanan)

Ya Allah.. Keluarkanlah cintaku terhadap duniaMU dari hatiku, agar aku mampu mencintaiMu dengan sepenuh hatiku melebihi cintaku kepada ciptaanMu

Read Full Post »

Aku Pergi

backpacker11Aku pergi..

benar-benar pergi..

jauuhh…

meninggalkan semuanya..

mohon doa’nya…

Read Full Post »

Lelaki Hujan

Lelaki hujan. Mengarungi senja tanpa jingga. Berjalan tergesa membelah boulevard dengan tangan rapat di dada. Membiarkan rintik-rintik air jatuh perlahan mengenai telinga, bahu, dan tertabrak oleh langkah-langkahnya yang cepat. Tangannya selalu rapat bersila di depan dadanya, kepalanya tertunduk dalam di balik topi coklat yang menutupi rambutnya. Rimbun pepohonan tak mampu lindungi ia dari rintik-rintik yang deras, susunan paving block tak jua lindungi sepatunya dari genangan air di sisi jalan. Tapi tak mengapa, toh ia adalah lelaki hujan yang selalu tersenyum di bawah guyuran hujan, walau sebesar apapun itu.

Lelaki hujan. Dengan cepat mengambil sepeda motor yang baru-baru ini menemani perjalanannya. Dengan santai ia memacunya perlahan di kisaran angka 60 pada speedometernya.”craaat..!!” Semburat lumpur menyembur ke sisi kiri dan kanan motornya saat melewati genangan air di sisi jalan, dan membiarkan bagian bawah celananya kuyup ditambah lumpur coklat kehitaman. Jalan raya seakan bergoyang. Entah mengapa hari ini ia merasa kepalanya seperti ditusuk-tusuk oleh belati dengan perlahan, ditambah lagi rintik-rintik hujan tanpa negosiasi langsung tiba-tiba menampar keras wajahnya. Air hujan tiba-tiba menjadi asin, mungkin matahari telah menguapkan sebagian garam di laut, menjadi awan, lantas turun menjadi hujan garam. Atau mungkin air matanya meleleh saking peningnya menahan sakit kepala.

Lelaki hujan. Memejamkan sejenak kedua matanya di atas motor, berharap rasa pening segera minggat dari kepalanya. “Prakk..!!” tiba-tiba saja sebuah sedan menyerempetnya dari belakang tanpa izin. Membuatnya tersungkur 6 meter dari motornya dan membuat pening di kepalanya semakin menjadi-jadi. Sedan hitam bertambah laju, tanpa melihat (atau mungkin memang tidak mau melihat) lelaki yang tersungkur di belakangnya. Lelaki itu berdiri menghampiri motornya. Darah mengucur perlahan dari lengan kirinya, membuat perih beralih dari kepala ke arah lengan kirinya. Tak ada apapun dipikirannya selain keinginan untuk menuju kamarnya secepat mungkin.

Lelaki hujan. Menggigil keras di atas motor roda duanya sambil menahan perih hujan campur peluh di lengan kirinya. Sekali lagi berusaha untuk terus memacu jarum speedometernya agar cepat sampai kamarnya.

Lelaki hujan. Menaiki satu-persatu anak tangga asramanya, satu, dua, tiga lantai dilewatinya perlahan sampai kamarnya di lantai tertinggi. Tanpa sempat membasuh darah di lengan kirinya iapun terkapar perlahan di atas karpet dalam kamarnya, kembali merasakan pening di kepalanya bersatu dengan perih di lengan kirinya menjadi satu kekuatan yang mengalahkannya. “Tess..” cairan hangat terasa pelan melewati hidung kirinya membuat segalanya terasa semakin lengkap dengan cairan merah di sana. “Astagfirullahhaladhim” terucap beriringan dengan gertakan gigi lantaran kedinginan yang membuatnya perlahan kehilangan kesadaran dan tersenyum dalam irama nafas yang lambat.

Lelaki hujan

aku tak bisa sepertimu.

Kau tersenyum dalam luka,

tertawa dalam tangis,

dan gembira dalam kecewa yang kau rasakan.

Lelaki Hujan

Ajari aku tersenyum

Tersenyum setulus cahaya hatimu

untuk dunia

Read Full Post »

Engkaulah alasannya

Engkaulah alasan semua kehidupan ini.
Engkaulah penjelasan atas smua khidupan ini.
Perasaan itu datang dariMU.
Semua perasaan itu juga akan kembali padaMU.
Kami hanya menerima titipan.
Dan smua itu ada sungguh karenaMU.

Katakanlah wahai smua pecinta di dunia. Katakanlah ikrar cinta itu hanya karenaNya. Katakanlah smua kerinduan itu hanya karena Alloh. Katakanlah semua getar-rasa itu hanya karena Alloh. Dan semoga Alloh yg maha mencinta, yg menciptakan dunia dg kasih-sayang mengajarkan kita tentang cinta sejati.

***
footnote, “Hafalan shalat Delisa”

Read Full Post »