Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2009

osornoKabut perlahan mulai pergi meninggalkan embun yang menggelayut malas di dahan-dahan pepohonan. Awan putih beriringan membuat barisan teratur di birunya langit pagi hari. Aku bersyukur masih diberi kesempata merasakan sejuknya Bandung pagi ini meskipun polusi perlahan mulai menggerogotinya. Andai hari ini tak ada acara, mungkin aku sudah menghabiskan pagi di bukit memandang petak-petak rumah yang tak teratur sambil membaca dan merenungi kalamNya. Namun godaan itu segera kutepiskan dari anganku karena hari ini aku telah berencana untuk berangkat ke Husnul Khotimah untuk mendaftarkan adikku ke sana.

Air mineral 1500 L telah tersedia dalam tas gendongku, tak lupa foto, formulir, beserta administrasi pendaftaran lainnya juga telah masuk ke dalamnya. Sepeda gunung hitam milik teman di asrama juga telah terparkir rapih di depan asrama. Sepeda?. Ya, perjalanan kali ini akan ditempuh menggunakan sepeda. Tentu saja tidak murni 100% Bandung-Kuningan, cukup Cirebon-Kuningan saja untuk mengawali perjalanan pertamaku menggunakan sepeda. Cirebon-Kuningan berjarak 37 kilometer, mungkin tak berbeda jauh dengan jarak Cikande-Serang (dari rumah ke sekolah) sehingga dengan waktu maksimal 2 jam kurasa cukup untuk mencapainya.

Bismillahirrahmanirrahim…Pukul 08.00 perjalanan di mulai. Goesan pertama terasa begitu tenang, di bantu dengan turunan jalan Cisitu dan Dipati Ukur yang menambah laju sepeda membuat kakiku tak perlu bersusah payah untuk mengayuh. Jalan-jalan di bandung mulai padat, mungkin karena hari ini adalah akhir minggu, sehingga cukup banyak mobil-mobil ber plat B berseliweran di mana-mana. Perjalanan menuju terminal Cicaheum tak begitu sulit untuk ditempuh, hanya saja rem yang sedikit blong membuatku sedikit khawatir jikalau nantinya banyak turunan.

Sesampainya di terminal Cicaheum mataku liar mencari bis menuju Cirebon, segera ku arahkan sepeda menuju ke sana, mengangkat dan memarkirkannya ke dalam bus. Bus masih cukup kosong sehingga ada waktu bagiku untuk memperhatikan keadaan sekitar sambil berkomunikasi dengan orang-orang sekitar (kaya caleg bgt yah). Ada pelajaran menarik dari salah satu perbincanganku dengan mamang penjual dodol (lupa nanya namanya euy, pokoke SKSD aja). Pria kelahiran tahun 1959 itu mengaku masih ada hubungan saudara dengan Bpk Suharna Surapranata (Caleg DPR-RI PKS). “Pak Suharna itu walaupun politisi tapi dia termasuk yang bersih loh Dek” ujarnya dengan semangat, hingga pada akhirnya ditutup dengan kalimat “kalo bisa mah semua anak ITB milihnya yang bersih kaya dia juga biar bias lebih peduli sama nasib rakyat”. “Sudah ada kata bersih dan peduli, tinggal kata profesionalnya aja yang belom di ucapin nih” batinku dalam hati.

(bersambung…..)

Read Full Post »

Ironi Kesempatan Pendidikan

Matahari belum lama meninggi, namun sudah cukup untuk hangatkan ibu kota Jawa Barat ini. Mahasiswa-mahasiswi sudah hiruk pikuk dalam aktivitasnya masing-masing, meraih mimpi-mimpi yang di canangkan kian tinggi untuk negeri. Semua cita-cita rasanya bisa dicapai di sini. Tak ada yang yang mustahil. Mulai dari Presiden RI, pengusaha, sampai dengan politisi sepertinya cukup dekat jika diraih melewati bangku universitas. Namun agaknya cita-cita tersebut tidak bisa dimiliki oleh semua anak negeri.

Reza dan Rahmat adalah contoh kecil dari ketidakmerataan kesempatan pendidikan di Indonesia. Kakak beradik yang masing-masing menginjak kelas 3 dan 4 SD itu harus meninggalkan pendidikannya di sekolah dasar karena ketidakmampuan ekonomi orang tua mereka untuk menanggung biaya pendidikan. Tiap paginya mereka harus berkeliling sambil memanggul karung bekas untuk diisi dengan pelbagai barang rongsokan seperti plastic, kardus, dan besi-besian. Jangankan untuk membiayai kebutuhan pendidikan seperti buku, tas, dll, untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari saja keluarga mereka harus mencukupkan diri dengan ± Rp. 50.000/3 hari, itupun jika hasil rongsokan yang didapat cukup banyak. Mungkin sekarang beban pembiayaan pendidikan telah sedikit terobati dengan adanya bantuan operasional sekolah (BOS), namun pada kenyataannya biaya pendidikan masih cukup besar untuk sebagian kalangan seperti keluarga Reza dan Rahmat. Ditambah lagi program SSN (Sekolah Berstandar Nasional) yang mewajibkan setiap kelas untuk hanya menampung kurang dari 30 siswa seolah membenturkan antara kesempatan dengan kualitas pendidikan. Pilihan lain untuk mendapatkan pendidikan tentunya beralih ke sekolah swasta yang cukup murah, namun tetap saja dibandingkan sekolah negeri biaya di sekolah swasta cukup untuk membuat keluarga mereka mengencangkan ikat pinggangnya.

Tentunya dengan banyaknya hambatan dalam pemerataan kesempatan pendidikan di negeri ini tidak boleh membuat kita surut untuk memperbaikinya. Pendidikan di Indonesia membutuhkan peran aktif masyarakat yang sadar dan peduli akan pentingnya pendidikan untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan dan kuantitas kesempatan pendidikan. Karna dengan menjunjung tinggi pendidikan berarti kita telah menjadi air dalam gelombang perubahan Indonesia menjadi lebih baik.

Kini Reza dan Rahmat telah melanjutkan pendidikannya di bangku Sekolah Dasar Al-Falah Bandung atas bantuan dari Program Anak Bangsa. Semoga kedepannya semakin banyak masyarakat yang turut andil dalam membantu anak-anak negeri untuk mewujudkan cita-citanya.

sandi

Tersenyumlah adik-adikku…

Harapan itu masih ada…

Read Full Post »