Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2009

Doa Untuk Ayah

Aku berdoa untuk seorang lelaki yang telah menjadi bagian hidupku
Seorang lelaki yang telah mengajarkanku bagaimana mencintaiMu
Seorang lelaki yang hadir dalam setiap doa setelah shalatku
Seorang lelaki yang meletakkan namaku dalam lantunan doanya untukMu
Seorang lelaki yang hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuku, Ibu, adik-kakakku, dan untukMu
Seorang lelaki yang selalu menasehatiku untuk membakar kelemahan dan kekuranganku
Seorang lelaki yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi sedihnya
Seorang lelaki yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang lelaki yang menjadi pemimpinku di saat aku kehilangan arah
Seorang lelaki yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seorang lelaki yang selalu mengingatkanku akan mimpi besarku
Seorang lelaki yang menjadi pahlawan dalam keluargaku
Seorang lelaki yang ku ingin untuk mendampingiku menuju JannahMu
Dan aku berdoa untuknya
Berikanlah kekuatan kepadanya untuk melewati cobaanMu, agar ia mampu bangkit tiap kali badai menerpa
Berikanlah ia kehidupan yang mulia, sehingga ia dapat memuliakanMu
Berikanlah ia hati yang senantiasa ikhlas dan kuat menerima amanah-amanahMu
Berikanlah ia dada yang lapang, sehingga ia dapat sabar dalam mendidik anak titipan dari Mu
Berikanlah ia umur yang berkah, sehinga tiap detik waktunya tak sia-sia di mata Mu

“Allah  tidak  membebani  seseorang  melainkan  sesuai  dengan  kesanggupannya.  Ia mendapat  pahala  (dari  kebajikan)  yang  diusahakannya  dan  ia  mendapat  siksa  (dari kejahatan)  yang  dikerjakannya.  (Mereka  berdoa)  :”Ya  Tuhan  kami,  janganlah  Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau berikan kepada orang- orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampuni kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.”(QS. Al-baqarah : 286)

“Apabila  seorang  anak  Adam  meninggal  dunia,  maka  amalnnya  terputus,  kecuali  3 macam,  yaitu  : harta  yang  diwakafkan,  ilmu  yang bermanfaat, atau anak  shaleh  yang mendoakan dirinya” (HR Muslim)

Ya Allah. Jadikanlah aku anak yang shaleh, sehingga aku dapat menjadi pembuka gerbang surga untuknya. Ya Allah. Lindungilah orang yang kucintai dan mencintaiku dengan cintaMu.

Amiiinn….

Read Full Post »

Jauh Mimpiku (Peterpan)

pernah ku simpan jauh rasa ini
berdua jalani cerita
kau ciptakan mimpiku
jujur ku hanya sesalkan diriku

kau tinggalkan mimpiku
dan itu hanya sesalkan diriku

ku harus lepaskanmu
melupakan senyummu
semua tentangmu, tentangku, hanya harap
jauh, ku jauh, mimpiku dng inginku

ku harus lepaskanmu
melupakan senyummu
semua tentangmu, tentangku, hanya harap
semua tentangmu, tentangku, hanya harap
jauh, ku jauh, mimpiku dng inginku

semua tentangmu, tentangku, hanya harap
jauh, ku jauh, mimpiku dng inginku

jauh mimpiku dengan inginku

Read Full Post »

jalan menuju pelangiLangit bak menunduk di hadapan bukit-bukit yang disapu awan tipis, matahari mulai kehilangan cahayanya dan hanya menyisakan spectrum jingga yang mengisi kelabunya langit sore di Jalaksana-Kuningan. Jari-jari sepeda terus berputar dengan laju meski tanpa kayuhan, mengarungi jalan yang awalnya dilalui dengan perlahan. Melihat jalan yang mulai jarang dilalui kendaraan, kulepaskan pegangan kemudi sepeda dan membuka lebar kedua tanganku sambil merasakan angin yang perlahan mulai terasa dingin memasuki bulu romaku. Bulan tampak indah meskipun hanya sebagian, elok memendarkan sinarnya dari balik kelabunya awan. Sesekali kupejamkan mata sejenak sambil meresapi indahnya masih diberi kesempatan untuk melalui semua ini dan “tes”. Sebulir air jatuh dari langit disusul dengan ribuan lainnya yang perlahan jatuh membasahi bumi dan wajahku. Dan akhirnya rintik gerimis, putaran roda, dan cahaya bulan, menyatu bersama senyuman seorang pria yang melaju kencang di atas sepeda hitam mencoba untuk terus mencari pelajaran dari sebuah perjalanan.

Read Full Post »

3324866855_514be1cf91_mBis Bandung-Cirebon mulai melaju dengan kecepatan sedang menembus jalan lantaran banyak kendaraan lain yang semakin padat mengisi jalan-jalan menuju kota Bandung. Sepeda hitamku pun bergoyang harmonik di dalam Bis, menari-nari beraturan mengikuti kelokan jalan raya yang dilaluinya, tampak berusaha menikmati perjalanan yang akan dilaluinya. Aku tentunya tak ingin kalah, kucoba untuk sedikit demi sedikit meredupkan cahaya mata, agar cepat terlempar menuju dunia mimpi sambil menikmati pemandangan dari kaca belakang.

“Duk..” kepalaku terbentur kaca bis, menyadarkanku dari kantuk yang baru hinggap. Kucoba lihat sekitarku, pemandangan ruko-ruko pinggiran Bandung trelah berubah total, menjelma menjadi jurang yang dalam di kanan dan tebing tinggi di kiri. Bis tak terlihat menurunkan lajunya, malah terasa tambah laju dan bergoyang di kelokan-kelokan. Jalan Cadas Pangeran tampak begitu kokoh berdiri di atas batuan gunung. Jalan sepanjang 3 km ini hanyalah bagian kecil dari 1000 km megaproyek Anyer-Panarukan milik Daendels, namun memakan korban hampir setengah (lebih dari 5000 jiwa) dari korban kerja rodi. Bis masih meliuk liuk dengan tajam di selingi dengan rem mendadak karena di balik tikungan ternyata ada bis lain yang juga melaju dengan kecepatan tinggi menyalip kendaraan di depannya. Para penumpang tampak waspada, tak ingin memalingkan sedetikpun pandangannya dari depan jalan. Beberapa bahkan ada yang hampir berteriak jika tidak segera menutup mulutnya dengan tangan. Sepertinya supir bis Bandung-Cirebon nantinya banyak yang akan masuk surga, bagaimana tidak, setiap melewati kawasan Cadas Pangeran mereka membuat sebagian penumpangnya ingat akan mati dan berdoa kepada Allah.

Cirebon tampak begitu terik, matahari sudah hampir tergelincir dari titik puncaknya meninggalkan embun pagi yang telah lama menguap. Bersatu di angkasa menjadi segerombolan awan yang berarak mengisi sudut, sudut bumi. Kukayuh sepedaku menuju ke selatan kota Cirebon. Ternyata tak sulit untuk menemukan arah arah jalan menuju kuningan, aku hanya melaju lurus dan mengikuti papan penunjuk arah berwarna hijau di pinggir jalan maka dengan kurang lebih 30 menit saja kita telah berada di jalur –Cirebon-Kuningan. Pemandangan di awal lajur ini cukup indah, sisi kiri dan kanan jalan hanyalah hamparan hijau yang cukup asri, hanya saja entah kenapa jalur yang kulewati dari tadi terus mendaki tanpa satupun jalan datar, apalagi jalan menurun.

Dua jam lebih sudah aku mengayuh, tubuhku sudah basah akan keringat. Siang seakan tak mau sedikit berkompromi, matahari terasa tambah terik dan gerombolan awan tak ada yang mau menghalangi cahayanya sejenak untukku. Karena merasa letih, akhirnya kuputuskan untuk sejenak beristirahat di bawah pohon rindang di sisi kiri jalan. Kedua kaki kuluruskan sambil menenggak air mineral dari botol 1,5 l. Mataku liar, menatap sisi lain jalan raya. Menerawang jauh. Menatap hijau pekarangan padi, dan tebu yang terlihat terkotak-kotak bergantian mengisi hamparan hijau di depan mata. Tubuhku terasa lemas, seakan tidak ingin lagi melanjutkan perjalanan. Beginilah manusia, seringkali berapi-api menentukan tujuan, namun saat menemui rintangan di tengah perjalanan kadang menyesal telah memilih. Tapi bagiku saat telah menetapkan arah tujuan, saat telah memilih sesuatu yang diyakini, maka tak ada alasan untuk kembali. Apapun alasannya tetap tak ada alasan untuk kembali.

Setelah lelah sedikit terobati oleh pemandangan sekitar, perjalanan akhirnya dilanjutkan kembali. Apalagi ditambah tenaga yang baru didapat saat beristirahat di pesantren Al-Muttaqin, rasanya perjalanan 24 jam bisa diarungi tanpa henti (asalkan tidak ada dakian.haha..). Perkebunan tebu dan sawah masih terus bergantian mengisi sisi kiri kanan jalan meski jalan menurun belum juga tampak, awan kelabu tipis mulai bergerak menghalangi matahari yang menunjukkan pertanda hujan akan segera turun sedikit member keringanan. Lelah yang mulai timbul tenggelam kuobati dengan menenteng sepeda sambil menyampaikan senyum ke penduduk sekitar.

Alhamdulillah kini pemukiman penduduk mulai terlihat ramai, akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya ke salah seorang ibu yang kebetulan sedang menyendiri di depan rumahnya. “Bu Punten, kalo ke Jalaksana masih jauh gak ya?” tanyaku sambil menyunggingkan senyuman ke arahnya. Dengan tatapan yang antusias wanita paruh baya tersebut menunjukkan arahnya “Oh ke sana aja dek luruss, masih jauuuh ko”. Waduh celaka pikirku. Orang sunda itu sulit dipercaya jika ditanya soal jarak. Saat mereka bilang dekat saja itu berarti masih jauh, apa lagi mereka bilang jauh plus di tambah 3 harokat di huruf “u”. Dengan sedikit agak menyesal karena telah bertanya ku kayuh kembali roda sepeda melewati jalan yang masih juga mendaki. Sempat terpikir untuk menitipkan sepeda ke DPC PKS setempat (karna di pinggir jalan) lantas melanjutkan dengan kendaraan umum, namun segera kusingkirkan pikiran itu dan kembali mengarungi jalan penuh dakian ini.

Pukul 16.30 akhirnya sampailah aku didepan gerbang pesantren Husnul Khotimah. Disambut dengan 2 orang satpam yang Nampak sedang sibuk melayani absen siswanya. Sambil terengah-engah lantaran mengarungi dakian akupun meminta izin untuk duduk terlebih dahulu sambil kembali mengambilb air dari botol mineral 1,5 l ku. “Pak saya mau daftar buat jadi santri masih bias ya pak?”, tanyaku sablil mengatur pola nafas yang mulai kembali berirama. “wah jam segini mah udah tutup dek, besok pagi ja balik lagi, emang dari mana..?” jawab salah seorang satpam bertubuh tegap. Tanpa pikir panjang akupun tersenyum sambil sedikit tercengang saat mendengar kata kembali “lagi besok”. Dengan sedikit kecewa akupun menjawab “dari Bandung pak”. Serentak kedua satpam itu tersenyum menahan tawa sambil melirik ke arah sepedaku. Namun akhirnya dengan sedikit diplomasi akhirnya aku diantarkan menuju kantor pendaftaran dan diperbolehkan untuk mendaftar meskipun sebenarnya pendaftaran telah tutup semenjak pukul 15.00. “Makasih ya Pak” ucapku sambil mengayuh sepeda kembali untuk pulang

Read Full Post »