Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2009

Nelayan Pantai Klandasan

100_5355Langit belum sepenuhnya cerah. Awan mendung menyelimuti Timur , sembunyikan bola cahaya dari pengelihatan bumi yang beranjak pagi. Angin berhembus kencang mengacak rambutku, membuat sisiran rapi pagi tadi menjadi tak beraturan. Aroma angin laut terasa kuat menyengat, semakin menegaskan bau pesisir dengan garis putih yang perlahan mendekat, membesar, sesaat kemudian mendesis dan berhambur menubruk pasir lantas menghilang. Berulang-ulang.

Perahu-perahu kecil terlihat terparkir rapi di dinding yang memisahkan jalan dan pantai, tampak terhenyak dipisahkan dengan air. Seorang nelayan tampak sedang bersiap berlayar, sejenak memeriksa perahu kecilnya lantas memandang sekitar seperti mencari seseorang untuk dimintai bantuan. “Mau tunurunin perahu kah Pak?” tanyaku setengah berteriak, memecah irama debur ombak yang mendebur pasir. Sambil tersenyum malu ia pun meg-iya-kan pertanyaanku. Akupun meletakkan jaket dan tas biru dongkerku sambil perlahan berjalan ke arahnya. Perahu kecil tanpa mesin yang hanya cukup untuk satu orang itu ternyata cukup berat walaupun telah diangkat oleh 2 tenaga. Tak lama kemudian kami berdua telah mendaratkan perahu kecil itu di pantai. Rasanya lega saat mendorong perahu kecil tersebut perlahan memasuki air dan membuatnya mengapung di atas buih ombak. Saat air telah mencapai lutut iapun naik dan bergegas mengambil dayung dari dasar perahunya.

Perahu kecil itu terhuyung tergulung ombak. Naik, turun, dan gontai dipermainkan air laut. Sang nahkoda dengan tanggap memainkan dayungnya ke kiri dan kanan. Tak berhenti melaju meskipun di depannya terlihat ombak yang tak henti menghambatnya melaut. Tak beberapa lama kemudian saat perahunya telah cukup tenang di atas air iapun mulai meraih secarik kain bekas baligho yang di ikatkan ke tiang dan menyusunnya di atas perahu. Jadilah layar perahu itu terkembang. Setelah memastikan angin meniup layarnya ke arah yang diinginkan iapun menoleh ke belakang. Ke arahku. Melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum memperlihatkan giginya dari kejauhan. Meninggalkan aku bersama buih yang datang lalu pergi, dan datang lagi. Melihatnya berjuang sendirian menerjang ombak, rasanya malu. Ada orang yang berjuang dalam keterbatasannya, sementara aku masih banyak menyiakan kesempatan yang di berikan.

Mentari mulai menunjukkan wajahnya. Menghangatkan pagi yang cerah berawan di kota Balikpapan. Kulambaikan tangan ke arah sang nelayan yang masih melihat ke arahku. Selamat jalan nelayan pantai klandasan. terima kasih atas pelajaran berjudul “Perjuangan”. :’)

Read Full Post »