Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2009

Senyum di Malam Takbiran

2927361734388be7b45cdq6Malam ini kota Tangerang terlihat ramai. Jalan-jalan tumpah ruah dengan kendaraan. Baik itu roda 2 yang menyemarakkan dengan klaksonnya ataupun kendaraan roda 4 yang di isi orang-orang yang terlihat gembira sambil menabuh beduk. Langit dipenuhi kembang api yang berpendar bergantian dari satu sudut ke sudut lainnya. Bersahutan tak berirama.

Semua orang, anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi terlihat begitu senang di malam Ied ini. Akupun melamun sembari tersenyum di balik kaca angkutan umum sambil memegangi parcel. Benda ini harus kuantarkan malam ini juga ke daerah ciputat. “Mas dah sampai”. Perkataan supir angkot menyadarkanku dari lamunan, aku berhenti di bawah kolong jembatan layang di daerah ciputat. Waktu sudah berkisar di angka 11 malam, namun angkutan terakhir untuk sampai di alamat yang dituju tak jua kutemukan lewat di depan hidungku. Lelah menunggu, akhirnya  kuhampiri kumpulan lelaki yang duduk di atas motor. Kupilih yang paling tua diantara mereka, “Bapak, bias antar saya ke alamat ini Pak?” tanyaku ke seorang lelaki yang telah beruban tersebut. “Oh iya Mas, bisa” sahutnya segera dan langsung menyiapkan roda duanya ke alamat yang kutunjukkan.

Alamat yang dituju ternyata tak begitu jauh, mungkin sekitar 10 km. Jarak yang cukup jauh untuk diisi dengan pembicaraan ringan antara aku dan dia. Yang unik adalah Bapak ber anak 5 ini mengaku pernah menjadi mekanik Ananda Micola..hehe.. Akupun hanya tersenyum tak percaya.

Tak lama kemudian parcel telah kuantar dengan selamat. “Pak langsung ke Lebak bulus aja ya Pak” sahutku ke bapak pengendara motor. Kami ber dua kembali memacu motor di tengah jalan yang mulai lengang. Namun belum juga jauh berjalan aku menghentikannya dengan berkata “Stop di sini Pak”. Kami berhenti di depan took buah yang masih buka, “Tunggu sebentar ya Pak” sambutku lagi. Di sana aku melihat buah-buahan yang cukup segar. Mataku tertarik pada gerumulan anggur yang terlihat begitu ranum. “Ini berapa pak?” telunjukku menunjuk buah anggur sambil memetiknya tanpa izin dan melahapnya beberapa. Dan ternyata memang manis..hehe..Tawar menawar terjadi dan akhirnya akupun membawa sebungkus kantung plastik hitam di tangan kananku.

Perjalanan kembali dilanjutkan, namun tak lama berselang motor kembali kuhentikan. “saya haus Pak, mau beli minum dulu” ucapku kepadanya dan langsung di iyakan dengan rona keheranan di wajahnya. Mungkin bapak pengendara motor itu berfikir “Ni orang dari tadi minta berenti mulu, mending kalo cepet. Dia mah ngobrol2 dulu sama mamang yg jualnya”. Hehe…Mungkin memang dasar lelaki yg mudah tertarik, selain membeli sebotol green tea madu mataku kembali terpukau oleh kelengkeng yang di jual di sana. Hal ini membuat aku semakin lama karena harus mencicipi beberapa sambil menunggunya menimbang (maunya curi2 kesempatan hehe). Bapak pengendara motor terlihat tidak sabar menunggu di atas jok motor tuanya. Dan wajahnya terlihat kembali cerah saat aku keluar dari toko tersebut.

Terminal lebak bulus telah sepi, hari telah berganti lantaran waktu telah cukup lama melewati pukul 00.00. “Terima kasih ya Pak” ucapku sambil mengeluarkan selembar rupiah. Jumlah yang sepertinya terlalu banyak untuk sekedar mengantar ciputat-lebak bulus. Dan selintas kemudian senyumnya bertambah lebar saat aku menyodorkan bungkusan plastic yang dibeli di jalan tadi. “Jadi tadi buat saya Mas..makasih banyak ya Mas..” lelaki itu tersenyum kepadaku sambil perlahan kembali memutar sepeda motor tuanya. Ya Allah… Senyuman itu senyuman yang paling aku suka. Senyuman syukur kepadaMu. Senyum yang benar-benar tulus karena janjimu untuk memberinya rizki dari arah yang tidak terduga-duga. Mungkin aku tak tau kebaikan apa yang hari ini ia kerjakan sehingga Engkau memilihnya untuk menerima itu semua. Namun aku sadar bahwa aku hanyalah perantara yang Engkau takdirkan untuk dipertemukan dengannya. Aku membawa rizki untuknya dan Engkau yang mempertemukannya dengan yang berhak menerimanya. Ya Allah, semoga aku bisa lebih banyak melihat senyum seperti itu, dan aku mampu tersenyum se ikhlas itu. Amin..

Dan kamipun dipisahkan oleh malam yang semakin pekat di terminal lebak bulus, di iringi seruan Takbir yang menggema dati corong-corong masjid. Aroma khas terminal yang bercampur antara pesing dan sampah menusuk hidungku. Dalam hening aku aku kembali melangkah meneruskan perjalanan pulang, semoga langkah ini tak pernah terhenti.

langkah-imil

Malam ini kota Tangerang terlihat ramai. Jalan-jalan tumpah ruah dengan kendaraan. Baik itu roda 2 yang menyemarakkan dengan klaksonnya ataupun kendaraan roda 4 yang di isi orang-orang yang terlihat gembira sambil menabuh beduk. Langit dipenuhi kembang api yang berpendar bergantian dari satu sudut ke sudut lainnya. Bersahutan tak berirama.

Semua orang, anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi terlihat begitu senang di malam Ied ini. Akupun melamun sembari tersenyum di balik kaca angkutan umum sambil memegangi parcel. Benda ini harus kuantarkan malam ini juga ke daerah ciputat. “Mas dah sampai”. Perkataan supir angkot menyadarkanku dari lamunan, aku berhenti di bawah kolong jembatan layang di daerah ciputat. Waktu sudah berkisar di angka 11 malam, namun angkutan terakhir untuk sampai di alamat yang dituju tak jua kutemukan lewat di depan hidungku. Lelah menunggu, akhirnya  kuhampiri kumpulan lelaki yang duduk di atas motor. Kupilih yang paling tua diantara mereka, “Bapak, bias antar saya ke alamat ini Pak?” tanyaku ke seorang lelaki yang telah beruban tersebut. “Oh iya Mas, bisa” sahutnya segera dan langsung menyiapkan roda duanya ke alamat yang kutunjukkan.

Alamat yang dituju ternyata tak begitu jauh, mungkin sekitar 10 km. Jarak yang cukup jauh untuk diisi dengan pembicaraan ringan antara aku dan dia. Yang unik adalah Bapak ber anak 5 ini mengaku pernah menjadi mekanik Ananda Micola..hehe.. Akupun hanya tersenyum tak percaya.

Tak lama kemudian parcel telah kuantar dengan selamat. “Pak langsung ke Lebak bulus aja ya Pak” sahutku ke bapak pengendara motor. Kami ber dua kembali memacu motor di tengah jalan yang mulai lengang. Namun belum juga jauh berjalan aku menghentikannya dengan berkata “Stop di sini Pak”. Kami berhenti di depan took buah yang masih buka, “Tunggu sebentar ya Pak” sambutku lagi. Di sana aku melihat buah-buahan yang cukup segar. Mataku tertarik pada gerumulan anggur yang terlihat begitu ranum. “Ini berapa pak?” telunjukku menunjuk buah anggur sambil memetiknya tanpa izin dan melahapnya beberapa. Dan ternyata memang manis..hehe..Tawar menawar terjadi dan akhirnya akupun membawa sebungkus kantung plastik hitam di tangan kananku.

Perjalanan kembali dilanjutkan, namun tak lama berselang motor kembali kuhentikan. “saya haus Pak, mau beli minum dulu” ucapku kepadanya dan langsung di iyakan dengan rona keheranan di wajahnya. Mungkin bapak pengendara motor itu berfikir “Ni orang dari tadi minta berenti mulu, mending kalo cepet. Dia mah ngobrol2 dulu sama mamang yg jualnya”. Hehe…Mungkin memang dasar lelaki yg mudah tertarik, selain membeli sebotol green tea madu mataku kembali terpukau oleh kelengkeng yang di jual di sana. Hal ini membuat aku semakin lama karena harus mencicipi beberapa sambil menunggunya menimbang (maunya curi2 kesempatan hehe). Bapak pengendara motor terlihat tidak sabar menunggu di atas jok motor tuanya. Dan wajahnya terlihat kembali cerah saat aku keluar dari toko tersebut.

Terminal lebak bulus telah sepi, hari telah berganti lantaran waktu telah cukup lama melewati pukul 00.00. “Terima kasih ya Pak” ucapku sambil mengeluarkan selembar rupiah. Jumlah yang sepertinya terlalu banyak untuk sekedar mengantar ciputat-lebak bulus. Dan selintas kemudian senyumnya bertambah lebar saat aku menyodorkan bungkusan plastic yang dibeli di jalan tadi. “Jadi tadi buat saya Mas..makasih banyak ya Mas..” lelaki itu tersenyum kepadaku sambil perlahan kembali memutar sepeda motor tuanya. Ya Allah… Senyuman itu senyuman yang paling aku suka. Senyuman syukur kepadaMu. Senyum yang benar-benar tulus karena janjimu untuk memberinya rizki dari arah yang tidak terduga-duga. Mungkin aku tak tau kebaikan apa yang hari ini ia kerjakan sehingga Engkau memilihnya untuk menerima itu semua. Namun aku sadar bahwa aku hanyalah perantara yang Engkau takdirkan untuk dipertemukan dengannya. Aku membawa rizki untuknya dan Engkau yang mempertemukannya dengan yang berhak menerimanya. Ya Allah, semoga aku bisa lebih banyak melihat senyum seperti itu, dan aku mampu tersenyum se ikhlas itu. Amin..

Read Full Post »

Jaket BKKMTKI

Jaket BKKMTKI

Read Full Post »