Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Tulisan’ Category

Membuat Kerangka, Merangkai Cerita

Rasanya cukup lama saya tidak berhubungan kembali dengan dunia tulis menulis. Malam ini, didasari oleh keinginan untuk kembali belajar, maka setelah melihat laptop beberapa lama, saya putuskan untuk kembali menjentikkan jari di atas tuts  keyboard yang sepertinya menanti untuk bermain bersama.

Setelah saya hitung, hari ini tepat 4 tahun dan 205 hari semenjak terakhir saya posting tulisan terakhir di wordpress. Dan ini pula posting pertama saya sejak diterima bekerja di sebuah perusahaan Tambang.

Banyak hal sebenarnya yang ingin coba untuk dituangkan, namun rasanya kata-kata yang ada di kepala tak mampu berkumpul menjadi kalimat yang tepat untuk disalurkan melalui kesepuluh jari yang tak semuanya adil menari bersama. Selain itu, tampaknya satu hal yang belum lagi terasah di hampir lima tahun keberjalanan hidup saya adalah bagaimana membangun kembali kerangka. Ya kerangka yang biasa saya gunakan untuk menyampakan suatu pesan, menggambarkan sebuah cerita, atau hanya sekedar menumpahkan curhatan kecil melalui tulisan. Kerangka itulah yang nantinya memandu susunan-susunan kalimat sehingga kalimat yang disampaikan dapat mencapai pesan yang ingin disampaikan.

Malam ini rasanya kerangka-kerangka tersebut masih beraduk, bercampur baur dengan pikiran-pikiran pekerjaan, gagasan, keinginan dan lain sebagainya, sehingga jika dituliskan maka bisa jadi jari-jari ini akan ikut terlilit satu sama lain. Maka izinkan saya untuk kembali merajut helai demi helai kerangka, sehingga dapat menjadi sebuah cerita yang sama-sama dapat kita nikmati.

Mari mebuat kerangka, merangkai cerita….

Merangka kata

Read Full Post »

Jalan Mimpi

Jika jalan yang kupilih berbeda dengan jalanmu, apakau kau akan mengikutiku?Jika mimpi yang kutuju bukan mimpi yang engkau inginkan, apa kau akan tetap berjalan di sampingku?. Nona. Jalan kta masih panjang, bahkan kita tak pernah tau sampai dibatas mana kita mampu bermimpi. Hidup itu seperti ruangan dengan beberapa pintu, yang jika kita pilih salah satunya akan menghadapkan kita pada pintu-pintu yang lain. Aku tak ingin menyeretmu hingga terperosok kedalam pilihanku,dan akupun tak mungkin melupakan mimpiku untuk berjalan di sampingmu. Nona. Kita masih muda, masih banyak pintu yang akan terbuka saat kita mengetuknya, masih banyak ruang yang bisa kita isi saat memasukinya. Jika saat ini kita berada di jalan mimpi yang berbeda, mungkin suatu saat kita akan kembali bertemu di tempat yang berbeda. Tempat dimana mimpi kita membentuk simpul yang akan menyatukan kita.

.

Jika memang kita telah berada di jalan mimpi yang sama maka raihlah tanganku, dan aku akan menggenggam tanganmu hingga berguguran dosa kita dari sela jemari kita. Selamanya.

Read Full Post »

Hujan dan Senja

Senja di dermaga itu mengingatkanku pada tempat hati kita pertama kali bertemu. Hujan masih belum habis benar jatuh dari cumulus nimbus yang beriring ke Timur. Angin berhembus memporakporandakan dahan waru yang menggenggam lemah daun kecil. Mengoyangnya perlahan. Hingga ia terlepas, berpilin, kemudian jatuh berguling diantara pasir-pasir pantai yang basah. “Senja dan hujan..perpaduan yang menarik bukan..?mereka bertentangan namun saling melengkapi keindahan masing-masing” bisikmu perlahan waktu itu.

Aku tak mampu berkata apa-apa. Hanya senyum mengembang dari tubuhku yang duduk meringkuk memeluk kedua kaki yang dapat kutunjukkan. Aku tahu ini bukan sekedar tentang pertanyaanmu, dan kau tentunya tak hanya mengharapkan jawaban ‘sangat menarik..’ dariku. Kita telah lama saling mengenal, meskipun jarak dan pertemuan belum mendukung kita. Kau pastinya tau bukan?tau kalau aku menyukai senja yang tampak megah dengan siluet jingganya. Dan akupun mengerti. Kau menyukai hujan, yang selalu kau mainkan rintiknya agar memenggelitik jari kananmu sampai kuyup sekujur lenganmu.

Hujan dan senja di dermaga itu. Bukan hanya tentang apa yang kau dan aku lihat. Tapi ini tentang kita, yang tak juga bersuara gamblang tentang apa yang kita sama-sama rasa. Mungkin hati kita berbicara terlalu banyak, sehingga menyumpal saluran pengalir kata ke lidah kita. Dan kitapun terus berbicara dalam diam dan senyuman.

“Kita tak hanya menunggu hujan dan senja bukan..?” aku memberanikan diri berbicara tanpa menjawab pertanyaanmu. “Kita menunggu hadirnya pelangi..” lanjutku secepat mungkin sebelum lidahmu sigap untuk mengeluarkan suara. Ya benar. Aku dan dia memang menunggu pelangi yang melengkung indah di langit jingga. Pelangi yang dapat mempersatukan hujan dan senja tanpa banyak berbicara.

Read Full Post »

Aku dan ITB

Adalah “Universitas Brawijaya”, sebuah tempat yang telah saya tuju semenjak menginjak bangku SLTA. Bahkan sampai lulus dari SMAN 1 Serang pun saya masih menginginkan berkuliah di sana. Bukan dengan tanpa alasan tentunya, selain memang berniat untuk kembali ke tanah kelahiran, saya juga tidak merasa mampu meraih ITB, UI ataupun UGM yang merupakan tempat bagi siswa-siswi terbaik. Selain itu biaya yang dikeluarkan untuk berkuliah di 3 universitas tersebut bisa dibilang mustahil untuk dapat dipasok sampai akhir. Jadi, tentulah PMDK Teknik Mesin Brawijawa adalah pilihan rasional.

Ternyata manusia memang hanya bisa berencana. Teknik Mesin Unbraw tidak saya dapatkan, mungkin karena memang nilai kimia di raport saya pernah mencapai nilai yang cukup fantastis, yaitu 5. Jadi tentu wajar jika Bapak-bapak di Brawijaya tidak menerima saya.

Berawal dari kepanikan tidak diterima di universitas manapun, akhirnya saya mulai belajar dengan sungguh2 dan mengikuti intensif di Nurul Fikri untuk memantapkan kompetensi saya. Berhubung kocek yang saya miliki tak begitu banyak maka sayapun harus memutar otak untuk menutupi kekurangannya. Alhamdulilah mungkin memang sudah jalannya, seorang kawan memberikan saya formulir SPMB dengan harga murah, sehingga uang sisanya dapat saya pergunakan untuk menutupi biaya di NF. Semoga Allah membalas kebaikanmu kawan.

Teknik Kimia, sebuah jurusan yang bahkan tak saya mengerti sebelumnya. Seorang kawan menyarankan untuk mengambilnya karna melihat ketertarikanku pada kimia dan fisika. Tak tanggung-tanggung, Teknik Kimia ITB. Bukan lainnya. Sungguh aku sangat berbahagia setelah mendapat ilmu di dalamnya. Semoga Allah merahmati beliau.

“Man Jadda wa Jada”. Dulu bahkan aku tak mengerti apa arti kalimat ini. Namun Allah membuatku mengerti, Dia tak menunjukkan kekuasaanNya hingga aku mengerti dan memahami apa arti kata tersebut. Sungguh, Dia mengajarkan kepadaku dengan begitu baik, dengan metode yang tak akan pernah dilupakan oleh seorang pelupa sepertiku.

Diterima di ITB bukanlah akhir dari perjuangan. Karna biaya hidup di bandung tentulah membutuhkan biaya yg tidak sedikit. Ditambah tiap semester harus membayar uang kuliah yang lebih tinggi dibanding UI ataupun UGM (meskipun begitu biaya masuk ITB lebih murah hanya 800rb di awal masuk). Tapi Alhamdulillah sekali lagi, saya mendapatkan beasiswa dari program TPSDP sebesar 1,5jt, sehingga uang semester menjadi lancer. Selain itu saya juga bersyukur karena dapat memasuki Asrama Bumi Ganesha yang pada waktu itu hanya berbiaya Rp. 64.000/bulan. Bukankah rejeki itu memang dating dari arah yang tidak kita sangka..?

“Nikmat Allah manakah yang kamu dustakan..?”

Read Full Post »

Merokok dan Kentut

“Mas rokoknya bisa dimatikan?” sahut seorang wanita paruh baya yang tengah memangku anaknya. Alih alih langsung mematikan rokoknya, lelaki yang diajak biacara itu malah semakin menjadi-jadi memainkan kepulan asap si sekeliling wajahnya sambil memasang muka bengis ala mafia Hongkong. Mungkin lelaki ini  (atau mungkin penulis) terlalu banyak menonton TV sehingga terinspirasi memasang muka preman, namun sayang tempatnya kurang tepat. Angkutan umum bukanlah tempat yang cocok untuk berperilaku seperti itu. “Depan kiri Pak..!!” ucap Ibu paruh baya itu lagi. Dengan cekatan sopir angkot menerima sinyal untuk segera menepikan kendaraannya, walau mungkin terkadang agak membahayakan pengendara motor di belakangnya. Ibu itu turun , dari rona wajahnya kita bisa tau kalu sebenarnya ini bukan tempat yang ia tuju, sekedar menghindar dampak pasif dari peringatan “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan janin”. Segerombolan anak berseragam putih-merah masuk saat Ibu itu tengah menyerahkan beberapa lembar uang ribuan. Selayaknya anak-anak, merekapun membuat kegaduhan di dalam mobil dengan tawa, canda, ledekan, kadang malah makian khas anak-anak. Hal ini tampaknya membuat si preman jengah, “Woii..berisik!!” sentaknya sambil membesarkan bukaan kelopak matanya di tengah asap yang ia timbulkan. Anak-anak itupun terdiam, sembari cengar cengrir menyenggol tamannya sambil berbisik “elu sih..” dan bersahut “ “enak aja, dia tu yg mulai duluan”. Suasana mulai bosan saat anak-anak itu lelah menyalahkan. Namun dalam diam, tiba-tiba tanpa pertanda apapun muncul muncul bau busuk di dalam angkot tersebut yang kita kenal sebagai bau kentut. Sang preman angkot inipun dengan cepat membuka jendela lebar-lebar, tapi apa daya angkot sudah dipenuhi dengan bau kentut yang sangat menyengat dan gerombolan anak-anak saling bertatapan sambil memencet hidung masing-masing tak mau ketahuan disalahkan. “kiri..kiri..kiri..” si preman memberhentikan angkot dengan cepat, tak kuasa menahan mual yang ditimbulkan bau yang ia hirup tersebut. Ternyata penguasa udara selalu dipergilirkan. Dan eng ing eng..jadilah gerombolan anak kecil itu menguasai keseluruhan angkot sambil kembali menyalahkan “elo ya..?” dan disambuat “bukan gua, si ini kali tu diem-diem aja dia”.

Himbauan untuk yang senang merokok di angkot.

Udara yang berada di sekitar anda adalah milik saya juga, jika tidak ingin melakukan perang udara dengan sesama manusia, makan janganlah mengobarkannya di tempat yang tidak semestinya. Asap rokok dan bau kentut itu sama-sama pencemar udara, Cuma bedanya asap rokok itu beracun, kentut nggak beracun. Jadi orang yg ngerokok di tempat umum itu sebenernya lebih parah dari kentut di muka umum.

Read Full Post »

Renungan

Ya Allah,

Mengapa Engkau memberikanku bayang-bayang keberhasilan

Lantas, menghempaskannya  saat ia tepat di depan mataku

Aku mengerti,

Engkaulah yang berkuasa atas segala Rahmat Mu

Engkau berhak memberikan karunia

kepada orang yang Engkau kehendaki

Tapi mengapa, seolah tak ada jalan untukku?

Mungkinkah Engkau ingin menunjukkan sesuatu kepadaku?

Ataukah Engkau ingin memberikanku di jalan lain?

Atau mungkin Engkau ingin memberikan pelajaran untukku

Sungguh, Engkaulah sebaik-baik pemberi pelajaran bagiku

Engkau mengerti mana jalan terbaik untukku

Ya Rabb,

Mungkinkah aku sombong

Tak selalu menangis di depanmu

Malah tersenyum dengan silih bergantinya masalah ini

Padahal aku tau Engkaulah sebaik-baik tempat mengadu

Ya Rabb, aku lemah di hadapanMu

Dan mungkin lebih lemah dari yang aku rasakan

Aku berserah diri

Atas semua kehendakMu

Dibalik semua ikhtiarku…

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allahkepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (At-Thalaq-7)

Read Full Post »

Menulis Lagi

Lama tak menulis tampaknya membuat tangan saya gatal untuk kembali menuangkan sejumput pikiran yang terendap di kepala. Menulis bagi saya bukanlah sebuah kegiatan untuk sekedar menggoreskan pena di atas kertas putih ataupun menarikan sepuluh jemari di atas tuts keyboard. Bagi saya menulis layaknya seseorang yang sedang ‘berdoa dengan tangan tertelungkup’*. Di sana saya dapat berdoa, berharap, mengeluh, menangis, bahagia, bersyukur dan segala ekspresi lainnya yang terkadang tidak dapat dideskripsikan. Saya dapat menuangkan semua ekspresi tersebut melalui karakter-karakter yang saya bentuk sendiri dalam imajinasi yang jika disatukan mungkin akan mampu menggambarkan karakter pribadi sang penulis dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Menulis bagi saya bukan soal sastra, bukan soal keindahan gaya bahasa, juga bukan soal titik koma. Tapi menulis adalah ungkapan jiwa, tak peduli seburuk apapun gaya bahasa kita ia tetaplah unik seunik nada getar suara kita.  Nyook nulis lagi nyook.. 😀

Akhir kata, mari kita kutip sebuah kata dari Umar bin Khatab: “Ajarilah anakmu sastra, agar ia menjadi pemberani”. Berhubung saya belum punya anak jadi harus nulis sendiri, entar kalo dah punya anak baru disuruh nulis dia.

* biasanya kita berdoa dengan tangan menengadah ke atas, namun saat kita menulis tangan kita menghadap ke bawah (telungkup) itulah mengapa penulis menggunakan ungkapan ‘berdoa dengan tangan tertelungkup’  [frasa ngarang sendiri]

[saya memutuskan (bukan ‘mencoba’) untuk terus menulis minimal 1 tulisan per pekan]

Read Full Post »

Older Posts »