Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Tulisan’

Membuat Kerangka, Merangkai Cerita

Rasanya cukup lama saya tidak berhubungan kembali dengan dunia tulis menulis. Malam ini, didasari oleh keinginan untuk kembali belajar, maka setelah melihat laptop beberapa lama, saya putuskan untuk kembali menjentikkan jari di atas tuts  keyboard yang sepertinya menanti untuk bermain bersama.

Setelah saya hitung, hari ini tepat 4 tahun dan 205 hari semenjak terakhir saya posting tulisan terakhir di wordpress. Dan ini pula posting pertama saya sejak diterima bekerja di sebuah perusahaan Tambang.

Banyak hal sebenarnya yang ingin coba untuk dituangkan, namun rasanya kata-kata yang ada di kepala tak mampu berkumpul menjadi kalimat yang tepat untuk disalurkan melalui kesepuluh jari yang tak semuanya adil menari bersama. Selain itu, tampaknya satu hal yang belum lagi terasah di hampir lima tahun keberjalanan hidup saya adalah bagaimana membangun kembali kerangka. Ya kerangka yang biasa saya gunakan untuk menyampakan suatu pesan, menggambarkan sebuah cerita, atau hanya sekedar menumpahkan curhatan kecil melalui tulisan. Kerangka itulah yang nantinya memandu susunan-susunan kalimat sehingga kalimat yang disampaikan dapat mencapai pesan yang ingin disampaikan.

Malam ini rasanya kerangka-kerangka tersebut masih beraduk, bercampur baur dengan pikiran-pikiran pekerjaan, gagasan, keinginan dan lain sebagainya, sehingga jika dituliskan maka bisa jadi jari-jari ini akan ikut terlilit satu sama lain. Maka izinkan saya untuk kembali merajut helai demi helai kerangka, sehingga dapat menjadi sebuah cerita yang sama-sama dapat kita nikmati.

Mari mebuat kerangka, merangkai cerita….

Merangka kata

Read Full Post »

Aku dan ITB

Adalah “Universitas Brawijaya”, sebuah tempat yang telah saya tuju semenjak menginjak bangku SLTA. Bahkan sampai lulus dari SMAN 1 Serang pun saya masih menginginkan berkuliah di sana. Bukan dengan tanpa alasan tentunya, selain memang berniat untuk kembali ke tanah kelahiran, saya juga tidak merasa mampu meraih ITB, UI ataupun UGM yang merupakan tempat bagi siswa-siswi terbaik. Selain itu biaya yang dikeluarkan untuk berkuliah di 3 universitas tersebut bisa dibilang mustahil untuk dapat dipasok sampai akhir. Jadi, tentulah PMDK Teknik Mesin Brawijawa adalah pilihan rasional.

Ternyata manusia memang hanya bisa berencana. Teknik Mesin Unbraw tidak saya dapatkan, mungkin karena memang nilai kimia di raport saya pernah mencapai nilai yang cukup fantastis, yaitu 5. Jadi tentu wajar jika Bapak-bapak di Brawijaya tidak menerima saya.

Berawal dari kepanikan tidak diterima di universitas manapun, akhirnya saya mulai belajar dengan sungguh2 dan mengikuti intensif di Nurul Fikri untuk memantapkan kompetensi saya. Berhubung kocek yang saya miliki tak begitu banyak maka sayapun harus memutar otak untuk menutupi kekurangannya. Alhamdulilah mungkin memang sudah jalannya, seorang kawan memberikan saya formulir SPMB dengan harga murah, sehingga uang sisanya dapat saya pergunakan untuk menutupi biaya di NF. Semoga Allah membalas kebaikanmu kawan.

Teknik Kimia, sebuah jurusan yang bahkan tak saya mengerti sebelumnya. Seorang kawan menyarankan untuk mengambilnya karna melihat ketertarikanku pada kimia dan fisika. Tak tanggung-tanggung, Teknik Kimia ITB. Bukan lainnya. Sungguh aku sangat berbahagia setelah mendapat ilmu di dalamnya. Semoga Allah merahmati beliau.

“Man Jadda wa Jada”. Dulu bahkan aku tak mengerti apa arti kalimat ini. Namun Allah membuatku mengerti, Dia tak menunjukkan kekuasaanNya hingga aku mengerti dan memahami apa arti kata tersebut. Sungguh, Dia mengajarkan kepadaku dengan begitu baik, dengan metode yang tak akan pernah dilupakan oleh seorang pelupa sepertiku.

Diterima di ITB bukanlah akhir dari perjuangan. Karna biaya hidup di bandung tentulah membutuhkan biaya yg tidak sedikit. Ditambah tiap semester harus membayar uang kuliah yang lebih tinggi dibanding UI ataupun UGM (meskipun begitu biaya masuk ITB lebih murah hanya 800rb di awal masuk). Tapi Alhamdulillah sekali lagi, saya mendapatkan beasiswa dari program TPSDP sebesar 1,5jt, sehingga uang semester menjadi lancer. Selain itu saya juga bersyukur karena dapat memasuki Asrama Bumi Ganesha yang pada waktu itu hanya berbiaya Rp. 64.000/bulan. Bukankah rejeki itu memang dating dari arah yang tidak kita sangka..?

“Nikmat Allah manakah yang kamu dustakan..?”

Read Full Post »

Merokok dan Kentut

“Mas rokoknya bisa dimatikan?” sahut seorang wanita paruh baya yang tengah memangku anaknya. Alih alih langsung mematikan rokoknya, lelaki yang diajak biacara itu malah semakin menjadi-jadi memainkan kepulan asap si sekeliling wajahnya sambil memasang muka bengis ala mafia Hongkong. Mungkin lelaki ini  (atau mungkin penulis) terlalu banyak menonton TV sehingga terinspirasi memasang muka preman, namun sayang tempatnya kurang tepat. Angkutan umum bukanlah tempat yang cocok untuk berperilaku seperti itu. “Depan kiri Pak..!!” ucap Ibu paruh baya itu lagi. Dengan cekatan sopir angkot menerima sinyal untuk segera menepikan kendaraannya, walau mungkin terkadang agak membahayakan pengendara motor di belakangnya. Ibu itu turun , dari rona wajahnya kita bisa tau kalu sebenarnya ini bukan tempat yang ia tuju, sekedar menghindar dampak pasif dari peringatan “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan janin”. Segerombolan anak berseragam putih-merah masuk saat Ibu itu tengah menyerahkan beberapa lembar uang ribuan. Selayaknya anak-anak, merekapun membuat kegaduhan di dalam mobil dengan tawa, canda, ledekan, kadang malah makian khas anak-anak. Hal ini tampaknya membuat si preman jengah, “Woii..berisik!!” sentaknya sambil membesarkan bukaan kelopak matanya di tengah asap yang ia timbulkan. Anak-anak itupun terdiam, sembari cengar cengrir menyenggol tamannya sambil berbisik “elu sih..” dan bersahut “ “enak aja, dia tu yg mulai duluan”. Suasana mulai bosan saat anak-anak itu lelah menyalahkan. Namun dalam diam, tiba-tiba tanpa pertanda apapun muncul muncul bau busuk di dalam angkot tersebut yang kita kenal sebagai bau kentut. Sang preman angkot inipun dengan cepat membuka jendela lebar-lebar, tapi apa daya angkot sudah dipenuhi dengan bau kentut yang sangat menyengat dan gerombolan anak-anak saling bertatapan sambil memencet hidung masing-masing tak mau ketahuan disalahkan. “kiri..kiri..kiri..” si preman memberhentikan angkot dengan cepat, tak kuasa menahan mual yang ditimbulkan bau yang ia hirup tersebut. Ternyata penguasa udara selalu dipergilirkan. Dan eng ing eng..jadilah gerombolan anak kecil itu menguasai keseluruhan angkot sambil kembali menyalahkan “elo ya..?” dan disambuat “bukan gua, si ini kali tu diem-diem aja dia”.

Himbauan untuk yang senang merokok di angkot.

Udara yang berada di sekitar anda adalah milik saya juga, jika tidak ingin melakukan perang udara dengan sesama manusia, makan janganlah mengobarkannya di tempat yang tidak semestinya. Asap rokok dan bau kentut itu sama-sama pencemar udara, Cuma bedanya asap rokok itu beracun, kentut nggak beracun. Jadi orang yg ngerokok di tempat umum itu sebenernya lebih parah dari kentut di muka umum.

Read Full Post »

Renungan

Ya Allah,

Mengapa Engkau memberikanku bayang-bayang keberhasilan

Lantas, menghempaskannya  saat ia tepat di depan mataku

Aku mengerti,

Engkaulah yang berkuasa atas segala Rahmat Mu

Engkau berhak memberikan karunia

kepada orang yang Engkau kehendaki

Tapi mengapa, seolah tak ada jalan untukku?

Mungkinkah Engkau ingin menunjukkan sesuatu kepadaku?

Ataukah Engkau ingin memberikanku di jalan lain?

Atau mungkin Engkau ingin memberikan pelajaran untukku

Sungguh, Engkaulah sebaik-baik pemberi pelajaran bagiku

Engkau mengerti mana jalan terbaik untukku

Ya Rabb,

Mungkinkah aku sombong

Tak selalu menangis di depanmu

Malah tersenyum dengan silih bergantinya masalah ini

Padahal aku tau Engkaulah sebaik-baik tempat mengadu

Ya Rabb, aku lemah di hadapanMu

Dan mungkin lebih lemah dari yang aku rasakan

Aku berserah diri

Atas semua kehendakMu

Dibalik semua ikhtiarku…

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allahkepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (At-Thalaq-7)

Read Full Post »

Kita Rindu Menaiki Gerbong Cahaya

Oleh : Taufik Ismail

Inilah kini zaman,

Ketika uang dipuja-puja sebagai Tuhan.
Dengan uang, hubungan antar manusia diukur dan ditentukan.
Ketika mobil, tanah, deposito, relasi dan kepangkatan …
Ketika Politik, Ideologi, Kekuasaan disembah sebagai Tuhan.

Di zaman ketika ramalan bintang diangkat menjadi Tuhan.
Ketika garis telapak tangan dipercaya sebagai ganti Tuhan.
Di masa angka 13 dipatuhi sebagai Tuhan
Di zaman berbuat banyak takhayul, kuno atau modern.

Baik dari timur maupun dari barat asalnya Dari budaya daerah atau budaya dunia
Dengan dominasi materi
Menggantikan Tuhan.

Kemudian kita ….

nafas nyaris kehabisan
Mempertahankan keimanan

Inilah dia kini zaman …

Ketika kita melihat ke kiri dan ke kanan …
Kita menampak ada anak-anak membeli jawaban soal ujian
Mahasiswa mencuri skripsi
Pasca Sarjana plagiat disertasi

Pelaku bisnis menyogok ke kanan dan ke kiri
Menyuapkan komisi ke sana dan ke sini

Di dalam birokrasi
melakukankan korupsi
Anggaran disunat
Laporan fiktif menjadi-jadi

Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, Pebisnis, banyak yang menjadi garong berdasi
Semua Suku dan Etnik …
Bersama menjelma bangsa Pencuri.

Ketika Polisi, Hakim, dan Jaksa ….
Sedikit yang bisa dipercaya
Ketika memutus
Ketika Keputusan Pengadilan …
Jelas terasa diperjualbelikan

Inilah dia zaman …

Dengan sia-sia kita cari ke belakang dan ke depan …
Susah berjumpa dengan Kejujuran …

Hari ini kita berdiri di Tepi danau
Kemudian kita saksikan
Begitu banyak …
Tiga sampai empat orang naik motor boncengan.
Anak-anak muda naik atap bus.
Anak-anak tua memanjat ke atap gerbong kereta api …
Berteriak-teriak di atasnya,
Melambai-lambaikan bendera,
Cuma untuk menonton bola ….

Ribut
Memaksa masuk stadion
Tidak beli karcis
Dan kalau timnya kalah
Marah ….
Marah-marah
Melemparkan kaleng dan botol
Ke tengah lapangan pertandingan

Peraturan lalu lintas dianggap sepele
Kebut-kebutan

Anak-anak muda
Sedikit-sedikit tawuran

Anak-anak tua
Sedikit-sedikit ngamuk-ngamukan

Tinju diacung-acungkan
Batu dilempar-lemparkan
Pagar besi digoyang-goyangkan
Di tengah jalan membakar ban

Benih Anarki disebar-sebarkan
Sampai bodoh-bodohan
Hingga capek kita
Bercerai ke kiri dan ke kanan

Dimana itu ketertiban ???????

Pada hari ini …
Kita mencari disiplin diri

Artinya …

Bagaimana cara memenuhi janji
Melaksanakan tugas dalam bentuk janji
Membayar hutang dalam bentuk janji
Tekun dalam bekerja keras

Maknanya tidak bermalas-malas
Mencapai tujuan baik yang jelas
Saling membantu dalam bentuk yang ikhlas
Bagaimana selalu berusaha tepat waktu

Sebagai bangsa yang sejak dahulu
Menghadiri 100 kali rapat
90 selalu terlambat

Kita adalah bangsa terkenal di dunia,
Paling tepat waktu …
Cuma pada waktu berbuka puasa

Dan pada hari ini
Mari kita menentukan hati
Kukuh dalam disiplin diri

Hari ini …
kita mencari orang yang adil dan peduli

Artinya peduli …
Saling menolong dalam kebaikan
Saling membantu bila terjadi kemalangan
Menyantuni sesama dalam kesengsaraan

Artinya …
Simpati terhadap kemiskinan
Ikut aktif memberantas kemelaratan

Artinya …
Pemurah dalam bersedekah
Walaupun sedikit dalam jumlah
Tapi …
Tidak pernah lupa
Tidak pernah lelah
Menanamkan Solidaritas sesama bangsa

Dan Ternyata …
Di tengah kita …
Masih …..

Tapi pada hari ini
Alangkah susahnya kita mencari
Orang yang kuat mengendalikan diri dari adiksi

Artinya …
Tidak merokok
Dan anti narkoba
Tidak minum-minuman keras

Artinya …
Menjauh dari dari alkohol, nikotin, rokok, sigaret …
Sabu, ekstasi, ganja, dan marijuana
Berbagai juga racun, residu dan semacamnya

Terperangkap adiksi
3 juta orang jumlahnya
Tidak sedikit dari mereka
Ikut gerakan syahwat merdeka
Baik pornografi hape dan internet
Sex tanpa aturan
Dicengkram oleh kebebasan tanpa batasan
Yang ditawarkan ideologi neoliberal kebablasan

Dibayar dengan 25 penyakit kronis
Penyakit tahunan
400 ribu menjadi mayat setiap 12 bulan
1172 orang mati setiap hari
Diturunkan ke kuburan

Tapi …..
Masih banyak di tengah ini kebalauan
Yang tetap kukuh dalam kesantunan

Artinya …
Tidak dibutakan…

Ayahanda …
Cinta kepada istri
Cinta kepada suami

Dan Ananda ….
Menyayangi Saudara dan keluarga
Hormat pada guru
Hormat pada guru pemberi ilmu
Senantiasa memelihara budi bahasa
Perduli kepada sesama manusia
Tidak suka bersombong-sombong
Tiada gemar berbangga-bangga
Mereka tetap mengenakan busana
Akhlak mulia ….

Di tengah ini kebalauan
Keras dan susah payah
Mereka tetap jujur sebagai pertahanan
Bertanggung jawab
Visioner
Disiplin
Bekerjasama
Adil
Peduli
Ikhlas
Santun dan
Sederhana

Mereka …….

Merindukan kendaraan bersama

Lihatlah mereka
Kini mengendarai gerbong cahaya
Mengibarkan nilai-nilai luhur dan utama
Bagi Indonesiaku

Ditayangkan di tvOne di acara Rahasia Menuju Sukses ESQ 165, mendampingi pak Ary Ginanjar Agustian (founder of The ESQ Way 165).  Sabtu, 12 Juni 2010.  Acara yang sama ditayangkan setiap Sabtu malam, pukul 21.30 WIB.

Read Full Post »

Tentang Hujan

Hujan…Masihkah kau rindukan aku..?. Rindu seperti saat aku memandangmu sambil memberikan senyum tulusku. Rindu saat menemaniku berjalan sambil mendengarkan dirimu ber irama indah di balik tudung jaket hitamku. Rindu saat kucium dan kunikmati aroma wangimu ketika pertama kali menumbuk bumi yang kerontang.

Hujan…Terima kasih. Sore ini kau berkenan menemaniku lagi. Menghiburku dengan cerita tentang perjalananmu saat pergi meninggalkan garam di lautan, menguap perlahan namun pasti, bergerumul menjadi awan di angkasa, berkelana ke penjuru dunia bersama angin, hingga akhirnya tiba dihadapanku membawa hawa sejuk yang menentramkan hati dan jiwaku.

Hujan…Aku ingin bercerita..Saat ini aku sedang merindu..rindu akan purnama yang mengingatkanku pada senyumnya. Aku rindu senja yang menggambarkan wajahnya. Aku rindu engkau yang terasa begitu meneduhkan seperti cintanya. Rindu..sepanjang hari..sepanjang waktu…

[Mengamati teduhnya hujan sore sambil menikmati sepotong roti dan segelas susu coklat hangat]

Read Full Post »

Senyum di Malam Takbiran

2927361734388be7b45cdq6Malam ini kota Tangerang terlihat ramai. Jalan-jalan tumpah ruah dengan kendaraan. Baik itu roda 2 yang menyemarakkan dengan klaksonnya ataupun kendaraan roda 4 yang di isi orang-orang yang terlihat gembira sambil menabuh beduk. Langit dipenuhi kembang api yang berpendar bergantian dari satu sudut ke sudut lainnya. Bersahutan tak berirama.

Semua orang, anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi terlihat begitu senang di malam Ied ini. Akupun melamun sembari tersenyum di balik kaca angkutan umum sambil memegangi parcel. Benda ini harus kuantarkan malam ini juga ke daerah ciputat. “Mas dah sampai”. Perkataan supir angkot menyadarkanku dari lamunan, aku berhenti di bawah kolong jembatan layang di daerah ciputat. Waktu sudah berkisar di angka 11 malam, namun angkutan terakhir untuk sampai di alamat yang dituju tak jua kutemukan lewat di depan hidungku. Lelah menunggu, akhirnya  kuhampiri kumpulan lelaki yang duduk di atas motor. Kupilih yang paling tua diantara mereka, “Bapak, bias antar saya ke alamat ini Pak?” tanyaku ke seorang lelaki yang telah beruban tersebut. “Oh iya Mas, bisa” sahutnya segera dan langsung menyiapkan roda duanya ke alamat yang kutunjukkan.

Alamat yang dituju ternyata tak begitu jauh, mungkin sekitar 10 km. Jarak yang cukup jauh untuk diisi dengan pembicaraan ringan antara aku dan dia. Yang unik adalah Bapak ber anak 5 ini mengaku pernah menjadi mekanik Ananda Micola..hehe.. Akupun hanya tersenyum tak percaya.

Tak lama kemudian parcel telah kuantar dengan selamat. “Pak langsung ke Lebak bulus aja ya Pak” sahutku ke bapak pengendara motor. Kami ber dua kembali memacu motor di tengah jalan yang mulai lengang. Namun belum juga jauh berjalan aku menghentikannya dengan berkata “Stop di sini Pak”. Kami berhenti di depan took buah yang masih buka, “Tunggu sebentar ya Pak” sambutku lagi. Di sana aku melihat buah-buahan yang cukup segar. Mataku tertarik pada gerumulan anggur yang terlihat begitu ranum. “Ini berapa pak?” telunjukku menunjuk buah anggur sambil memetiknya tanpa izin dan melahapnya beberapa. Dan ternyata memang manis..hehe..Tawar menawar terjadi dan akhirnya akupun membawa sebungkus kantung plastik hitam di tangan kananku.

Perjalanan kembali dilanjutkan, namun tak lama berselang motor kembali kuhentikan. “saya haus Pak, mau beli minum dulu” ucapku kepadanya dan langsung di iyakan dengan rona keheranan di wajahnya. Mungkin bapak pengendara motor itu berfikir “Ni orang dari tadi minta berenti mulu, mending kalo cepet. Dia mah ngobrol2 dulu sama mamang yg jualnya”. Hehe…Mungkin memang dasar lelaki yg mudah tertarik, selain membeli sebotol green tea madu mataku kembali terpukau oleh kelengkeng yang di jual di sana. Hal ini membuat aku semakin lama karena harus mencicipi beberapa sambil menunggunya menimbang (maunya curi2 kesempatan hehe). Bapak pengendara motor terlihat tidak sabar menunggu di atas jok motor tuanya. Dan wajahnya terlihat kembali cerah saat aku keluar dari toko tersebut.

Terminal lebak bulus telah sepi, hari telah berganti lantaran waktu telah cukup lama melewati pukul 00.00. “Terima kasih ya Pak” ucapku sambil mengeluarkan selembar rupiah. Jumlah yang sepertinya terlalu banyak untuk sekedar mengantar ciputat-lebak bulus. Dan selintas kemudian senyumnya bertambah lebar saat aku menyodorkan bungkusan plastic yang dibeli di jalan tadi. “Jadi tadi buat saya Mas..makasih banyak ya Mas..” lelaki itu tersenyum kepadaku sambil perlahan kembali memutar sepeda motor tuanya. Ya Allah… Senyuman itu senyuman yang paling aku suka. Senyuman syukur kepadaMu. Senyum yang benar-benar tulus karena janjimu untuk memberinya rizki dari arah yang tidak terduga-duga. Mungkin aku tak tau kebaikan apa yang hari ini ia kerjakan sehingga Engkau memilihnya untuk menerima itu semua. Namun aku sadar bahwa aku hanyalah perantara yang Engkau takdirkan untuk dipertemukan dengannya. Aku membawa rizki untuknya dan Engkau yang mempertemukannya dengan yang berhak menerimanya. Ya Allah, semoga aku bisa lebih banyak melihat senyum seperti itu, dan aku mampu tersenyum se ikhlas itu. Amin..

Dan kamipun dipisahkan oleh malam yang semakin pekat di terminal lebak bulus, di iringi seruan Takbir yang menggema dati corong-corong masjid. Aroma khas terminal yang bercampur antara pesing dan sampah menusuk hidungku. Dalam hening aku aku kembali melangkah meneruskan perjalanan pulang, semoga langkah ini tak pernah terhenti.

langkah-imil

Malam ini kota Tangerang terlihat ramai. Jalan-jalan tumpah ruah dengan kendaraan. Baik itu roda 2 yang menyemarakkan dengan klaksonnya ataupun kendaraan roda 4 yang di isi orang-orang yang terlihat gembira sambil menabuh beduk. Langit dipenuhi kembang api yang berpendar bergantian dari satu sudut ke sudut lainnya. Bersahutan tak berirama.

Semua orang, anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi terlihat begitu senang di malam Ied ini. Akupun melamun sembari tersenyum di balik kaca angkutan umum sambil memegangi parcel. Benda ini harus kuantarkan malam ini juga ke daerah ciputat. “Mas dah sampai”. Perkataan supir angkot menyadarkanku dari lamunan, aku berhenti di bawah kolong jembatan layang di daerah ciputat. Waktu sudah berkisar di angka 11 malam, namun angkutan terakhir untuk sampai di alamat yang dituju tak jua kutemukan lewat di depan hidungku. Lelah menunggu, akhirnya  kuhampiri kumpulan lelaki yang duduk di atas motor. Kupilih yang paling tua diantara mereka, “Bapak, bias antar saya ke alamat ini Pak?” tanyaku ke seorang lelaki yang telah beruban tersebut. “Oh iya Mas, bisa” sahutnya segera dan langsung menyiapkan roda duanya ke alamat yang kutunjukkan.

Alamat yang dituju ternyata tak begitu jauh, mungkin sekitar 10 km. Jarak yang cukup jauh untuk diisi dengan pembicaraan ringan antara aku dan dia. Yang unik adalah Bapak ber anak 5 ini mengaku pernah menjadi mekanik Ananda Micola..hehe.. Akupun hanya tersenyum tak percaya.

Tak lama kemudian parcel telah kuantar dengan selamat. “Pak langsung ke Lebak bulus aja ya Pak” sahutku ke bapak pengendara motor. Kami ber dua kembali memacu motor di tengah jalan yang mulai lengang. Namun belum juga jauh berjalan aku menghentikannya dengan berkata “Stop di sini Pak”. Kami berhenti di depan took buah yang masih buka, “Tunggu sebentar ya Pak” sambutku lagi. Di sana aku melihat buah-buahan yang cukup segar. Mataku tertarik pada gerumulan anggur yang terlihat begitu ranum. “Ini berapa pak?” telunjukku menunjuk buah anggur sambil memetiknya tanpa izin dan melahapnya beberapa. Dan ternyata memang manis..hehe..Tawar menawar terjadi dan akhirnya akupun membawa sebungkus kantung plastik hitam di tangan kananku.

Perjalanan kembali dilanjutkan, namun tak lama berselang motor kembali kuhentikan. “saya haus Pak, mau beli minum dulu” ucapku kepadanya dan langsung di iyakan dengan rona keheranan di wajahnya. Mungkin bapak pengendara motor itu berfikir “Ni orang dari tadi minta berenti mulu, mending kalo cepet. Dia mah ngobrol2 dulu sama mamang yg jualnya”. Hehe…Mungkin memang dasar lelaki yg mudah tertarik, selain membeli sebotol green tea madu mataku kembali terpukau oleh kelengkeng yang di jual di sana. Hal ini membuat aku semakin lama karena harus mencicipi beberapa sambil menunggunya menimbang (maunya curi2 kesempatan hehe). Bapak pengendara motor terlihat tidak sabar menunggu di atas jok motor tuanya. Dan wajahnya terlihat kembali cerah saat aku keluar dari toko tersebut.

Terminal lebak bulus telah sepi, hari telah berganti lantaran waktu telah cukup lama melewati pukul 00.00. “Terima kasih ya Pak” ucapku sambil mengeluarkan selembar rupiah. Jumlah yang sepertinya terlalu banyak untuk sekedar mengantar ciputat-lebak bulus. Dan selintas kemudian senyumnya bertambah lebar saat aku menyodorkan bungkusan plastic yang dibeli di jalan tadi. “Jadi tadi buat saya Mas..makasih banyak ya Mas..” lelaki itu tersenyum kepadaku sambil perlahan kembali memutar sepeda motor tuanya. Ya Allah… Senyuman itu senyuman yang paling aku suka. Senyuman syukur kepadaMu. Senyum yang benar-benar tulus karena janjimu untuk memberinya rizki dari arah yang tidak terduga-duga. Mungkin aku tak tau kebaikan apa yang hari ini ia kerjakan sehingga Engkau memilihnya untuk menerima itu semua. Namun aku sadar bahwa aku hanyalah perantara yang Engkau takdirkan untuk dipertemukan dengannya. Aku membawa rizki untuknya dan Engkau yang mempertemukannya dengan yang berhak menerimanya. Ya Allah, semoga aku bisa lebih banyak melihat senyum seperti itu, dan aku mampu tersenyum se ikhlas itu. Amin..

Read Full Post »

Older Posts »