Feeds:
Tulisan
Komentar

2927361734388be7b45cdq6Malam ini kota Tangerang terlihat ramai. Jalan-jalan tumpah ruah dengan kendaraan. Baik itu roda 2 yang menyemarakkan dengan klaksonnya ataupun kendaraan roda 4 yang di isi orang-orang yang terlihat gembira sambil menabuh beduk. Langit dipenuhi kembang api yang berpendar bergantian dari satu sudut ke sudut lainnya. Bersahutan tak berirama.

Semua orang, anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi terlihat begitu senang di malam Ied ini. Akupun melamun sembari tersenyum di balik kaca angkutan umum sambil memegangi parcel. Benda ini harus kuantarkan malam ini juga ke daerah ciputat. “Mas dah sampai”. Perkataan supir angkot menyadarkanku dari lamunan, aku berhenti di bawah kolong jembatan layang di daerah ciputat. Waktu sudah berkisar di angka 11 malam, namun angkutan terakhir untuk sampai di alamat yang dituju tak jua kutemukan lewat di depan hidungku. Lelah menunggu, akhirnya  kuhampiri kumpulan lelaki yang duduk di atas motor. Kupilih yang paling tua diantara mereka, “Bapak, bias antar saya ke alamat ini Pak?” tanyaku ke seorang lelaki yang telah beruban tersebut. “Oh iya Mas, bisa” sahutnya segera dan langsung menyiapkan roda duanya ke alamat yang kutunjukkan.

Alamat yang dituju ternyata tak begitu jauh, mungkin sekitar 10 km. Jarak yang cukup jauh untuk diisi dengan pembicaraan ringan antara aku dan dia. Yang unik adalah Bapak ber anak 5 ini mengaku pernah menjadi mekanik Ananda Micola..hehe.. Akupun hanya tersenyum tak percaya.

Tak lama kemudian parcel telah kuantar dengan selamat. “Pak langsung ke Lebak bulus aja ya Pak” sahutku ke bapak pengendara motor. Kami ber dua kembali memacu motor di tengah jalan yang mulai lengang. Namun belum juga jauh berjalan aku menghentikannya dengan berkata “Stop di sini Pak”. Kami berhenti di depan took buah yang masih buka, “Tunggu sebentar ya Pak” sambutku lagi. Di sana aku melihat buah-buahan yang cukup segar. Mataku tertarik pada gerumulan anggur yang terlihat begitu ranum. “Ini berapa pak?” telunjukku menunjuk buah anggur sambil memetiknya tanpa izin dan melahapnya beberapa. Dan ternyata memang manis..hehe..Tawar menawar terjadi dan akhirnya akupun membawa sebungkus kantung plastik hitam di tangan kananku.

Perjalanan kembali dilanjutkan, namun tak lama berselang motor kembali kuhentikan. “saya haus Pak, mau beli minum dulu” ucapku kepadanya dan langsung di iyakan dengan rona keheranan di wajahnya. Mungkin bapak pengendara motor itu berfikir “Ni orang dari tadi minta berenti mulu, mending kalo cepet. Dia mah ngobrol2 dulu sama mamang yg jualnya”. Hehe…Mungkin memang dasar lelaki yg mudah tertarik, selain membeli sebotol green tea madu mataku kembali terpukau oleh kelengkeng yang di jual di sana. Hal ini membuat aku semakin lama karena harus mencicipi beberapa sambil menunggunya menimbang (maunya curi2 kesempatan hehe). Bapak pengendara motor terlihat tidak sabar menunggu di atas jok motor tuanya. Dan wajahnya terlihat kembali cerah saat aku keluar dari toko tersebut.

Terminal lebak bulus telah sepi, hari telah berganti lantaran waktu telah cukup lama melewati pukul 00.00. “Terima kasih ya Pak” ucapku sambil mengeluarkan selembar rupiah. Jumlah yang sepertinya terlalu banyak untuk sekedar mengantar ciputat-lebak bulus. Dan selintas kemudian senyumnya bertambah lebar saat aku menyodorkan bungkusan plastic yang dibeli di jalan tadi. “Jadi tadi buat saya Mas..makasih banyak ya Mas..” lelaki itu tersenyum kepadaku sambil perlahan kembali memutar sepeda motor tuanya. Ya Allah… Senyuman itu senyuman yang paling aku suka. Senyuman syukur kepadaMu. Senyum yang benar-benar tulus karena janjimu untuk memberinya rizki dari arah yang tidak terduga-duga. Mungkin aku tak tau kebaikan apa yang hari ini ia kerjakan sehingga Engkau memilihnya untuk menerima itu semua. Namun aku sadar bahwa aku hanyalah perantara yang Engkau takdirkan untuk dipertemukan dengannya. Aku membawa rizki untuknya dan Engkau yang mempertemukannya dengan yang berhak menerimanya. Ya Allah, semoga aku bisa lebih banyak melihat senyum seperti itu, dan aku mampu tersenyum se ikhlas itu. Amin..

Dan kamipun dipisahkan oleh malam yang semakin pekat di terminal lebak bulus, di iringi seruan Takbir yang menggema dati corong-corong masjid. Aroma khas terminal yang bercampur antara pesing dan sampah menusuk hidungku. Dalam hening aku aku kembali melangkah meneruskan perjalanan pulang, semoga langkah ini tak pernah terhenti.

langkah-imil

Malam ini kota Tangerang terlihat ramai. Jalan-jalan tumpah ruah dengan kendaraan. Baik itu roda 2 yang menyemarakkan dengan klaksonnya ataupun kendaraan roda 4 yang di isi orang-orang yang terlihat gembira sambil menabuh beduk. Langit dipenuhi kembang api yang berpendar bergantian dari satu sudut ke sudut lainnya. Bersahutan tak berirama.

Semua orang, anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi terlihat begitu senang di malam Ied ini. Akupun melamun sembari tersenyum di balik kaca angkutan umum sambil memegangi parcel. Benda ini harus kuantarkan malam ini juga ke daerah ciputat. “Mas dah sampai”. Perkataan supir angkot menyadarkanku dari lamunan, aku berhenti di bawah kolong jembatan layang di daerah ciputat. Waktu sudah berkisar di angka 11 malam, namun angkutan terakhir untuk sampai di alamat yang dituju tak jua kutemukan lewat di depan hidungku. Lelah menunggu, akhirnya  kuhampiri kumpulan lelaki yang duduk di atas motor. Kupilih yang paling tua diantara mereka, “Bapak, bias antar saya ke alamat ini Pak?” tanyaku ke seorang lelaki yang telah beruban tersebut. “Oh iya Mas, bisa” sahutnya segera dan langsung menyiapkan roda duanya ke alamat yang kutunjukkan.

Alamat yang dituju ternyata tak begitu jauh, mungkin sekitar 10 km. Jarak yang cukup jauh untuk diisi dengan pembicaraan ringan antara aku dan dia. Yang unik adalah Bapak ber anak 5 ini mengaku pernah menjadi mekanik Ananda Micola..hehe.. Akupun hanya tersenyum tak percaya.

Tak lama kemudian parcel telah kuantar dengan selamat. “Pak langsung ke Lebak bulus aja ya Pak” sahutku ke bapak pengendara motor. Kami ber dua kembali memacu motor di tengah jalan yang mulai lengang. Namun belum juga jauh berjalan aku menghentikannya dengan berkata “Stop di sini Pak”. Kami berhenti di depan took buah yang masih buka, “Tunggu sebentar ya Pak” sambutku lagi. Di sana aku melihat buah-buahan yang cukup segar. Mataku tertarik pada gerumulan anggur yang terlihat begitu ranum. “Ini berapa pak?” telunjukku menunjuk buah anggur sambil memetiknya tanpa izin dan melahapnya beberapa. Dan ternyata memang manis..hehe..Tawar menawar terjadi dan akhirnya akupun membawa sebungkus kantung plastik hitam di tangan kananku.

Perjalanan kembali dilanjutkan, namun tak lama berselang motor kembali kuhentikan. “saya haus Pak, mau beli minum dulu” ucapku kepadanya dan langsung di iyakan dengan rona keheranan di wajahnya. Mungkin bapak pengendara motor itu berfikir “Ni orang dari tadi minta berenti mulu, mending kalo cepet. Dia mah ngobrol2 dulu sama mamang yg jualnya”. Hehe…Mungkin memang dasar lelaki yg mudah tertarik, selain membeli sebotol green tea madu mataku kembali terpukau oleh kelengkeng yang di jual di sana. Hal ini membuat aku semakin lama karena harus mencicipi beberapa sambil menunggunya menimbang (maunya curi2 kesempatan hehe). Bapak pengendara motor terlihat tidak sabar menunggu di atas jok motor tuanya. Dan wajahnya terlihat kembali cerah saat aku keluar dari toko tersebut.

Terminal lebak bulus telah sepi, hari telah berganti lantaran waktu telah cukup lama melewati pukul 00.00. “Terima kasih ya Pak” ucapku sambil mengeluarkan selembar rupiah. Jumlah yang sepertinya terlalu banyak untuk sekedar mengantar ciputat-lebak bulus. Dan selintas kemudian senyumnya bertambah lebar saat aku menyodorkan bungkusan plastic yang dibeli di jalan tadi. “Jadi tadi buat saya Mas..makasih banyak ya Mas..” lelaki itu tersenyum kepadaku sambil perlahan kembali memutar sepeda motor tuanya. Ya Allah… Senyuman itu senyuman yang paling aku suka. Senyuman syukur kepadaMu. Senyum yang benar-benar tulus karena janjimu untuk memberinya rizki dari arah yang tidak terduga-duga. Mungkin aku tak tau kebaikan apa yang hari ini ia kerjakan sehingga Engkau memilihnya untuk menerima itu semua. Namun aku sadar bahwa aku hanyalah perantara yang Engkau takdirkan untuk dipertemukan dengannya. Aku membawa rizki untuknya dan Engkau yang mempertemukannya dengan yang berhak menerimanya. Ya Allah, semoga aku bisa lebih banyak melihat senyum seperti itu, dan aku mampu tersenyum se ikhlas itu. Amin..

Jaket BKKMTKI

Jaket BKKMTKI

oooRasanya waktu cepat sekali berlalu. Tidak Terasa 13 Agustus nanti saya akan sudah berada di Pulau Tunu selama 62 hari. Entah harus merasa senang aatau sedih, karena sebetulnya saya sudah mulai menikmati kehidupan di pulau terpencil di Kalimantan timur ini. Meskipun penuh dengan keterbatasan, baik itu sinyal ataupun akses, namun banyak pelajaran yang saya dapat dari pulau ini. Banyak pengalaman yang dapat saya ambil hikmahnya dari perjalanan singkat ini, pengalaman yang saya dapat pun tak sebatas pada apa yang saya alami saja, tapi lebih banyak lagi pengalaman yang saya ambil hikmahnya dari cerita dan kehidupan orang-orang yang ada di sekitar. Mungkin suatu saat akan saya ceritakan lebih detail tentang beberapa (kalo semuanya banyaak bgt) orang yang punya cerita fenomenal.

Mandala Airlines tanggal 13 Agustus 2009 pukul 17.50 Balikpapan-Jakarta akan kembali membawa saya ke pulau Jawa. Tempat dimana saya telah merangkai mimpi-mimpi dan menuliskannya pada selembar kertas karton kuning berukuran A1 yang tertempel tepat di hadapan saya saat akan dan terbangun dari tidur. Kini saatnya merevisi dan mengatur ulang beberapa mimpi tersebut tanpa mengurangi mimpi-mimpi besar kehidupan yang telah dirumuskan sebelumnya.

Saya akan merindukan pulau Tunu. Rindu rindu melihat kepiting kecil berwarna-warni yang japitnya kebesaran sebelah, rindu akan perbincangan penuh makna dengan orang-orang dari penjuru nusantara, rindu tersenyum pada ikan-ikan yang bergerumul di pancuran kolam, rindu untuk duduk di dermaga sambil menikmati semburat jingga di waktu senja, rindu menatap ribuan bintang meskipun harus rela berbagi darah dengan nyamuk-nyamuk rawa, rindu menanti purnama meski hanya bisa bertemu 3 hari dalam 1 bulan, dan rindu kepada rasa rindu yang menggeliat dalam dada.

Aku percaya. Suatu saaat aku akan kembali ke pulau ini. Meskipun mungkin nanti jalan berpasir telah sempurna tertimbun aspal dan atap-atap sudah sempurna berdiri serta ruang-ruang bangunan telah diisi manusia. Aku percaya waktu itu akan datang suatu saat nanti.

senja di pulau tunu

100_5355Langit belum sepenuhnya cerah. Awan mendung menyelimuti Timur , sembunyikan bola cahaya dari pengelihatan bumi yang beranjak pagi. Angin berhembus kencang mengacak rambutku, membuat sisiran rapi pagi tadi menjadi tak beraturan. Aroma angin laut terasa kuat menyengat, semakin menegaskan bau pesisir dengan garis putih yang perlahan mendekat, membesar, sesaat kemudian mendesis dan berhambur menubruk pasir lantas menghilang. Berulang-ulang.

Perahu-perahu kecil terlihat terparkir rapi di dinding yang memisahkan jalan dan pantai, tampak terhenyak dipisahkan dengan air. Seorang nelayan tampak sedang bersiap berlayar, sejenak memeriksa perahu kecilnya lantas memandang sekitar seperti mencari seseorang untuk dimintai bantuan. “Mau tunurunin perahu kah Pak?” tanyaku setengah berteriak, memecah irama debur ombak yang mendebur pasir. Sambil tersenyum malu ia pun meg-iya-kan pertanyaanku. Akupun meletakkan jaket dan tas biru dongkerku sambil perlahan berjalan ke arahnya. Perahu kecil tanpa mesin yang hanya cukup untuk satu orang itu ternyata cukup berat walaupun telah diangkat oleh 2 tenaga. Tak lama kemudian kami berdua telah mendaratkan perahu kecil itu di pantai. Rasanya lega saat mendorong perahu kecil tersebut perlahan memasuki air dan membuatnya mengapung di atas buih ombak. Saat air telah mencapai lutut iapun naik dan bergegas mengambil dayung dari dasar perahunya.

Perahu kecil itu terhuyung tergulung ombak. Naik, turun, dan gontai dipermainkan air laut. Sang nahkoda dengan tanggap memainkan dayungnya ke kiri dan kanan. Tak berhenti melaju meskipun di depannya terlihat ombak yang tak henti menghambatnya melaut. Tak beberapa lama kemudian saat perahunya telah cukup tenang di atas air iapun mulai meraih secarik kain bekas baligho yang di ikatkan ke tiang dan menyusunnya di atas perahu. Jadilah layar perahu itu terkembang. Setelah memastikan angin meniup layarnya ke arah yang diinginkan iapun menoleh ke belakang. Ke arahku. Melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum memperlihatkan giginya dari kejauhan. Meninggalkan aku bersama buih yang datang lalu pergi, dan datang lagi. Melihatnya berjuang sendirian menerjang ombak, rasanya malu. Ada orang yang berjuang dalam keterbatasannya, sementara aku masih banyak menyiakan kesempatan yang di berikan.

Mentari mulai menunjukkan wajahnya. Menghangatkan pagi yang cerah berawan di kota Balikpapan. Kulambaikan tangan ke arah sang nelayan yang masih melihat ke arahku. Selamat jalan nelayan pantai klandasan. terima kasih atas pelajaran berjudul “Perjuangan”. :’)

Rokok dan Korek

“Rokok mas..” sahut seorang lelaki paruh baya di sisiku sambil meletakkan sebatang rokok di mulutnya. Dengan ringan akupun menjawab “saya nggak ngerokok pak”. Lelaki itu tersenyum sambil perlahan memasukkan kembali bungkus rokoknya ke saku kemejanya. Setelah memastikan sebungkus Djarum Super dengan aman di sakunya iapun mencari sesuatu di saku celananya. Karna merasa ia tak akan menemukan sesuatu yang ia cari itu maka akupun membuka saku tasku sambil mengeluarkan sebuah benda kecil di dalamnya “butuh korek pak?”. “Oh..iya terima kasih” sahutnya sambil tersenyum ringan di balik rokok filternya. Korek gas itu langsung dinyalakan dan membut asap di sekeliling wajahnya. Sambil menyembulkan asap dari dalam mulutnya ia terkekek dan berkata “Mask ko aneh ya..?. “Aneh kenapa Pak?” tanyaku sambil mengerutkan dahi kebingungan. “bawa korek ko tapi gak ngerokok” jawabnya. Akupun tertawa ringan dan berkata “Bapak lebih aneh lagi”. Wajahnya menunjukkan rona keheranan, sebelum sempat ia bertanya ‘kenapa?’ akupun melanjutkan “Bapak ngerokok tapi gak bawa korek”. Dan kami berdua tertawa di bawah terangnya malam penuh bintang sambil menikmati semmilir angin yang berusaha mengacak dahan-dahan di tepi sungai.

Satu Bintang

Ribuan bintang terlihat begitu gemerlap di langitMu

Mengapa tak Kau tunjukkan sedari dulu?

Apa mungkin  langit tempatku berpijak kini

Tak sama dengan langit yang Engkau hamparkan di sana?

Atau bumi tempatku berpijak kini

Tak sama dengan Bumi yang Engkau berikan kemarin

kemarin aku terpana indahnya rasi Pari

kemarin aku masih bisa melihat Orion di pagi hari

Saat ini bukannya dia tak ada

Tapi dia tersembunyi diantara gemerlap lainnya

Atau mungkin ada sesuatu yang ingin Engkau sampaikan saat ini?

(Dan awanpun bergerak perlahan menghamburkan gugusan bintang. Mengacaukan keindahan yang sejak tadi dating. Dan akupun tersenyum perlahan di tepi sungai mahakam)

Ya Allah….

Aku kini mengerti

Bukan bumi yang tak sama

Bukan langitnya yang berbeda

Ini hanya masalah mata

Yang seolah mengetahui semua

Aku paham Engkau lebih tahu

mana yang pantas untuk diperlihatkan kepadaku

dan mana yang belum saatnya terlihat oleh mataku

Kini saat hanya ada satu bintang,

izinkanlah aku memejamkan mata

dan percaya bahwa di balik gelapnya awan

masih ada ribuan bintang

karna semakin banyak banyak bintang

berarti semakin banyak harapan…

Cantik

“San si mawar (bukan nama sebenarnya) cantik banget ya?!” ujar sahabatku dalam sebuah perjalanan kecil dari labtek biru menuju gerbang depan ITB. Sambil menyunggingkan sedikit senyum akupun menjawab “Iya…manis”. “haha..” tanpa pikir panjang ia pun langsung tertawa…Melihat wajahku yang kebingungan ia pun akhirnya berkata “lw mah setiap orang ga pernah ada yg cantik yah..semuanya maniiss kaya gula”..
“Hehe..Gapapa lah Men…biar kata Cantik itu cuma buat satu yang nantinya mau nemenin di dunia buat sama2 ngeraih surga” jawabku dengan muka serius…”Lw lg kumat San..?”..haha…

Cantik..sebuah kata yang seumur hidup belum pernah terucap untuk seorang wanitapun..maka izinkan kata itu terucap pertamakali untuknya, sang bidadari surga yang entah siapa,dan dimana..
.Mungkin terdengar gombal, tapi ya gapapa lah..kan saya emang termasuk penganut mahzab ‘romantisme klasik’.hehe..

KPKKali ini saya ingin bercerita tentang salah satu pekerjaan yang cukup saya dambakan saat ini. Pekerjaan ini bukanlah sebuah harga mati untuk saya, namun hanya sebagai motivasi untuk mempersiapkan diri setelah lulus dari ITB. Mungkin akan terdengar aneh saat seorang sarjana Teknik Kimia memasuki sebuah wilayah yang erat kaitannya dalam bidang hukum dan penegakan disiplin. Namun saya rasa itu tak akan menjadi soal, toh sampai sekarang saya merasa bahwa dunia teknik kimia  masih mempunyai cukup banyak lahan untuk dikorupsi oleh kelompok/orang yang tidak bertanggung jawab terutama dalam hal proyek pembangunan ataupun pengembangan suatu industri. Sementara itu penegak hukum yang ada sekarang cukup banyak tidak mengerti tentang dunia keteknik kimiaan dan seluk beluk kesempatan penyelewengannya.

Banyak hal yang membuat saya tertarik ke dalam dunia penegakan hukum ini. Salah satunya adalah karena saya cukup senang melihat orang lain merasa gelisah, apalagi yang merasa gelisah tersebut adalah orang jahat. Dengan menjadi seorang anggota KPK saya ingin mencegah para koruptor untuk berbuat dosa (Korupsi termasuk dosa kan), apa lagi dosa tersebut berimbas terhadap orang banyak. Korupsi di negeri kita ini agaknya telah menjadi duri dalam daging yang telah dibungkus rapi dengan kulit sehingga dari luar terlihat cukup apik namun di dalamnya masih banyak kecurangan-kecurangan yang terjadi. Bahkan bibit-bibit korupsi sudah mulai menancapkan akarnya sejak kita kecil sehingga setelah kita dewasa terkadang korupsi telah menjadi sebuah hal yang biasa. “Hukuman terberat dari sebuah dosa adalah tidak merasa berdosa” kata-kata itulah yang sempat saya baca dari sebuah artikel dalam buku ‘Jalan cinta Para Pejuang’. Mudah-mudahan dengan menjadi seorang anggota KPK saya dapat meringankan hukuman bagi para koruptor dengan memberikan rasa was-was dan berdosa saat melakukan korupsi dan membuat jera saat tertangkap oleh kami. Dengan begitu semoga saya tidak menjadi orang yang merugi karna tidak menasihati sesama (QS 103 :1-3).

Untuk menjadi seorang pemberantas korupsi tentunya tidak cukup dengan masuk KPK lantas kita bisa dengan mudah memberantas korupsi. Pemberantasan korupsi haruslah dimulai dari saat ini dan dari diri kita sendiri. Jika sekarang saja kita tidak bisa memberantas sifat korup dalam diri kita mana mungkin nantinya kita bias memberantasnya. Kebiasaan itu telah saya mulai dari hal-hal kecil di sekitar saya. Saya sudah tidak pernah mencontek saat ujian sejak kelas 2 SMA, selain itu selama saya kuliah saya tidak pernah ‘titip absen’ ataupun mau untuk ‘dititipkan absen’.  Kebiasaan mencontek waktu ujian saya hapuskan dengan duduk paling depan pada waktu ujian sehingga tidak ada kesempatan sama sekali untuk mencontek. Selain itu saya juga memiliki paradigma  ‘dari pada titip absen, lebih baik tidak lulus mata kuliah itu’ namun tentu saja alangkah lebih baiknya jika lulus dengan nilai memuaskan dengan tidak mencontek dan tidak titip absen.

Tentunya dengan menghilangkan sikap korup dalam diri kita belumlah cukup untuk memberantas korupsi. Dibutuhkan pengetahuan tentang akutansi, keuangan, hukum, dan trik-trik kejahatan korupsi. Alhamdulillah untuk masalah pengetahuan tentang akutansi telah saya dapatkan saat saya berada di biro toko Asrama Bumi Ganesha ITB. meskipun untuk istilah-istilah ekonomi masih banyak yang tidak saya ketahui namun itu bisa didekati dengan konsep neraca massa dan energi yang telah saya dapatkan pada tahun ke-2 di teknik kimia ITB. Untuk masalah  hukum saya telah belajar cukup banyak sebagai anggota legislatif di lingkungan KM ITB sebagai seorang anggota Kongres KM ITB dan Senator HIMATEK. Selain itu pergaulan saya yang luwes juga membuat saya berkawan dengan teman-teman yang ‘mampu’ berbuat curang dengan mulus alias tidak terendus oleh aparat seperti tim sukses Capres yang mencari celah hukum untuk mengangkat calonnya ataupun calo SPMB yang berhasil mengecoh banyak orang. Dengan mengetahui berbagai cara dan motiv dalam melakukan kejahatan tentunya dengan begitu saya dapat dengan mudah membaca cara-cara yang dilakukan seseorang untuk melakukan penyelewengan.  Oh iya satu lagi daya tawar saya adalah saya tidak bisa bermain golf, jadi tidak perlu takut akan terkena skandal dengan seorang caddy.hehe…

Dalam menegakkan kebenaran tentunya tidaklah mungkin bagi saya untuk melakukannya seorang diri. Butuh seorang pendamping yang mampu meneguhkan hati saat ancaman-ancaman penguasa berusaha menutupi kejahatannya, serta butuh seseorang yang mau bersusah payah saat godaan gemerlap dunia ditawarkan untuk mengganti keadilan. Seseorang tersebut bernama “Istri Shalehah”(Istighfar San, ngomongiin KPK tp ujung2nya beginian, tp gpp ini penting ko). Mungkin nanti di criteria calon pasangan bisa di tambahkan kalimat “Anti korupsi” di samping kriteria-kriteria lainnya.

Akhir kata sya ingin meminta doa dari para pembaca agar apa yang saya cita-citakan dapat berguna bagi Agama, bangsa, dan umat. Untuk membuka jalan tersebut saya menerima masukan, saran, dan informasi tentang perekrutan KPK.

kpk-harus-matii1

takdir_200“San, gmana caranya lw tau kalo seseorang itu adalah jodoh lw?” Tanya seorang temanku . “Waduh, gw kan blom dapet jodoh men, jadi mana bisa jawab” jawabku singkat. Senyum kecilnya mengembang dari balik  jambangnya yang lebat. Aku tau malam ini dia ingin bercerita tentang suatu hal padaku, jika tidak mana mungkin ia tiba-tiba datang ke kamarku yang berada di lantai tertinggi Asrama Bumi ganesha ini. “Lw percaya takdir?” tanyanya kemudian. Sebenarnya ini merupakan pertanyaan yang tidak patut dijawab, bukan karena pertanyaannya yang aneh, namun pertanyaan ini sudah memiliki jawaban bahkan sebelum ia ditanyakan. Akhirnya di malam itu dia menceritakan sesuatu hal yang sudah lama kuterka. Ia tertarik kepada seorang wanita yang ia yakini sebagai jodohnya, hingga pada suatu ketika ia tau bahwa wanita tersebut telah di khitbah oleh kawan dekatnya. Meskipun aku belum pernah merasakan hal seperti itu, namun sakitnya mengalami peristiwa seperti itu agaknya dapat kupahami. “Sekarang, saat akhirnya hubungan mereka berdua berakhir, seakan Allah membukakan pintu untukku” lanjutnya dengan ekspresi bingung yang begitu kental di wajahnya. Suasana begitu hening saat ia melanjutkan cerita yang menjelaskan berbagai hal yang meyakinkan ia bahwa wanita itu adalah jodohnya.

***

“Sandi, gimana ya cara ngelupain seseorang?” Tanya seorang wanita kepadaku. “Ga usah di lupain, di anggap biasa aja. Biarkan waktu yang menghapus rasa itu perlahan” jawabku dengan yakin. “Gampang San ngomongnya, tapi rasanya susah banget” protesnya. Akupun tersenyum sambil melihat orang yang lalu lalang bergantian. Wanita itupun melanjutkan ceritanya mulai dari A sampai Z. Dengan berbagai rasa penasarannya dan rasa kecewanya. Ia menceritakan bahwa ia jatuh cinta kepada seseorang laki-laki yang akhirnya melamarnya. Namun karna satu dan lain hal akhirnya lamaran itu dibatalkan oleh pihak lelaki.

***

Kedua cerita di atas mempertanyakan hal yang sama yaitu tentang “Keyakinan terhadap jodoh”. Sang lelaki yakin bahwa si wanita itulah yang akan menjadi jodohnya dengan dibukakannya satu kesempatan untuknya. Namun di sisi lain sang wanita yang awalnya yakin akan jodohnya, akhirnya harus memupuskan harapannya.

Dan akhirnya sebuah pertanyaan kembali dilontarkan kepadaku melalui sebuah perbincangan melalui Yahoo Messenger.

“Lo percaya Takdir?”

Seperti yang telah dijelaskan di atas, pertanyaan ini bahkan sudah terjawab sebelum ditanyakan. Bahwa kia sebagai seorang Muslim haruslah 100% percaya terhadap takdir. Namun takdir yang bagaimanakah yang harus dipercayai terkait dengan jodoh?. Menurut pandangan saya ada 2 cara kita mendapatkan jodoh terkait dengan takdir. Yang pertama adalah; kita dipertemukan oleh takdir dengan pelbagai macam cerita di baliknya yang hanya dengan kuasa Allah akhirnya kita dipertemuakan (mirip kaya film “My Sassy Girl”). Dan yang ke dua ; kita ditakdirkan untuk memilih dan meraih seseorang yang kita yakini adalah jodoh kita (jadi ada mekanisme ‘pengejaran’ di sana) dan akhirnya mengantarkan kita untuk bersamanya.

Nah beberapa saat yang lalu akhirnya ada cowo yang nanya…dan pertanyaan akhirnya adalah…Lw yang pertama atau yang ke dua San?

“Mana gw tau bro, gw blom nikah..jadi gak tau yang mana jodoh gw” Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya mengejar dan memilih lantas akhirnya dipertemukan oleh takdir kayanya keren juga. Hehe…

[kebanyakan nonton pelem keknya lw San]takdir

Aku yang pernah engkau kuatkan
Aku yang pernah kau bangkitkan
Aku yang pernah kau beri rasa

Saat ku terjaga
Hingga ku terlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingatmu

Reff:
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindah ku hanya untukmu

Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu

Tulisan Sebelumnya »