“Rokok mas..” sahut seorang lelaki paruh baya di sisiku sambil meletakkan sebatang rokok di mulutnya. Dengan ringan akupun menjawab “saya nggak ngerokok pak”. Lelaki itu tersenyum sambil perlahan memasukkan kembali bungkus rokoknya ke saku kemejanya. Setelah memastikan sebungkus Djarum Super dengan aman di sakunya iapun mencari sesuatu di saku celananya. Karna merasa ia tak akan menemukan sesuatu yang ia cari itu maka akupun membuka saku tasku sambil mengeluarkan sebuah benda kecil di dalamnya “butuh korek pak?”. “Oh..iya terima kasih” sahutnya sambil tersenyum ringan di balik rokok filternya. Korek gas itu langsung dinyalakan dan membut asap di sekeliling wajahnya. Sambil menyembulkan asap dari dalam mulutnya ia terkekek dan berkata “Mask ko aneh ya..?. “Aneh kenapa Pak?” tanyaku sambil mengerutkan dahi kebingungan. “bawa korek ko tapi gak ngerokok” jawabnya. Akupun tertawa ringan dan berkata “Bapak lebih aneh lagi”. Wajahnya menunjukkan rona keheranan, sebelum sempat ia bertanya ‘kenapa?’ akupun melanjutkan “Bapak ngerokok tapi gak bawa korek”. Dan kami berdua tertawa di bawah terangnya malam penuh bintang sambil menikmati semmilir angin yang berusaha mengacak dahan-dahan di tepi sungai.
Ribuan bintang terlihat begitu gemerlap di langitMu
Mengapa tak Kau tunjukkan sedari dulu?
Apa mungkin langit tempatku berpijak kini
Tak sama dengan langit yang Engkau hamparkan di sana?
Atau bumi tempatku berpijak kini
Tak sama dengan Bumi yang Engkau berikan kemarin
kemarin aku terpana indahnya rasi Pari
kemarin aku masih bisa melihat Orion di pagi hari
Saat ini bukannya dia tak ada
Tapi dia tersembunyi diantara gemerlap lainnya
Atau mungkin ada sesuatu yang ingin Engkau sampaikan saat ini?
(Dan awanpun bergerak perlahan menghamburkan gugusan bintang. Mengacaukan keindahan yang sejak tadi dating. Dan akupun tersenyum perlahan di tepi sungai mahakam)
Ya Allah….
Aku kini mengerti
Bukan bumi yang tak sama
Bukan langitnya yang berbeda
Ini hanya masalah mata
Yang seolah mengetahui semua
Aku paham Engkau lebih tahu
mana yang pantas untuk diperlihatkan kepadaku
dan mana yang belum saatnya terlihat oleh mataku
Kini saat hanya ada satu bintang,
izinkanlah aku memejamkan mata
dan percaya bahwa di balik gelapnya awan
masih ada ribuan bintang
karna semakin banyak banyak bintang
berarti semakin banyak harapan…
Ditulis dalam Puisiku | yang berkaitan Puisiku | 1 Komentar »
“San si mawar (bukan nama sebenarnya) cantik banget ya?!” ujar sahabatku dalam sebuah perjalanan kecil dari labtek biru menuju gerbang depan ITB. Sambil menyunggingkan sedikit senyum akupun menjawab “Iya…manis”. “haha..” tanpa pikir panjang ia pun langsung tertawa…Melihat wajahku yang kebingungan ia pun akhirnya berkata “lw mah setiap orang ga pernah ada yg cantik yah..semuanya maniiss kaya gula”..
“Hehe..Gapapa lah Men…biar kata Cantik itu cuma buat satu yang nantinya mau nemenin di dunia buat sama2 ngeraih surga” jawabku dengan muka serius…”Lw lg kumat San..?”..haha…
Cantik..sebuah kata yang seumur hidup belum pernah terucap untuk seorang wanitapun..maka izinkan kata itu terucap pertamakali untuknya, sang bidadari surga yang entah siapa,dan dimana..
.Mungkin terdengar gombal, tapi ya gapapa lah..kan saya emang termasuk penganut mahzab ‘romantisme klasik’.hehe..
Ditulis dalam Tulisan | yang berkaitan Tulisan | 2 Komentar »
Kali ini saya ingin bercerita tentang salah satu pekerjaan yang cukup saya dambakan saat ini. Pekerjaan ini bukanlah sebuah harga mati untuk saya, namun hanya sebagai motivasi untuk mempersiapkan diri setelah lulus dari ITB. Mungkin akan terdengar aneh saat seorang sarjana Teknik Kimia memasuki sebuah wilayah yang erat kaitannya dalam bidang hukum dan penegakan disiplin. Namun saya rasa itu tak akan menjadi soal, toh sampai sekarang saya merasa bahwa dunia teknik kimia masih mempunyai cukup banyak lahan untuk dikorupsi oleh kelompok/orang yang tidak bertanggung jawab terutama dalam hal proyek pembangunan ataupun pengembangan suatu industri. Sementara itu penegak hukum yang ada sekarang cukup banyak tidak mengerti tentang dunia keteknik kimiaan dan seluk beluk kesempatan penyelewengannya.
Banyak hal yang membuat saya tertarik ke dalam dunia penegakan hukum ini. Salah satunya adalah karena saya cukup senang melihat orang lain merasa gelisah, apalagi yang merasa gelisah tersebut adalah orang jahat. Dengan menjadi seorang anggota KPK saya ingin mencegah para koruptor untuk berbuat dosa (Korupsi termasuk dosa kan), apa lagi dosa tersebut berimbas terhadap orang banyak. Korupsi di negeri kita ini agaknya telah menjadi duri dalam daging yang telah dibungkus rapi dengan kulit sehingga dari luar terlihat cukup apik namun di dalamnya masih banyak kecurangan-kecurangan yang terjadi. Bahkan bibit-bibit korupsi sudah mulai menancapkan akarnya sejak kita kecil sehingga setelah kita dewasa terkadang korupsi telah menjadi sebuah hal yang biasa. “Hukuman terberat dari sebuah dosa adalah tidak merasa berdosa” kata-kata itulah yang sempat saya baca dari sebuah artikel dalam buku ‘Jalan cinta Para Pejuang’. Mudah-mudahan dengan menjadi seorang anggota KPK saya dapat meringankan hukuman bagi para koruptor dengan memberikan rasa was-was dan berdosa saat melakukan korupsi dan membuat jera saat tertangkap oleh kami. Dengan begitu semoga saya tidak menjadi orang yang merugi karna tidak menasihati sesama (QS 103 :1-3).
Untuk menjadi seorang pemberantas korupsi tentunya tidak cukup dengan masuk KPK lantas kita bisa dengan mudah memberantas korupsi. Pemberantasan korupsi haruslah dimulai dari saat ini dan dari diri kita sendiri. Jika sekarang saja kita tidak bisa memberantas sifat korup dalam diri kita mana mungkin nantinya kita bias memberantasnya. Kebiasaan itu telah saya mulai dari hal-hal kecil di sekitar saya. Saya sudah tidak pernah mencontek saat ujian sejak kelas 2 SMA, selain itu selama saya kuliah saya tidak pernah ‘titip absen’ ataupun mau untuk ‘dititipkan absen’. Kebiasaan mencontek waktu ujian saya hapuskan dengan duduk paling depan pada waktu ujian sehingga tidak ada kesempatan sama sekali untuk mencontek. Selain itu saya juga memiliki paradigma ‘dari pada titip absen, lebih baik tidak lulus mata kuliah itu’ namun tentu saja alangkah lebih baiknya jika lulus dengan nilai memuaskan dengan tidak mencontek dan tidak titip absen.
Tentunya dengan menghilangkan sikap korup dalam diri kita belumlah cukup untuk memberantas korupsi. Dibutuhkan pengetahuan tentang akutansi, keuangan, hukum, dan trik-trik kejahatan korupsi. Alhamdulillah untuk masalah pengetahuan tentang akutansi telah saya dapatkan saat saya berada di biro toko Asrama Bumi Ganesha ITB. meskipun untuk istilah-istilah ekonomi masih banyak yang tidak saya ketahui namun itu bisa didekati dengan konsep neraca massa dan energi yang telah saya dapatkan pada tahun ke-2 di teknik kimia ITB. Untuk masalah hukum saya telah belajar cukup banyak sebagai anggota legislatif di lingkungan KM ITB sebagai seorang anggota Kongres KM ITB dan Senator HIMATEK. Selain itu pergaulan saya yang luwes juga membuat saya berkawan dengan teman-teman yang ‘mampu’ berbuat curang dengan mulus alias tidak terendus oleh aparat seperti tim sukses Capres yang mencari celah hukum untuk mengangkat calonnya ataupun calo SPMB yang berhasil mengecoh banyak orang. Dengan mengetahui berbagai cara dan motiv dalam melakukan kejahatan tentunya dengan begitu saya dapat dengan mudah membaca cara-cara yang dilakukan seseorang untuk melakukan penyelewengan. Oh iya satu lagi daya tawar saya adalah saya tidak bisa bermain golf, jadi tidak perlu takut akan terkena skandal dengan seorang caddy.hehe…
Dalam menegakkan kebenaran tentunya tidaklah mungkin bagi saya untuk melakukannya seorang diri. Butuh seorang pendamping yang mampu meneguhkan hati saat ancaman-ancaman penguasa berusaha menutupi kejahatannya, serta butuh seseorang yang mau bersusah payah saat godaan gemerlap dunia ditawarkan untuk mengganti keadilan. Seseorang tersebut bernama “Istri Shalehah”(Istighfar San, ngomongiin KPK tp ujung2nya beginian, tp gpp ini penting ko). Mungkin nanti di criteria calon pasangan bisa di tambahkan kalimat “Anti korupsi” di samping kriteria-kriteria lainnya.
Akhir kata sya ingin meminta doa dari para pembaca agar apa yang saya cita-citakan dapat berguna bagi Agama, bangsa, dan umat. Untuk membuka jalan tersebut saya menerima masukan, saran, dan informasi tentang perekrutan KPK.

Ditulis dalam Tulisan | yang berkaitan Tulisan | 6 Komentar »
“San, gmana caranya lw tau kalo seseorang itu adalah jodoh lw?” Tanya seorang temanku . “Waduh, gw kan blom dapet jodoh men, jadi mana bisa jawab” jawabku singkat. Senyum kecilnya mengembang dari balik jambangnya yang lebat. Aku tau malam ini dia ingin bercerita tentang suatu hal padaku, jika tidak mana mungkin ia tiba-tiba datang ke kamarku yang berada di lantai tertinggi Asrama Bumi ganesha ini. “Lw percaya takdir?” tanyanya kemudian. Sebenarnya ini merupakan pertanyaan yang tidak patut dijawab, bukan karena pertanyaannya yang aneh, namun pertanyaan ini sudah memiliki jawaban bahkan sebelum ia ditanyakan. Akhirnya di malam itu dia menceritakan sesuatu hal yang sudah lama kuterka. Ia tertarik kepada seorang wanita yang ia yakini sebagai jodohnya, hingga pada suatu ketika ia tau bahwa wanita tersebut telah di khitbah oleh kawan dekatnya. Meskipun aku belum pernah merasakan hal seperti itu, namun sakitnya mengalami peristiwa seperti itu agaknya dapat kupahami. “Sekarang, saat akhirnya hubungan mereka berdua berakhir, seakan Allah membukakan pintu untukku” lanjutnya dengan ekspresi bingung yang begitu kental di wajahnya. Suasana begitu hening saat ia melanjutkan cerita yang menjelaskan berbagai hal yang meyakinkan ia bahwa wanita itu adalah jodohnya.
***
“Sandi, gimana ya cara ngelupain seseorang?” Tanya seorang wanita kepadaku. “Ga usah di lupain, di anggap biasa aja. Biarkan waktu yang menghapus rasa itu perlahan” jawabku dengan yakin. “Gampang San ngomongnya, tapi rasanya susah banget” protesnya. Akupun tersenyum sambil melihat orang yang lalu lalang bergantian. Wanita itupun melanjutkan ceritanya mulai dari A sampai Z. Dengan berbagai rasa penasarannya dan rasa kecewanya. Ia menceritakan bahwa ia jatuh cinta kepada seseorang laki-laki yang akhirnya melamarnya. Namun karna satu dan lain hal akhirnya lamaran itu dibatalkan oleh pihak lelaki.
***
Kedua cerita di atas mempertanyakan hal yang sama yaitu tentang “Keyakinan terhadap jodoh”. Sang lelaki yakin bahwa si wanita itulah yang akan menjadi jodohnya dengan dibukakannya satu kesempatan untuknya. Namun di sisi lain sang wanita yang awalnya yakin akan jodohnya, akhirnya harus memupuskan harapannya.
Dan akhirnya sebuah pertanyaan kembali dilontarkan kepadaku melalui sebuah perbincangan melalui Yahoo Messenger.
“Lo percaya Takdir?”
Seperti yang telah dijelaskan di atas, pertanyaan ini bahkan sudah terjawab sebelum ditanyakan. Bahwa kia sebagai seorang Muslim haruslah 100% percaya terhadap takdir. Namun takdir yang bagaimanakah yang harus dipercayai terkait dengan jodoh?. Menurut pandangan saya ada 2 cara kita mendapatkan jodoh terkait dengan takdir. Yang pertama adalah; kita dipertemukan oleh takdir dengan pelbagai macam cerita di baliknya yang hanya dengan kuasa Allah akhirnya kita dipertemuakan (mirip kaya film “My Sassy Girl”). Dan yang ke dua ; kita ditakdirkan untuk memilih dan meraih seseorang yang kita yakini adalah jodoh kita (jadi ada mekanisme ‘pengejaran’ di sana) dan akhirnya mengantarkan kita untuk bersamanya.
Nah beberapa saat yang lalu akhirnya ada cowo yang nanya…dan pertanyaan akhirnya adalah…Lw yang pertama atau yang ke dua San?
“Mana gw tau bro, gw blom nikah..jadi gak tau yang mana jodoh gw” Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya mengejar dan memilih lantas akhirnya dipertemukan oleh takdir kayanya keren juga. Hehe…
[kebanyakan nonton pelem keknya lw San]
Ditulis dalam Tulisan | yang berkaitan Tulisan | 6 Komentar »
Aku yang pernah engkau kuatkan
Aku yang pernah kau bangkitkan
Aku yang pernah kau beri rasa
Saat ku terjaga
Hingga ku terlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingatmu
Reff:
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindah ku hanya untukmu
Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu
Ditulis dalam Lirik Lagu | yang berkaitan Puisiku | 4 Komentar »
Aku berdoa untuk seorang lelaki yang telah menjadi bagian hidupku
Seorang lelaki yang telah mengajarkanku bagaimana mencintaiMu
Seorang lelaki yang hadir dalam setiap doa setelah shalatku
Seorang lelaki yang meletakkan namaku dalam lantunan doanya untukMu
Seorang lelaki yang hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuku, Ibu, adik-kakakku, dan untukMu
Seorang lelaki yang selalu menasehatiku untuk membakar kelemahan dan kekuranganku
Seorang lelaki yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi sedihnya
Seorang lelaki yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang lelaki yang menjadi pemimpinku di saat aku kehilangan arah
Seorang lelaki yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seorang lelaki yang selalu mengingatkanku akan mimpi besarku
Seorang lelaki yang menjadi pahlawan dalam keluargaku
Seorang lelaki yang ku ingin untuk mendampingiku menuju JannahMu
Dan aku berdoa untuknya
Berikanlah kekuatan kepadanya untuk melewati cobaanMu, agar ia mampu bangkit tiap kali badai menerpa
Berikanlah ia kehidupan yang mulia, sehingga ia dapat memuliakanMu
Berikanlah ia hati yang senantiasa ikhlas dan kuat menerima amanah-amanahMu
Berikanlah ia dada yang lapang, sehingga ia dapat sabar dalam mendidik anak titipan dari Mu
Berikanlah ia umur yang berkah, sehinga tiap detik waktunya tak sia-sia di mata Mu
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa) :”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau berikan kepada orang- orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampuni kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.”(QS. Al-baqarah : 286)
“Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, maka amalnnya terputus, kecuali 3 macam, yaitu : harta yang diwakafkan, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakan dirinya” (HR Muslim)
Ya Allah. Jadikanlah aku anak yang shaleh, sehingga aku dapat menjadi pembuka gerbang surga untuknya. Ya Allah. Lindungilah orang yang kucintai dan mencintaiku dengan cintaMu.
Amiiinn….
Ditulis dalam Puisiku | yang berkaitan Puisiku | 4 Komentar »
pernah ku simpan jauh rasa ini
berdua jalani cerita
kau ciptakan mimpiku
jujur ku hanya sesalkan diriku
kau tinggalkan mimpiku
dan itu hanya sesalkan diriku
ku harus lepaskanmu
melupakan senyummu
semua tentangmu, tentangku, hanya harap
jauh, ku jauh, mimpiku dng inginku
ku harus lepaskanmu
melupakan senyummu
semua tentangmu, tentangku, hanya harap
semua tentangmu, tentangku, hanya harap
jauh, ku jauh, mimpiku dng inginku
semua tentangmu, tentangku, hanya harap
jauh, ku jauh, mimpiku dng inginku
jauh mimpiku dengan inginku
Ditulis dalam Lirik Lagu | yang berkaitan Lirik Lagu | 3 Komentar »
Langit bak menunduk di hadapan bukit-bukit yang disapu awan tipis, matahari mulai kehilangan cahayanya dan hanya menyisakan spectrum jingga yang mengisi kelabunya langit sore di Jalaksana-Kuningan. Jari-jari sepeda terus berputar dengan laju meski tanpa kayuhan, mengarungi jalan yang awalnya dilalui dengan perlahan. Melihat jalan yang mulai jarang dilalui kendaraan, kulepaskan pegangan kemudi sepeda dan membuka lebar kedua tanganku sambil merasakan angin yang perlahan mulai terasa dingin memasuki bulu romaku. Bulan tampak indah meskipun hanya sebagian, elok memendarkan sinarnya dari balik kelabunya awan. Sesekali kupejamkan mata sejenak sambil meresapi indahnya masih diberi kesempatan untuk melalui semua ini dan “tes”. Sebulir air jatuh dari langit disusul dengan ribuan lainnya yang perlahan jatuh membasahi bumi dan wajahku. Dan akhirnya rintik gerimis, putaran roda, dan cahaya bulan, menyatu bersama senyuman seorang pria yang melaju kencang di atas sepeda hitam mencoba untuk terus mencari pelajaran dari sebuah perjalanan.
Ditulis dalam Tulisan | yang berkaitan Tulisan | 3 Komentar »
Bis Bandung-Cirebon mulai melaju dengan kecepatan sedang menembus jalan lantaran banyak kendaraan lain yang semakin padat mengisi jalan-jalan menuju kota Bandung. Sepeda hitamku pun bergoyang harmonik di dalam Bis, menari-nari beraturan mengikuti kelokan jalan raya yang dilaluinya, tampak berusaha menikmati perjalanan yang akan dilaluinya. Aku tentunya tak ingin kalah, kucoba untuk sedikit demi sedikit meredupkan cahaya mata, agar cepat terlempar menuju dunia mimpi sambil menikmati pemandangan dari kaca belakang.
“Duk..” kepalaku terbentur kaca bis, menyadarkanku dari kantuk yang baru hinggap. Kucoba lihat sekitarku, pemandangan ruko-ruko pinggiran Bandung trelah berubah total, menjelma menjadi jurang yang dalam di kanan dan tebing tinggi di kiri. Bis tak terlihat menurunkan lajunya, malah terasa tambah laju dan bergoyang di kelokan-kelokan. Jalan Cadas Pangeran tampak begitu kokoh berdiri di atas batuan gunung. Jalan sepanjang 3 km ini hanyalah bagian kecil dari 1000 km megaproyek Anyer-Panarukan milik Daendels, namun memakan korban hampir setengah (lebih dari 5000 jiwa) dari korban kerja rodi. Bis masih meliuk liuk dengan tajam di selingi dengan rem mendadak karena di balik tikungan ternyata ada bis lain yang juga melaju dengan kecepatan tinggi menyalip kendaraan di depannya. Para penumpang tampak waspada, tak ingin memalingkan sedetikpun pandangannya dari depan jalan. Beberapa bahkan ada yang hampir berteriak jika tidak segera menutup mulutnya dengan tangan. Sepertinya supir bis Bandung-Cirebon nantinya banyak yang akan masuk surga, bagaimana tidak, setiap melewati kawasan Cadas Pangeran mereka membuat sebagian penumpangnya ingat akan mati dan berdoa kepada Allah.
Cirebon tampak begitu terik, matahari sudah hampir tergelincir dari titik puncaknya meninggalkan embun pagi yang telah lama menguap. Bersatu di angkasa menjadi segerombolan awan yang berarak mengisi sudut, sudut bumi. Kukayuh sepedaku menuju ke selatan kota Cirebon. Ternyata tak sulit untuk menemukan arah arah jalan menuju kuningan, aku hanya melaju lurus dan mengikuti papan penunjuk arah berwarna hijau di pinggir jalan maka dengan kurang lebih 30 menit saja kita telah berada di jalur –Cirebon-Kuningan. Pemandangan di awal lajur ini cukup indah, sisi kiri dan kanan jalan hanyalah hamparan hijau yang cukup asri, hanya saja entah kenapa jalur yang kulewati dari tadi terus mendaki tanpa satupun jalan datar, apalagi jalan menurun.
Dua jam lebih sudah aku mengayuh, tubuhku sudah basah akan keringat. Siang seakan tak mau sedikit berkompromi, matahari terasa tambah terik dan gerombolan awan tak ada yang mau menghalangi cahayanya sejenak untukku. Karena merasa letih, akhirnya kuputuskan untuk sejenak beristirahat di bawah pohon rindang di sisi kiri jalan. Kedua kaki kuluruskan sambil menenggak air mineral dari botol 1,5 l. Mataku liar, menatap sisi lain jalan raya. Menerawang jauh. Menatap hijau pekarangan padi, dan tebu yang terlihat terkotak-kotak bergantian mengisi hamparan hijau di depan mata. Tubuhku terasa lemas, seakan tidak ingin lagi melanjutkan perjalanan. Beginilah manusia, seringkali berapi-api menentukan tujuan, namun saat menemui rintangan di tengah perjalanan kadang menyesal telah memilih. Tapi bagiku saat telah menetapkan arah tujuan, saat telah memilih sesuatu yang diyakini, maka tak ada alasan untuk kembali. Apapun alasannya tetap tak ada alasan untuk kembali.
Setelah lelah sedikit terobati oleh pemandangan sekitar, perjalanan akhirnya dilanjutkan kembali. Apalagi ditambah tenaga yang baru didapat saat beristirahat di pesantren Al-Muttaqin, rasanya perjalanan 24 jam bisa diarungi tanpa henti (asalkan tidak ada dakian.haha..). Perkebunan tebu dan sawah masih terus bergantian mengisi sisi kiri kanan jalan meski jalan menurun belum juga tampak, awan kelabu tipis mulai bergerak menghalangi matahari yang menunjukkan pertanda hujan akan segera turun sedikit member keringanan. Lelah yang mulai timbul tenggelam kuobati dengan menenteng sepeda sambil menyampaikan senyum ke penduduk sekitar.
Alhamdulillah kini pemukiman penduduk mulai terlihat ramai, akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya ke salah seorang ibu yang kebetulan sedang menyendiri di depan rumahnya. “Bu Punten, kalo ke Jalaksana masih jauh gak ya?” tanyaku sambil menyunggingkan senyuman ke arahnya. Dengan tatapan yang antusias wanita paruh baya tersebut menunjukkan arahnya “Oh ke sana aja dek luruss, masih jauuuh ko”. Waduh celaka pikirku. Orang sunda itu sulit dipercaya jika ditanya soal jarak. Saat mereka bilang dekat saja itu berarti masih jauh, apa lagi mereka bilang jauh plus di tambah 3 harokat di huruf “u”. Dengan sedikit agak menyesal karena telah bertanya ku kayuh kembali roda sepeda melewati jalan yang masih juga mendaki. Sempat terpikir untuk menitipkan sepeda ke DPC PKS setempat (karna di pinggir jalan) lantas melanjutkan dengan kendaraan umum, namun segera kusingkirkan pikiran itu dan kembali mengarungi jalan penuh dakian ini.
Pukul 16.30 akhirnya sampailah aku didepan gerbang pesantren Husnul Khotimah. Disambut dengan 2 orang satpam yang Nampak sedang sibuk melayani absen siswanya. Sambil terengah-engah lantaran mengarungi dakian akupun meminta izin untuk duduk terlebih dahulu sambil kembali mengambilb air dari botol mineral 1,5 l ku. “Pak saya mau daftar buat jadi santri masih bias ya pak?”, tanyaku sablil mengatur pola nafas yang mulai kembali berirama. “wah jam segini mah udah tutup dek, besok pagi ja balik lagi, emang dari mana..?” jawab salah seorang satpam bertubuh tegap. Tanpa pikir panjang akupun tersenyum sambil sedikit tercengang saat mendengar kata kembali “lagi besok”. Dengan sedikit kecewa akupun menjawab “dari Bandung pak”. Serentak kedua satpam itu tersenyum menahan tawa sambil melirik ke arah sepedaku. Namun akhirnya dengan sedikit diplomasi akhirnya aku diantarkan menuju kantor pendaftaran dan diperbolehkan untuk mendaftar meskipun sebenarnya pendaftaran telah tutup semenjak pukul 15.00. “Makasih ya Pak” ucapku sambil mengayuh sepeda kembali untuk pulang
Ditulis dalam Tulisan | yang berkaitan Tulisan | Leave a Comment »
























