Feeds:
Pos
Komentar

Salam dari Jayapura!

 

Kami bertiga baru saja keluardari pedalaman Tolikara menyaksikan Olimpiade Astronomi se Asia-Pacific.Hasilnya? Pelajar2 Indonesia menduduki urutan ke-2 dari 9 negara, dengan perolehan 1 medali emas, 2 perak dan 4 perunggu. Korea Selatan di urutan pertama dengan 2 emas. Lebih mengejutkan lagi, 3 medali perunggu Indonesia di raih oleh pelajar asal Tolikara, kabupaten terpencil di Tolikara, yang selama ini mengalami keterbelakangan pendidikan dan SDM.

 

Kisahnya dimulai dengan seorang “gila” bernama Yohanes Surya, pendiri Surya Institute dan salah satu aktivis olimpiadescience dunia, yang telah sukses mempromosikan banyak anak Indonesia ke ajang olimpiade science dunia, memprakarsai dilaksanakannya Olimpiade Astronomi AsiaPacific (APAO) di Indonesia. Program ini ditawarkan ke berbagai pemda di Indonesia, namun tidak ada yang tertarik. Hingga suatu hari …

 

Yohanes Surya ketemu dengan seorang”gila” lainnya bernama John Tabo, orang Papua, Bupati Tolikara, kabupaten baru yang terisolir dan hanya bisa dicapai dengan naik pesawat kecil dari Jayapura ke Wamena disambung berkendaraan off-road selama 4 jam, daerah dimana laki-laki tanpa celana dan perempuan tanpa penutup dada ditemukan dimana-mana. John Tabo, tanpa diduga, bersedia menjadi sponsor pelaksanaan APAO di Indonesia, selain menjadi tuan rumah, dia juga mendanai seluruh biaya persiapan tim olimpiade Indonesia yang datang dari berbagai daerah di Indonesia termasuk dari Papua, selama 1 tahun. John Tabo membangun tempat khusus (hotel) untuk menjadi venue olimpiade ini. Orang yang berfikir normal pasti bilang, untuk apa John gila ini urusin Olimpiade astronomi seperti ini? bukankah masih banyak persoalan internal kabupaten yang harus dia selesaikan? mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi dan berbagai infrastruktur dasar? Cari kerjaan dan masalah saja!

 

John Tabo melakukan terobosan “gila”. Dana diambil dari APBD, mau dari mana lagi? Dia tidak takut BPK atau BPKP yangakan menilainya salah prosedur. Untuk John Tabo, membangun adalah untuk rakyat, jangan dibatasi oleh hal-hal administratif. Yang penting misi dia untukmembangun SDM Tolikara yang mendunia dapat tercapai, dan itu “breakthrough” untuk mengatasi kemiskinan Tolikara, tidak perlu menunggu sampai infrastruktur jalan akses terbuka.

 

Dikumpulkanlah 15 anak Indonesia sejak februari 2010 di Karawaci. 8 dari 15 anak tersebut direkrut dari SMP/SMU Tolikara, yang semuanya memiliki kemampuan matematika yang rendah, menyelesaikan soal matematika tingkat kelas 4 SD saja tidak mampu. Bahkan ada yang namanya Eko, ketika ditanya 1/5 + 1/2, langsung dijawab 1/7! Seorang anak dari Kalimantan Tengah, malah tidak diijinkan kepala sekolah dan gurunya untuk mengikuti persiapan olimpiade ini. Guru-gurunya mengatakan bahwa apa yang akan dia ikuti itu sia-sia saja. Dia melawan ini dan lari dari sekolah!

 

Ke-15 anak ini dilatih oleh pelatih2 “gila”, yang tidak bosan melatih anak-anak ini. Dalam 10bulan ke-8 anak Tolikara ini mampu mengerjakan problem matematika paling sulit yang diajarkan pada tingkat terakhir SMA atau tingkat awal universitas.

 

Pendekatan mengajarnya juga “gila”.  Astronomi adalah  kumpulan dari berbagai ilmu science: matematika, fisika, kimia dan biologi menjadi satu mempelajari fenomena jagad raya.

 

Ini juga ilmu gila. Bayangkan seorang anak seperti Eko dari pedalaman Tolikara dapat menjadi salah seorang anak terpandai dibidang astronomi didunia hanya dalam waktu 10 bulan??!!

 

Urusan ijin ternyata juga “gila-gilaan” .Ternyata even APAO ini tidak diakui oleh Kemdiknas. Akibatnya, untukmendatangkan peserta luar negeri, tidaklah mungkin mendapatkan fasilitas visa dari negara. Pake prosedur normal ijin dari Pemerintah cq Mendiknas tidak keluar. Entah gimana ceritanya …

 

Surya Institute akhirnya bertemu dengan seorang”gila” dari UKP4. Orang inilah yang mengetok Menteri Diknas, sehingga kemdiknas mau mengeluarkan ijin. Lalu orang ini memfasilitasi ijin visa disaat-saat terakhir, ketika semua sudah pasrah, bahkan orang ini mempertemukan anak-anak Indonesia dengan wakil presiden RI. Orang normal mungkin akan berfikir, apa urusannya astronomi dengan wapres??!!

 

Lalu siorang gila dari UKP4 ini menugaskan 3 orang anggotanya yang kebetulan juga “agak gila” untuk datang menghadiri kegiatan olimpiade di Tolikara. jadilah 3 orang itu sebagai satu2nya unsur pemerintah pusat dalam even Olimpiade di Tolikara. Lalu 3 orang ini membawa-bawa nama Wakil Presiden RI dan Kepala UKP4 untuk memotivasi anak2. Dalam percakapan hati ke hati dengan 15 orang anak, semalam sebelum pengumuman,tidak kurang 7 orang anak terharu menangis, melihat begitu besarnya perhatian pemerintah RI kepada mereka, sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan dari pemerintah di Jakarta selama 10 bulan mereka di godok di Karawaci. Datang dan duduk bersama dengan mereka, ternyata lebih dari segalanya bagi anak-anak ini.Anak-anak Tolikara begitu terharu, menangis terisak, melihat ada orang Jakarta mau datang melihat mereka di Tolikara.

 

Apa hasil dari semua kegilaan ini? Selain perolehan medali-medali diatas:

 

1. Indonesia dikenal lewat Tolikara! Tolikara,meskipun tidak dikenal Indonesia, namun telah membuktikan kepada dunia bahwa dari tempat yang sedikit sekali dijamah pembangunan, bisa lahir juara-juara olimpiade science, yang akan mengharumkan nama Indonesia ditingkat dunia,

 

2. Tolikara mulai membenahi sumber daya manusianya menuju SDM berkualitas dunia. Hasil olimpiade ini telah memotivasi semua anak Tolikara bahwa keterbatasan fisik dan fasilitas bukanlah halangan bagi anakTolikara untuk menjadi SDM terbaik dunia. 8 anak Tolikara yang bersaing ditingkat dunia menjadi saksi hidup bahwa SDM Tolikara dapat bersaing ditingkat dunia.

 

3. Tolikara membuktikan bahwa mereka dapat membangun “lebih cepat” jika cara berfikir “gila” ini diterapkan. Hanya dengan cara gila seperti ini pembangunan Papua dapat dipercepat.

 

4. Kita perlu “A Tolikara Approach” untuk sebuah percepatan pembangunan Papua!

 

Pesan moral dari kisah ini: jadilah orang gila untuk membangun Indonesia lebih baik! Never underestimate things! Kesempatan ke Tolikara telah memberikan pelajaran berharga bagi saya. Belajar tidak harus selalu dari tokoh dunia. Dari seorang anak SMP yang tidak pernah diperhitungkan dipelosok Tolikara, kita dapat belajar untuk berbuat yang terbaik bagi Indonesia dan dunia.

 

 

Partogi Samosir

Counsellor

Embassy of the Republic of Indonesia

 

Washington, D.C.

Jalan Mimpi

Jika jalan yang kupilih berbeda dengan jalanmu, apakau kau akan mengikutiku?Jika mimpi yang kutuju bukan mimpi yang engkau inginkan, apa kau akan tetap berjalan di sampingku?. Nona. Jalan kta masih panjang, bahkan kita tak pernah tau sampai dibatas mana kita mampu bermimpi. Hidup itu seperti ruangan dengan beberapa pintu, yang jika kita pilih salah satunya akan menghadapkan kita pada pintu-pintu yang lain. Aku tak ingin menyeretmu hingga terperosok kedalam pilihanku,dan akupun tak mungkin melupakan mimpiku untuk berjalan di sampingmu. Nona. Kita masih muda, masih banyak pintu yang akan terbuka saat kita mengetuknya, masih banyak ruang yang bisa kita isi saat memasukinya. Jika saat ini kita berada di jalan mimpi yang berbeda, mungkin suatu saat kita akan kembali bertemu di tempat yang berbeda. Tempat dimana mimpi kita membentuk simpul yang akan menyatukan kita.

.

Jika memang kita telah berada di jalan mimpi yang sama maka raihlah tanganku, dan aku akan menggenggam tanganmu hingga berguguran dosa kita dari sela jemari kita. Selamanya.

Hujan dan Senja

Senja di dermaga itu mengingatkanku pada tempat hati kita pertama kali bertemu. Hujan masih belum habis benar jatuh dari cumulus nimbus yang beriring ke Timur. Angin berhembus memporakporandakan dahan waru yang menggenggam lemah daun kecil. Mengoyangnya perlahan. Hingga ia terlepas, berpilin, kemudian jatuh berguling diantara pasir-pasir pantai yang basah. “Senja dan hujan..perpaduan yang menarik bukan..?mereka bertentangan namun saling melengkapi keindahan masing-masing” bisikmu perlahan waktu itu.

Aku tak mampu berkata apa-apa. Hanya senyum mengembang dari tubuhku yang duduk meringkuk memeluk kedua kaki yang dapat kutunjukkan. Aku tahu ini bukan sekedar tentang pertanyaanmu, dan kau tentunya tak hanya mengharapkan jawaban ‘sangat menarik..’ dariku. Kita telah lama saling mengenal, meskipun jarak dan pertemuan belum mendukung kita. Kau pastinya tau bukan?tau kalau aku menyukai senja yang tampak megah dengan siluet jingganya. Dan akupun mengerti. Kau menyukai hujan, yang selalu kau mainkan rintiknya agar memenggelitik jari kananmu sampai kuyup sekujur lenganmu.

Hujan dan senja di dermaga itu. Bukan hanya tentang apa yang kau dan aku lihat. Tapi ini tentang kita, yang tak juga bersuara gamblang tentang apa yang kita sama-sama rasa. Mungkin hati kita berbicara terlalu banyak, sehingga menyumpal saluran pengalir kata ke lidah kita. Dan kitapun terus berbicara dalam diam dan senyuman.

“Kita tak hanya menunggu hujan dan senja bukan..?” aku memberanikan diri berbicara tanpa menjawab pertanyaanmu. “Kita menunggu hadirnya pelangi..” lanjutku secepat mungkin sebelum lidahmu sigap untuk mengeluarkan suara. Ya benar. Aku dan dia memang menunggu pelangi yang melengkung indah di langit jingga. Pelangi yang dapat mempersatukan hujan dan senja tanpa banyak berbicara.

Aku dan ITB

Adalah “Universitas Brawijaya”, sebuah tempat yang telah saya tuju semenjak menginjak bangku SLTA. Bahkan sampai lulus dari SMAN 1 Serang pun saya masih menginginkan berkuliah di sana. Bukan dengan tanpa alasan tentunya, selain memang berniat untuk kembali ke tanah kelahiran, saya juga tidak merasa mampu meraih ITB, UI ataupun UGM yang merupakan tempat bagi siswa-siswi terbaik. Selain itu biaya yang dikeluarkan untuk berkuliah di 3 universitas tersebut bisa dibilang mustahil untuk dapat dipasok sampai akhir. Jadi, tentulah PMDK Teknik Mesin Brawijawa adalah pilihan rasional.

Ternyata manusia memang hanya bisa berencana. Teknik Mesin Unbraw tidak saya dapatkan, mungkin karena memang nilai kimia di raport saya pernah mencapai nilai yang cukup fantastis, yaitu 5. Jadi tentu wajar jika Bapak-bapak di Brawijaya tidak menerima saya.

Berawal dari kepanikan tidak diterima di universitas manapun, akhirnya saya mulai belajar dengan sungguh2 dan mengikuti intensif di Nurul Fikri untuk memantapkan kompetensi saya. Berhubung kocek yang saya miliki tak begitu banyak maka sayapun harus memutar otak untuk menutupi kekurangannya. Alhamdulilah mungkin memang sudah jalannya, seorang kawan memberikan saya formulir SPMB dengan harga murah, sehingga uang sisanya dapat saya pergunakan untuk menutupi biaya di NF. Semoga Allah membalas kebaikanmu kawan.

Teknik Kimia, sebuah jurusan yang bahkan tak saya mengerti sebelumnya. Seorang kawan menyarankan untuk mengambilnya karna melihat ketertarikanku pada kimia dan fisika. Tak tanggung-tanggung, Teknik Kimia ITB. Bukan lainnya. Sungguh aku sangat berbahagia setelah mendapat ilmu di dalamnya. Semoga Allah merahmati beliau.

“Man Jadda wa Jada”. Dulu bahkan aku tak mengerti apa arti kalimat ini. Namun Allah membuatku mengerti, Dia tak menunjukkan kekuasaanNya hingga aku mengerti dan memahami apa arti kata tersebut. Sungguh, Dia mengajarkan kepadaku dengan begitu baik, dengan metode yang tak akan pernah dilupakan oleh seorang pelupa sepertiku.

Diterima di ITB bukanlah akhir dari perjuangan. Karna biaya hidup di bandung tentulah membutuhkan biaya yg tidak sedikit. Ditambah tiap semester harus membayar uang kuliah yang lebih tinggi dibanding UI ataupun UGM (meskipun begitu biaya masuk ITB lebih murah hanya 800rb di awal masuk). Tapi Alhamdulillah sekali lagi, saya mendapatkan beasiswa dari program TPSDP sebesar 1,5jt, sehingga uang semester menjadi lancer. Selain itu saya juga bersyukur karena dapat memasuki Asrama Bumi Ganesha yang pada waktu itu hanya berbiaya Rp. 64.000/bulan. Bukankah rejeki itu memang dating dari arah yang tidak kita sangka..?

“Nikmat Allah manakah yang kamu dustakan..?”

Pondok Ban Tan
oleh anies baswedan

Ya Nabi salam alaika…Ya Rasul salam alaika…Ya habibie salam alaika…Shalawatullah alaika…

Sekitar seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih, melafalkan shalawat, khusuk dan menggema. Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Utk mencapai-nya harus terbang dari Bangkok, jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat lalu dari airport yang kecil itu, naik mobil kira2 satu jam ke pedalaman. Masuk di tengah2 desa-desa dan perkampungan umat Budha, disitu berdiri Pondok Ban Tan. Dibangun awal abad lalu dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, menjaga aqidah umat Islam yg tersebar di kampung2 yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan.

Anak-anak yang dititipkan orang tua-nya untuk sekolah ke Pondok, untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini mereka berdampingan dengan damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus. Malam ini, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu event puncak utk keluarga pengasuh pondok ini. Di awal tahun 1967 terjadi perdebatan panjang diantara para guru di Pondok ini. Anak tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan. Anak usia 17 tahun itu memenangkan bea-siswa AFS untuk sekolah SMA setahun di Amerika Serikat.

Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari perkampungan Muslim yang kecil, jauh dari keramaian, dan di pedalaman Thailand di tahun 1960an, cucu tertua pendiri Pondok akan dikirimkan ke Amerika. Umumnya santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke Jawa atau Kedah atau Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah atau Mesir. Tapi Amerika ?!?; tidak pernah terlintas di benak mereka akan mengirim santri belajar ke Amerika. Saat itu para guru di pondok terpecah pandangannya: separoh takut anak ini akan berubah bila dikirim ke negeri kufar (istilah yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka tidak ingin kehilangan anak cerdas itu. Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri Pondok itu, mengatakan, “saya sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istiqomah dan saya ikhlas jika dia berangkat”. Ruang musyawarah di pondok itu jadi senyap. Tidak ada yang berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail, sang ayah, mengangguk setuju. Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda tadi ke Amerika. Tahun demi tahun lewat. Dan dugaan guru-guru Pondok itu terjadi: anak itu tidak pernah kembali jadi guru pondok. Dia tidak meneruskan mengelola warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu terlempar ke orbit lain.

Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan sebagai orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh keluarga, seluruh pondok dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini. Dia pulang sebagai Sekretaris Jendral ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal, kampung halaman jadi perhatian dunia. Sebelumnya dia adalah menteri luar negeri Thailand, muslim pertama yang jadi Menlu di Negara berpenduduk mayoritas Budha. Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; dikampungnya dia dikenal sebagai Abdul Halim bin Ismail.

Malam ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang seluruh bangunan Pondok ini nampak megah. Setiap bangunan adalah dukungan dari berbagai negara. Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia utk Pondok mungil di pedalaman ini. Semua adiknya menjadi guru, meneruskan tradisi dakwah di kampung halamannya.

Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu “hadir” disini, dia membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta Muslim Thailand di dunia.

Dia tidak pernah hilang seperti ditakutkan guru-gurunya. Dia masih persis seperti kata Kakeknya. Sejak pertama kali saya ngobrol dengan Surin, 3 tahun lalu di Hanoi, tutur kata dan pikirannya seakan mengatakan: isyhadu bi ana muslimin.

Ramadhan kemarin, saat kita makan malam -Ifthar bersama- di Bangkok, Surin cerita tentang ASEAN Muslim Research Organization Network (AMRON) conference di Walailak University dan ingin undang ke Pondoknya awal Oktober. Saya jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung. Sesudah itu, dia kirim beberapa sms meyakinkan bahwa ke “Ban-Tan” lebih utama daripada ke “Ban-Dung”.

Saat duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur rasanya merubah jadwal, dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya sholat Isya’ berjamaah duduk disamping Surin, selesai sholat ratusan tangan mengulur, semua berebut salaman dengannya. Wajah takjub santri-santri itu tidak bisa disembunyikan, mereka semua seakan ingin bisa seperti Surin. Dia seakan jadi visualisasi nyata, dari mimpi-mimpi para santri di kampung kecil di pedalaman Thailand.

Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan dibuatkan panggung utk menyambut. Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka ragakan kemahiran bercakap melayu, inggris dan arab. Sebagai puncak acara mereka tampilkan Leke Hulu (Dzikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah dijadikan seni panggung. Seluruh santri ikut berdzikir, gemuruhnya menggetarkan dada.

Besok paginya Syaikhul Islam Thailand, pemimpin Muslim tertinggi di Thailand khusus datang dari Songklah, kota di sisi selatan, untuk sarapan pagi bersama di Pondoknya. Kita ngobrol panjang dan saya tanya asal keturunannya, karena garis wajahnya berbeda; dia jawab kakek saya dari Sumatera, tapi dia keturunan Hadramauth.

Hari itu saya bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini perjalanan luar biasa. Tapi dia belum puas, Surin panggil salah satu alumni pondoknya (seorang doktor ilmu management) untuk antarkan saya ke Masjid di kampung-kampung pesisir pantai untuk dikenalkan dengan Ustadz keturunan Minang.

Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat-sangat sederhana, saya sampai di rumahnya yang sangat sederhana, di belakang Madrasah yg dipimpinnya. Kita berdiskusi tentang suasana disini, tentang Minang, dan tentang kemajuan. Lalu dia ambil bingkai-bingkai dari lemari, dia tunjukkan beberapa foto-foto orang tuanya, ayahnya dipaksa hijrah dari Maninjau di Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira 90 tahun yang lalu, dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama. Mengagumkan, anak-anak muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya Dienul Islam. Mereka hadir dan hidup berdampingan penuh kedamaian.

Lengkap sudah perjalanan kali ini. Dalam satu rotasi ditemukan dengan komunitas yang kontras. Di Kuala Lumpur, berdialog dengan kalangan bisnis dan politik dalam ASEAN 100 Leadership Forum dengan suasana megah, di Thailand Selatan berdialog dengan kaum Muslim minoritas dengan suasana sederhana, sangat bersahaja.

Sekali lagi kita ditunjukan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri fondasi aqidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah lalu biarkan anak muda terbang mencari ilmu, membangun network, merajut masa depan. Anak muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya, bagi negerinya dan bagi umatnya.

Di airport kita berpisah. Saya pulang kampung ke Jakarta dan Surin berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan ASEAN dalam ASEAN-European Summit.

Hari ini anak yang dulu ditakutkan hilang itu akan memimpin delegasi pemimpin se-Asia Tenggara. Dan, pada hari ini juga Ibunya masih tetap tinggal di pondok Ban Tan, sekitar 90 tahun, tetap mendoakan anaknya seperti saat melepasnya berangkat sekolah SMA ke Amerika dulu.

Barakallahu lakum . . . .

Just landed in Jakarta; Oct 4, 2010; 00.30 am.(Sekadar catatan pendek, sebuah perjalanan singkat. Ditulis di pesawat dalam perjalanan pulang ke Jakarta)

“Mas rokoknya bisa dimatikan?” sahut seorang wanita paruh baya yang tengah memangku anaknya. Alih alih langsung mematikan rokoknya, lelaki yang diajak biacara itu malah semakin menjadi-jadi memainkan kepulan asap si sekeliling wajahnya sambil memasang muka bengis ala mafia Hongkong. Mungkin lelaki ini  (atau mungkin penulis) terlalu banyak menonton TV sehingga terinspirasi memasang muka preman, namun sayang tempatnya kurang tepat. Angkutan umum bukanlah tempat yang cocok untuk berperilaku seperti itu. “Depan kiri Pak..!!” ucap Ibu paruh baya itu lagi. Dengan cekatan sopir angkot menerima sinyal untuk segera menepikan kendaraannya, walau mungkin terkadang agak membahayakan pengendara motor di belakangnya. Ibu itu turun , dari rona wajahnya kita bisa tau kalu sebenarnya ini bukan tempat yang ia tuju, sekedar menghindar dampak pasif dari peringatan “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan janin”. Segerombolan anak berseragam putih-merah masuk saat Ibu itu tengah menyerahkan beberapa lembar uang ribuan. Selayaknya anak-anak, merekapun membuat kegaduhan di dalam mobil dengan tawa, canda, ledekan, kadang malah makian khas anak-anak. Hal ini tampaknya membuat si preman jengah, “Woii..berisik!!” sentaknya sambil membesarkan bukaan kelopak matanya di tengah asap yang ia timbulkan. Anak-anak itupun terdiam, sembari cengar cengrir menyenggol tamannya sambil berbisik “elu sih..” dan bersahut “ “enak aja, dia tu yg mulai duluan”. Suasana mulai bosan saat anak-anak itu lelah menyalahkan. Namun dalam diam, tiba-tiba tanpa pertanda apapun muncul muncul bau busuk di dalam angkot tersebut yang kita kenal sebagai bau kentut. Sang preman angkot inipun dengan cepat membuka jendela lebar-lebar, tapi apa daya angkot sudah dipenuhi dengan bau kentut yang sangat menyengat dan gerombolan anak-anak saling bertatapan sambil memencet hidung masing-masing tak mau ketahuan disalahkan. “kiri..kiri..kiri..” si preman memberhentikan angkot dengan cepat, tak kuasa menahan mual yang ditimbulkan bau yang ia hirup tersebut. Ternyata penguasa udara selalu dipergilirkan. Dan eng ing eng..jadilah gerombolan anak kecil itu menguasai keseluruhan angkot sambil kembali menyalahkan “elo ya..?” dan disambuat “bukan gua, si ini kali tu diem-diem aja dia”.

Himbauan untuk yang senang merokok di angkot.

Udara yang berada di sekitar anda adalah milik saya juga, jika tidak ingin melakukan perang udara dengan sesama manusia, makan janganlah mengobarkannya di tempat yang tidak semestinya. Asap rokok dan bau kentut itu sama-sama pencemar udara, Cuma bedanya asap rokok itu beracun, kentut nggak beracun. Jadi orang yg ngerokok di tempat umum itu sebenernya lebih parah dari kentut di muka umum.

Renungan

Ya Allah,

Mengapa Engkau memberikanku bayang-bayang keberhasilan

Lantas, menghempaskannya  saat ia tepat di depan mataku

Aku mengerti,

Engkaulah yang berkuasa atas segala Rahmat Mu

Engkau berhak memberikan karunia

kepada orang yang Engkau kehendaki

Tapi mengapa, seolah tak ada jalan untukku?

Mungkinkah Engkau ingin menunjukkan sesuatu kepadaku?

Ataukah Engkau ingin memberikanku di jalan lain?

Atau mungkin Engkau ingin memberikan pelajaran untukku

Sungguh, Engkaulah sebaik-baik pemberi pelajaran bagiku

Engkau mengerti mana jalan terbaik untukku

Ya Rabb,

Mungkinkah aku sombong

Tak selalu menangis di depanmu

Malah tersenyum dengan silih bergantinya masalah ini

Padahal aku tau Engkaulah sebaik-baik tempat mengadu

Ya Rabb, aku lemah di hadapanMu

Dan mungkin lebih lemah dari yang aku rasakan

Aku berserah diri

Atas semua kehendakMu

Dibalik semua ikhtiarku…

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allahkepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (At-Thalaq-7)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.