Malam ini kota Tangerang terlihat ramai. Jalan-jalan tumpah ruah dengan kendaraan. Baik itu roda 2 yang menyemarakkan dengan klaksonnya ataupun kendaraan roda 4 yang di isi orang-orang yang terlihat gembira sambil menabuh beduk. Langit dipenuhi kembang api yang berpendar bergantian dari satu sudut ke sudut lainnya. Bersahutan tak berirama.
Semua orang, anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi terlihat begitu senang di malam Ied ini. Akupun melamun sembari tersenyum di balik kaca angkutan umum sambil memegangi parcel. Benda ini harus kuantarkan malam ini juga ke daerah ciputat. “Mas dah sampai”. Perkataan supir angkot menyadarkanku dari lamunan, aku berhenti di bawah kolong jembatan layang di daerah ciputat. Waktu sudah berkisar di angka 11 malam, namun angkutan terakhir untuk sampai di alamat yang dituju tak jua kutemukan lewat di depan hidungku. Lelah menunggu, akhirnya kuhampiri kumpulan lelaki yang duduk di atas motor. Kupilih yang paling tua diantara mereka, “Bapak, bias antar saya ke alamat ini Pak?” tanyaku ke seorang lelaki yang telah beruban tersebut. “Oh iya Mas, bisa” sahutnya segera dan langsung menyiapkan roda duanya ke alamat yang kutunjukkan.
Alamat yang dituju ternyata tak begitu jauh, mungkin sekitar 10 km. Jarak yang cukup jauh untuk diisi dengan pembicaraan ringan antara aku dan dia. Yang unik adalah Bapak ber anak 5 ini mengaku pernah menjadi mekanik Ananda Micola..hehe.. Akupun hanya tersenyum tak percaya.
Tak lama kemudian parcel telah kuantar dengan selamat. “Pak langsung ke Lebak bulus aja ya Pak” sahutku ke bapak pengendara motor. Kami ber dua kembali memacu motor di tengah jalan yang mulai lengang. Namun belum juga jauh berjalan aku menghentikannya dengan berkata “Stop di sini Pak”. Kami berhenti di depan took buah yang masih buka, “Tunggu sebentar ya Pak” sambutku lagi. Di sana aku melihat buah-buahan yang cukup segar. Mataku tertarik pada gerumulan anggur yang terlihat begitu ranum. “Ini berapa pak?” telunjukku menunjuk buah anggur sambil memetiknya tanpa izin dan melahapnya beberapa. Dan ternyata memang manis..hehe..Tawar menawar terjadi dan akhirnya akupun membawa sebungkus kantung plastik hitam di tangan kananku.
Perjalanan kembali dilanjutkan, namun tak lama berselang motor kembali kuhentikan. “saya haus Pak, mau beli minum dulu” ucapku kepadanya dan langsung di iyakan dengan rona keheranan di wajahnya. Mungkin bapak pengendara motor itu berfikir “Ni orang dari tadi minta berenti mulu, mending kalo cepet. Dia mah ngobrol2 dulu sama mamang yg jualnya”. Hehe…Mungkin memang dasar lelaki yg mudah tertarik, selain membeli sebotol green tea madu mataku kembali terpukau oleh kelengkeng yang di jual di sana. Hal ini membuat aku semakin lama karena harus mencicipi beberapa sambil menunggunya menimbang (maunya curi2 kesempatan hehe). Bapak pengendara motor terlihat tidak sabar menunggu di atas jok motor tuanya. Dan wajahnya terlihat kembali cerah saat aku keluar dari toko tersebut.
Terminal lebak bulus telah sepi, hari telah berganti lantaran waktu telah cukup lama melewati pukul 00.00. “Terima kasih ya Pak” ucapku sambil mengeluarkan selembar rupiah. Jumlah yang sepertinya terlalu banyak untuk sekedar mengantar ciputat-lebak bulus. Dan selintas kemudian senyumnya bertambah lebar saat aku menyodorkan bungkusan plastic yang dibeli di jalan tadi. “Jadi tadi buat saya Mas..makasih banyak ya Mas..” lelaki itu tersenyum kepadaku sambil perlahan kembali memutar sepeda motor tuanya. Ya Allah… Senyuman itu senyuman yang paling aku suka. Senyuman syukur kepadaMu. Senyum yang benar-benar tulus karena janjimu untuk memberinya rizki dari arah yang tidak terduga-duga. Mungkin aku tak tau kebaikan apa yang hari ini ia kerjakan sehingga Engkau memilihnya untuk menerima itu semua. Namun aku sadar bahwa aku hanyalah perantara yang Engkau takdirkan untuk dipertemukan dengannya. Aku membawa rizki untuknya dan Engkau yang mempertemukannya dengan yang berhak menerimanya. Ya Allah, semoga aku bisa lebih banyak melihat senyum seperti itu, dan aku mampu tersenyum se ikhlas itu. Amin..
Dan kamipun dipisahkan oleh malam yang semakin pekat di terminal lebak bulus, di iringi seruan Takbir yang menggema dati corong-corong masjid. Aroma khas terminal yang bercampur antara pesing dan sampah menusuk hidungku. Dalam hening aku aku kembali melangkah meneruskan perjalanan pulang, semoga langkah ini tak pernah terhenti.

Malam ini kota Tangerang terlihat ramai. Jalan-jalan tumpah ruah dengan kendaraan. Baik itu roda 2 yang menyemarakkan dengan klaksonnya ataupun kendaraan roda 4 yang di isi orang-orang yang terlihat gembira sambil menabuh beduk. Langit dipenuhi kembang api yang berpendar bergantian dari satu sudut ke sudut lainnya. Bersahutan tak berirama.
Semua orang, anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi terlihat begitu senang di malam Ied ini. Akupun melamun sembari tersenyum di balik kaca angkutan umum sambil memegangi parcel. Benda ini harus kuantarkan malam ini juga ke daerah ciputat. “Mas dah sampai”. Perkataan supir angkot menyadarkanku dari lamunan, aku berhenti di bawah kolong jembatan layang di daerah ciputat. Waktu sudah berkisar di angka 11 malam, namun angkutan terakhir untuk sampai di alamat yang dituju tak jua kutemukan lewat di depan hidungku. Lelah menunggu, akhirnya kuhampiri kumpulan lelaki yang duduk di atas motor. Kupilih yang paling tua diantara mereka, “Bapak, bias antar saya ke alamat ini Pak?” tanyaku ke seorang lelaki yang telah beruban tersebut. “Oh iya Mas, bisa” sahutnya segera dan langsung menyiapkan roda duanya ke alamat yang kutunjukkan.
Alamat yang dituju ternyata tak begitu jauh, mungkin sekitar 10 km. Jarak yang cukup jauh untuk diisi dengan pembicaraan ringan antara aku dan dia. Yang unik adalah Bapak ber anak 5 ini mengaku pernah menjadi mekanik Ananda Micola..hehe.. Akupun hanya tersenyum tak percaya.
Tak lama kemudian parcel telah kuantar dengan selamat. “Pak langsung ke Lebak bulus aja ya Pak” sahutku ke bapak pengendara motor. Kami ber dua kembali memacu motor di tengah jalan yang mulai lengang. Namun belum juga jauh berjalan aku menghentikannya dengan berkata “Stop di sini Pak”. Kami berhenti di depan took buah yang masih buka, “Tunggu sebentar ya Pak” sambutku lagi. Di sana aku melihat buah-buahan yang cukup segar. Mataku tertarik pada gerumulan anggur yang terlihat begitu ranum. “Ini berapa pak?” telunjukku menunjuk buah anggur sambil memetiknya tanpa izin dan melahapnya beberapa. Dan ternyata memang manis..hehe..Tawar menawar terjadi dan akhirnya akupun membawa sebungkus kantung plastik hitam di tangan kananku.
Perjalanan kembali dilanjutkan, namun tak lama berselang motor kembali kuhentikan. “saya haus Pak, mau beli minum dulu” ucapku kepadanya dan langsung di iyakan dengan rona keheranan di wajahnya. Mungkin bapak pengendara motor itu berfikir “Ni orang dari tadi minta berenti mulu, mending kalo cepet. Dia mah ngobrol2 dulu sama mamang yg jualnya”. Hehe…Mungkin memang dasar lelaki yg mudah tertarik, selain membeli sebotol green tea madu mataku kembali terpukau oleh kelengkeng yang di jual di sana. Hal ini membuat aku semakin lama karena harus mencicipi beberapa sambil menunggunya menimbang (maunya curi2 kesempatan hehe). Bapak pengendara motor terlihat tidak sabar menunggu di atas jok motor tuanya. Dan wajahnya terlihat kembali cerah saat aku keluar dari toko tersebut.
Terminal lebak bulus telah sepi, hari telah berganti lantaran waktu telah cukup lama melewati pukul 00.00. “Terima kasih ya Pak” ucapku sambil mengeluarkan selembar rupiah. Jumlah yang sepertinya terlalu banyak untuk sekedar mengantar ciputat-lebak bulus. Dan selintas kemudian senyumnya bertambah lebar saat aku menyodorkan bungkusan plastic yang dibeli di jalan tadi. “Jadi tadi buat saya Mas..makasih banyak ya Mas..” lelaki itu tersenyum kepadaku sambil perlahan kembali memutar sepeda motor tuanya. Ya Allah… Senyuman itu senyuman yang paling aku suka. Senyuman syukur kepadaMu. Senyum yang benar-benar tulus karena janjimu untuk memberinya rizki dari arah yang tidak terduga-duga. Mungkin aku tak tau kebaikan apa yang hari ini ia kerjakan sehingga Engkau memilihnya untuk menerima itu semua. Namun aku sadar bahwa aku hanyalah perantara yang Engkau takdirkan untuk dipertemukan dengannya. Aku membawa rizki untuknya dan Engkau yang mempertemukannya dengan yang berhak menerimanya. Ya Allah, semoga aku bisa lebih banyak melihat senyum seperti itu, dan aku mampu tersenyum se ikhlas itu. Amin..

Rasanya waktu cepat sekali berlalu. Tidak Terasa 13 Agustus nanti saya akan sudah berada di Pulau Tunu selama 62 hari. Entah harus merasa senang aatau sedih, karena sebetulnya saya sudah mulai menikmati kehidupan di pulau terpencil di Kalimantan timur ini. Meskipun penuh dengan keterbatasan, baik itu sinyal ataupun akses, namun banyak pelajaran yang saya dapat dari pulau ini. Banyak pengalaman yang dapat saya ambil hikmahnya dari perjalanan singkat ini, pengalaman yang saya dapat pun tak sebatas pada apa yang saya alami saja, tapi lebih banyak lagi pengalaman yang saya ambil hikmahnya dari cerita dan kehidupan orang-orang yang ada di sekitar. Mungkin suatu saat akan saya ceritakan lebih detail tentang beberapa (kalo semuanya banyaak bgt) orang yang punya cerita fenomenal.
Langit belum sepenuhnya cerah. Awan mendung menyelimuti Timur , sembunyikan bola cahaya dari pengelihatan bumi yang beranjak pagi. Angin berhembus kencang mengacak rambutku, membuat sisiran rapi pagi tadi menjadi tak beraturan. Aroma angin laut terasa kuat menyengat, semakin menegaskan bau pesisir dengan garis putih yang perlahan mendekat, membesar, sesaat kemudian mendesis dan berhambur menubruk pasir lantas menghilang. Berulang-ulang.
Kali ini saya ingin bercerita tentang salah satu pekerjaan yang cukup saya dambakan saat ini. Pekerjaan ini bukanlah sebuah harga mati untuk saya, namun hanya sebagai motivasi untuk mempersiapkan diri setelah lulus dari ITB. Mungkin akan terdengar aneh saat seorang sarjana Teknik Kimia memasuki sebuah wilayah yang erat kaitannya dalam bidang hukum dan penegakan disiplin. Namun saya rasa itu tak akan menjadi soal, toh sampai sekarang saya merasa bahwa dunia teknik kimia masih mempunyai cukup banyak lahan untuk dikorupsi oleh kelompok/orang yang tidak bertanggung jawab terutama dalam hal proyek pembangunan ataupun pengembangan suatu industri. Sementara itu penegak hukum yang ada sekarang cukup banyak tidak mengerti tentang dunia keteknik kimiaan dan seluk beluk kesempatan penyelewengannya.
“San, gmana caranya lw tau kalo seseorang itu adalah jodoh lw?” Tanya seorang temanku . “Waduh, gw kan blom dapet jodoh men, jadi mana bisa jawab” jawabku singkat. Senyum kecilnya mengembang dari balik jambangnya yang lebat. Aku tau malam ini dia ingin bercerita tentang suatu hal padaku, jika tidak mana mungkin ia tiba-tiba datang ke kamarku yang berada di lantai tertinggi Asrama Bumi ganesha ini. “Lw percaya takdir?” tanyanya kemudian. Sebenarnya ini merupakan pertanyaan yang tidak patut dijawab, bukan karena pertanyaannya yang aneh, namun pertanyaan ini sudah memiliki jawaban bahkan sebelum ia ditanyakan. Akhirnya di malam itu dia menceritakan sesuatu hal yang sudah lama kuterka. Ia tertarik kepada seorang wanita yang ia yakini sebagai jodohnya, hingga pada suatu ketika ia tau bahwa wanita tersebut telah di khitbah oleh kawan dekatnya. Meskipun aku belum pernah merasakan hal seperti itu, namun sakitnya mengalami peristiwa seperti itu agaknya dapat kupahami. “Sekarang, saat akhirnya hubungan mereka berdua berakhir, seakan Allah membukakan pintu untukku” lanjutnya dengan ekspresi bingung yang begitu kental di wajahnya. Suasana begitu hening saat ia melanjutkan cerita yang menjelaskan berbagai hal yang meyakinkan ia bahwa wanita itu adalah jodohnya.
























